
Satu bulan pun berlalu, Hubungan Esya dan Evan semakin dekat tanpa gangguan dari Gion. Lelaki itu sepertinya sudah bosan mengganggu Evan seperti biasanya. Ia juga sedang di sibukkan dengan persaingan cintanya sendiri.
Zee adalah gadis yang sudah berhasil mencuri hati Gion, pada awalnya ia juga tidak percaya. Gadis yang selalu tidak sepemikiran dengannya itu mampu membuatnya bisa hilang fokus. Pikirannya dipenuhi dengan tingkah Zee ketika berargumen bersamanya.
Awalnya Gion mencoba dekat dengan Zee untuk mengetahui perasaannya, apakah ia menyayangi Zee selayaknya adik, atau lebih dari itu. Ia menyayangi Zee seperti layaknya perasaan antara laki-laki terhadap gadisnya. Semuanya terjawab tiga Minggu yang lalu.
Kecemburuannya terhadap kedekatan Zee dengan seorang lelaki yang tak ia ketahui identitasnya, membuatnya sadar dengan perasaannya sendiri. Menyebalkan jika harus jujur pada dunia, namun Gion mengakuinya. Ia ingin terus menjaga Zee dan menjadi pelindung gadis itu.
Hari ini seperti biasanya, Gion menghampiri kamar adiknya. Ia selalu bertanya mengenai Zee jika ia tak melihat Zee seharian, Esya sendiri mengerti dengan situasi yang sedang di alami oleh kakaknya.
"Sya...."
"Ya, kak."
"Boleh, kakak masuk?"
"Masuk saja kak, aku juga sedang tidak ada kerjaan."
"Baiklah"
Gion memasuki kamar Esya, ia melihat adiknya sedang asik dengan ponselnya. Gion duduk ditepi ranjang milik Esya.
"Ada apa kak? Tentang Zee lagi?"
"Hnm..."
"Kakak itu harus berani, seperti Evan. Dia selalu saja terus terang"
"Apa aku harus?"
"Kakak mau Zee jadi kakak iparnya orang lain apa?"
"Eeh, gak gitu."
"Kalau begitu, kakak pergi dan jujur sama Zee. Aku bukan mamanya Zee yang harus mantau kegiatannya kak"
"Oh, yaudah dek. Kalau gitu kakak pergi dulu, maaf udah ganggu"
Esya mengehentikan permainan di ponselnya, dan dengan sigap menarik tangan Gion.
"Kakak mau kemana?"
"Mau ke rumah Zee."
"Ih, kakak lupa hari ini adalah hari apa?"
__ADS_1
"Hari ragukan?"
"Ih, bukan."
"Terus?"
"Hari ini itu, hari keberangkatan kak Alvi dan opa Gilbert, kan tiga hari yang lalu udah di bicarakan kak. Apa kakak Lupa?"
"Enggak kok. Aku mana lupa sih, Sya."
"Beneran?"
"Iya, Sya. Kalau gitu, kakak ke kamar dulu yah."
Gion keluar dari kamar Esya dan segera menuju kamarnya, ia memang harus segera bertindak. Jika perlu ia harus lebih dulu dari lelaki yang dekat dengan Zee, baru-baru ini. Gion dan Esya akan bersiap lebih dulu, mereka akan pergi mengantar Alvi dan Opa Gilbert yang akan berangkat ke New York sore ini.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu, Esya ingin mengantar Alvi, meski hanya berpamitan di bandara saja. karena lelaki itu akan menetap di New York, dalam jangka waktu yang lama. Berhubung karena kesehatan dari Opa Gilbert sudah membaik, Alvi memutuskan untuk mengambil ahli beberapa saham milik mereka yang sekiranya masih bisa ia kembangkan lagi.
Setelah selesai bersiap, Esya keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Gion yang sedang memainkan kunci mobil miliknya. Dion dan Ken sedang memiliki beberapa urusan penting belakangan ini.
"Ayo kak, kita pergi sekarang."
"Ya udah, ayo."
