
Siang hari sekitar pukul 13.16 waktu setempat, Esya sedang berjalan di koridor kampusnya, kelasnya baru saja selesai 5 menit yang lalu. Ia berencana untuk mencari teman-temannya dan mengajak mereka untuk berkumpul di tempat biasa.
Udara hari ini begitu cerah, sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama. Sudah sejak tiga hari yang lalu, Esya tidak bertemu dengan teman-temannya karena tuntunan kakaknya yang begitu tidak bisa ia hindari.
Esya juga heran, karena belakangan ini penjagaan atas dirinya semakin di perketat bahkan ketika terdapat seseorang yang ingin berbicara dan memberikan sesuatu padanya, salah satu dari bodyguard itu akan datang dan memeriksa orang itu secara detail.
Dari belakang Esya, Briand terus saja memanggil namanya. Wajar saja jika gadis itu tidak dapat mendengarnya, kedua telinganya sedang tersumbat earphone, Esya belakangan ini sangat suka mendengarkan instrumen musik.
"Hoiz, Sya..."
"Esya..."
"Pantas aja gak dengar..."
Briand mencabut salah satu earphone yang tersumbat pada telinga Esya, hal itu dengan refleks membuat gadis itu kaget, ia mengarahkan pandangannya ke sebelah kanannya, mata mereka saling bertemu. Tatapan mata Esya, memancarkan ke penasaranannya sedangkan Briand yang melihat itu justru semakin kagum karena mata Esya yang terlihat sangat indah.
"Ada apa?"
"E-eh, ah tidak. Sepertinya kau sangat asik mendengarkan musik, sehingga kau mengabaikan panggilanku sejak tadi"
"Ah, maaf. Aku sama sekali tidak mendengarnya, volumenya terlalu besar"
Briand memandangi wajah Esya dengan intens, lalu menyamakan tinggi badannya. Ia tersenyum manis pada gadis itu, tangannya menyentuh puncak kepala Esya lalu dengan iseng mengacak-acak tatanan rambut Esya.
"Kau sangat manis, aku jadi gemas sendiri jadinya"
"Hush, lepasin gak. Kau mengacak rambut ku"
"Tak apa, kau masih tetap terlihat cantik meski dengan rambut yang berantakan"
"Kau menyebalkan, dasar"
"Hahaha, apa kau punya rencana sore ini?"
"A-ku sedang sibuk belakangan ini, kakak ku tidak akan membiarkan aku jauh dari pantauan mereka"
"Ayolah, Sya. Mengapa kau selalu menolak ajakan ku bahkan sebelum aku mengatakannya?"
"Aku serius, Bri. Aku sedang tidak bisa keluar, lain kali saja yah, aku benar-benar minta maaf"
"Aku menganggap ucapan mu sebagai janji,Sya. aku akan tagih lain kali, dan kau tidak ada alasan lagi untuk menolak ajakan ku"
__ADS_1
Esya tersenyum padanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ia hendak menuju ke arah dimana ia memarkirkan mobilnya tadi. Tampak dari kejauhan Gion sudah berdiri tepat di depan mobilnya, menggunakan kacamata dan memangku kedua tangannya.
Sekarang ini adalah giliran Gion untuk mengantar dan menjemput Esya karena kebetulan ia sedang tidak ada kelas dan Dion serta Kenned sedang ada kelas. Esya berlari kecil kearah Gion dan memeluk kakaknya dengan erat.
"Ada apa?" tanyanya, ada sedikit timbul rasa curiga didalam hati Gio pada adik satu-satunya itu.
"Enggak, aku pengen aja meluk kakak" jawab Esya yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kakak senang kalau kamu peluk, tapi hal ini justru semakin membuat kakak kepikiran" ucap Gio, lembut.
"Beneran kak, Esya baik-baik aja kok. Kakak gak usah khawatir"
"Kalau ada apa-apa walaupun itu hanya hal kecil aja tolong bilang sama kakak yah, jangan buat kami khawatir, princess"
"Iya kak, Esya pasti akan bilang sama kakak. Sekarang kita pulang yah, kak." ajak Esya
Gio menganggukkan kepalanya lalu membuka pintu mobil untuk Esya. Setelah semuanya siap, Gio segera mengemudikan mobilnya keluar dari area kampus, ia harus segera membawa adiknya itu kembali ke mansion, tempat yang menurut mereka aman.
