
Ketika suatu masalah sudah dikatakan telah berakhir atau selesai, rasa khawatir dan takut itu akan perlahan menghilang, membuat perasaan menjadi lebih baik dan teduh. Namun ketika nyatanya masalah itu justru hanya hilang dalam waktu yang sementara, ketakutan akan itu akan meningkat 100 kali lebih parahnya.
Ada hal yang selalu membuat gadis manis ini sering larut dalam khayalannya, banyak waktu yang ia habiskan untuk sekadar berpikir ketika malam kembali larut. Matanya selalu menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan kelap kelip lampu tidur.
Terkadang gadis itu akan terbangun di tengah malam karena mimpinya yang tidak mengenakkan, setiap malam mimpinya tentang segala ancaman dan surat peringatan selalu menghampirinya, ia tidak bisa tenang meski itu hanya untuk beristirahat dimalam hari setelah letih seharian.
"Esya.... Astaga, kau kenapa masih menghayal di ruang kelas?"
"Apa kau memikirkan tentang surat misterius itu lagi? Kau tidak perlu khawatir, palingan itu hanya ulah orang iseng saja"
"Aku tidak memikirkan hal itu kok, Ve"
"Beneran? Tolong, jangan sembunyiin rasa takut kamu,Sya. Ingat masih ada kami semua"
"Iya, bener kok. Aku gak apa-apa, tidak perlu khawatir"
"Kalau begitu, mari kita pergi. Kau sudah lebih 2 jam duduk di ruang kelas"
Melsha dan Eve berjalan sembari menarik tangan Esya keluar dari ruangan kelas gadis berlesung pipi itu. Sejak tadi mereka sudah menunggu bahkan mencari Esya di tempat biasa namun gadis itu tak kunjung datang, siapa yang akan menyangka jika Esya justru sedang melamun di dalam ruangan.
"Hei, darimana saja kalian?"
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Bunny, jangan menghindari pertanyaan ku"
"Memangnya aku harus menjawab semua pertanyaanmu apa?"
"Yah, tidak juga sih"
"Kalau begitu, diam."
"Baik, jangan bicara padaku"
__ADS_1
"Baik, aku tidak akan bicara padamu.... Apa kalian ada yang melihat Leon?"
"Hei, apa-apaan pertanyaan mu itu?"
"Apa? Kau sendiri yang melarang aku berbicara denganmu,kan"
"Tapi maksudku tidak seperti itu, kau tidak harus berbicara dengan singa itu"
Melsha mengabaikan Angga. Gadis itu masih kesal karena sudah tiga kali Melsha membutuhkan pertolongan Angga namun lagi-lagi ponsel lelaki itu tidak dapat ia hubungi. Dan sepanjang Melsha membutuhkan pertolongan lelaki bernama Leon itu selalu saja dengan tidak sengaja berada di sana.
Menurut Melsha, Briand dan Leon adalah orang yang baik. Tapi ia tidak tahu mengapa Angga dan Evan melarang dirinya dan Esya untuk dekat dengan mereka. Katanya nanti perasaan mereka bisa saja berpaling, alasan yang memang tidak masuk di akal.
Terlebih lagi hubungan Esya dan Evan yang sudah berada dalam tahap perencanaan 0ertunangan, orang tua kedua pihak sudah pernah bertemu dan membicarakan soal itu namun karena masalah yang sedang terjadi, pertunangan mereka kian di undur sampai masalah tersebut terselesaikan.
"Ah, iya. Aku hampir lupa, Dion tadi mencari mu, Sya. Katanya setelah kelas selesai harus segera pulang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"
"Siapa, Gin?"
"Aku juga tidak tahu, kau cepatlah pulang"
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu"
"Berhati-hatilah di jalan, Evan jaga adik ipar ku"
"Baiklah- baiklah"
"Apa kau tidak berlebihan menganggap Esya sebagai adik ipar mu, Gin?"
"Meamangnya apa yang salah?"
"Ah, tidak. Lupakan saja"
Evan dan Esya segera pergi menuju ke Parkiran, kampus sekarang sudah sedikit sepi karena memang sudah banyak kelas yang selesai. Mereka berjalan sambil menikmati angin yang berhembus.
__ADS_1
Dari jauh, seseorang sedang mengawasi pergerakan mereka. Seseorang dengan tudung hitam yang menutupi kepalanya, ia tersenyum penuh sumringah. Evan menghentikan jalannya, ia segera berlari menuju ke arah mobil kesayangannya. Esya juga ikut berlari mengejar Evan.
"Apa yang terjadi?..... A-astaga siapa yang sudah berbuat seperti ini?" Kaget Esya
"Aku juga tidak tahu,Sya"
"Van, a-ku takut"
"Jangan takut, Sya. Ada aku kok. Kamu tenang yah, aku telpon orang dulu"
Evan merogoh sakunya dan mengambil benda pipih miliknya, ia mencari sebuah kontak dan segera menelpon nomor tersebut. Ia melirik ke arah Esya, tangannya memeluk tubuh mungil gadis itu. Ia mencoba untuk sebisa mungkin menenangkan Esya.
"Udah,yah. Sebentar lagi orang ku datang"
"Hiks... Sebenarnya ini ada apa Van?"
"Gak ada apa-apa kok, paling cuma orang iseng aja"
"Gak mungkin Van, orang iseng juga ngapain nulis kek gitu di kaca mobil kamu, ini pasti ada apa-apa"
"Enggak kok, percaya deh sama aku"
Evan beralih menyentuh puncak kepala Esya, menyapu lembut kepala gadis itu dan memberikan ciuman pada dahinya. Orang yang Evan hubungi tadi, sudah datang setelah agak lama mereka menunggu.
"Tuan, ada apa?"
"Segera cari tahu siapa yang berani mengotori mobilku"
"Baik tuan muda. Segera kami laksanakan"
"Sya, ayo naik ke mobil"
Esya dan Evan menaiki mobil yang tadi di kendarai oleh orang suruhan Evan. Esya kembali menghayal lagi, matanya hanya fokus ke luar jendela, tidak lama Esya akhirnya tertidur.
__ADS_1
Evan fokus menyetir dan tidak berniat untuk mengganggu Esya seperti biasanya. Ia masih penasaran dengan orang yang telah mengotori mobil kesayangannya dengan cairan merah yang yang dapat ia pastikan bahwa cairan tersebut adalah darah karena baunya yang menyengat.
Tbc