Gion merangkul bahu Esya, sembari berjalan menuju mobil. Security yang ditugaskan untuk menjaga mansion, tersenyum melihat kedekatan antara kakak beradik itu. Ia bersiap untuk membuka pintu gerbang mansion, agar tuan/nona mudanya bisa keluar.
Di perjalanan mereka, selagi Gion fokus menyetir Esya sibuk mendengarkan musik melalui earphone miliknya. Ia mengingat kembali sebentar lagi waktunya akan tiba, dimana ia meluncurkan desain properti terbaru miliknya. Mungkin mulai besok, Esya akan mulai sibuk lagi karena mengurus hal tersebut.
Setibanya mereka di bandara, tepat di area parkir sudah ada Alvi dan Opa Gilbert yang menunggu. Mereka akan pergi menggunakan jet pribadi milik Vondrienty.
"Apa kalian akan segera berangkat?"
"Tentu, aku hanya tinggal berpamitan dengan gadis manis ini."
"Huhm, Kak Alvi. Berjanjilah bahwa kau akan segera kembali, dan semoga opa selalu dalam keadaan sehat," ucap Esya sembari memeluk Opa Gilbert.
"Terima kasih,princess. Kau juga harus jaga kesehatan yah, semoga pertunanganmu berjalan dengan lancar nantinya."
"Terima kasih Opa."
"Kalau begitu sepertinya sudah waktunya kami berangkat, ayo Alvi"
"Baik Opa... Sya..."
"Hnm!?"
__ADS_1
Cup
Alvi mencium kening Esya sebagai tanda perpisahan mereka. Gion kesal melihat hal itu, Meksi hanya kening, tetap saja pemilik kening itu adalah adiknya sendiri.
"Kau..."
"Haha, baiklah kalau begitu kami pergi dulu."
"Sampai jumpa lagi, Sya"
Esya melambaikan tangannya pada Alvi yang sudah semakin menjauh. Gion memeluk pinggang Esya dan segera membawa adiknya itu pergi dari sini.
"Sekarang kita akan kemana?"
"Makan gimana kak? Mumpung cuma berdua."
"Ah, benar katamu. Aku akan membuat kedua orang itu kesal nantinya, ini bisa dikatakan sebagai pembalasan pada hari itu."
"Ayo kak, aku punya tempat yang bagus loh."
"Haha, baiklah. Apa kau mau menyetir?"
"Tidak, hari ini kakak aja. Aku lagi malas."
Esya dan Gion masuk ke dalam mobil, mereka keluar dari area bandara, ditengah perjalanan Esya melihat sebuah mobil yang tidak asing untuknya. Mobil itu terparkir tepat didepan sebuah cafe, tidak salah itu memang mobil Zee.
"Eh, kak. Berhenti dulu."
"Ada apa sih?"
"Mundur dikit kak, aku seperti liat mobil Zee. Bagaimana kalau kita mengintai saja untuk hari ini?"
"Apa kau serius? Tapi, sepertinya asik juga."
Setelah memarkirkan mobil, Esya dan Gion memasuki cafe tersebut dan memilih duduk di salah satu meja yang jaraknya agak jauh dari meja Zee. Di sana Zee sedang mengobrol dengan seorang cowok, yang sepertinya umurnya tidak terlalu jauh dari Zee.
"Hei kak, apa dia orangnya?"
"Hnm, sebenarnya mereka ada hubungan apa? Aku sama sekali tidak tau kalau Zee punya teman lain selain kami bertiga."
"Kenapa kakak tidak langsung tanya saja padanya?"
"Hei, itu mana mungkin Sya."
"Yah, dimungkinkan aja kak. Mereka juga sepertinya hanya teman biasa."
__ADS_1
Gion terus mengawasi meja Zee, ia bahkan sudah tidak sadar dengan makanan yang dipesan oleh Esya. Zee dan cowok itu terlihat sangat dekat, setau Gion keduanya baru saja berkenalan, tapi sekarang sudah sangat terlihat dekat seperti ini. Zee bahkan tertawa dan sesekali tersenyum pada orang ada di depannya.