"Hmn, kak kenapa belakangan ini penjagaan begitu di perketat? Aku bahkan tidak bisa bepergian."
Gion menoleh kearah Esya, sembako tersenyum lagi.
"Tapi kenapa mereka harus memeriksa setiap orang yang ingin berbicara denganku?"
"Kan kakak udah bilang, mereka sedang melakukan program pelatihan. Aku dan Ken sedang ingin merekrut anggota elit baru"
'tapi apa hubungannya, coba?' batin Esya
Ini kali pertama Esya mendengar ada program pelatihan seperti ini, bahkan itu untuk perekrutan anggota elit kemiliteran yang dan anggota elit di markas tersembunyi mereka.
"Kau tidak usah banyak pikiran,Sya. Jalani saja seperti biasa jika program pelatihan selesai semua akan kembali seperti semula"
"Baiklah kak, jika memang harus seperti itu"
Esya pasrah jika tidak mendapat jawaban dari kakaknya itu, namun bukan berarti ia berhenti untuk mencari jawaban. Ia akan terus mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan darinya. Bahkan para sahabatnya saja sudah berhenti mengajak untuk berkumpul seperti biasanya.
Lama perjalanan mereka habiskan dengan kesunyian, tidak ada satu hal pun yang mereka bahas setelah pembicaraan yang tadi, Esya memutuskan terus saja menatap keluar jendela mobil dan Gion fokus untuk menyetir kendaraan.
Gerbang itu terbuka, setelah Gio menekan klakson mobil. Mereka memasuki halaman mansion, memarkirkan mobil di tempatnya lalu keluar dari dalam kendaraan beroda empat itu. Esya lebih dulu berjalan di bandingkan Gio.
"Esya pulang"
__ADS_1
"Selamat datang, princess. Gimana kuliahnya hari ini?"
"Lancar Oma, bunda ada dimana?"
"Bunda mu baru aja keluar, katanya ada reuni kecil-kecilan bareng teman seangkatannya"
"Oh, yaudah Oma. Esya ke kamar dulu"
"Iya, sayang. Jangan lupa istirahat yah"
"Iya Oma"
Esya mencium masing-masing kedua pipi Omanya secara bergantian lalu kembali berjalan menuju ke arah anak tangga mansion. Ia terus berjalan sampai di depan pintu kamarnya yang bertulisan kan Queenesya.
Esya memasuki kamarnya, melempar tasnya ke sembarang arah lalu menjatuhkan dirinya di kasur Queen size miliknya. Ia menoleh kearah balkon kamarnya, terdapat sebuah kotak berwarna hitam disana.
Esya tidak ingat jika ia pernah memiliki sebuah kotak, terlebih lagi kotak berwarna hitam. Ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu menuju kearah balkon kamar.
"Kotak apa ini? Aku tidak ingat pernah memiliki kotak seperti ini, apa milik kak Gio yah?" tanyanya sendiri.
Esya mengambil kotak itu, memperhatikannya dengan lebih teliti lagi siapa tahu ada petunjuk yang dapat membuat ia mengingat sesuatu. Alisnya terangkat karena semakin bingung memikirkannya.
Ini bukan kotak miliknya...
Bukan pula kotak milik kakaknya...
Lalu...
Siapa pemilik kotak ini?....
Keluarganya tidak pernah memiliki kotak hitam ini, bagaimana bisa kotak itu berada di balkon kamarnya padahal sudah jelas ketika ia pergi ke kampus tadi, kamarnya ia kunci dan kunci cadangannya ada di brangkas milik Opanya.
Esya membuka kotak itu dan betapa kagetnya ia ketika melihat tubuh seekor ayam yang bercucuran darah segar didalamnya. Di dalam kotak itu terdapat pula secarik kertas yang sudah berubah warna.
Esya membaca isi kertas itu, "A game will start soon, have fun" ucapnya dengan tangan yang sudah bergetar. Kotak itu terjatuh ke lantai bersamaan dengan secarik kertas yang ia baca tadi
"Aaaa,kakak!!!" teriaknya sambil menutupi bawahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tbc
__ADS_1