QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 91 Darkness is ....


__ADS_3

Ruangan itu selalu gelap, seseorang itu sepertinya tak menyukai cahaya, ia berteman dengan kegelapan sudah sejak bertahun-tahun yang lalu, mengikuti jejak keluarganya yang tersisa karena suatu insiden menyedihkan yang telah menewaskan seluruh anggota keluarganya, kecuali dirinya.


Beberapa orang bersatu dengannya untuk menyusun segala rencana untuk membalas dendam atas nama keluarganya. Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu ia mencoba menyusun dan mengamati pergerakan keluarga tersebut. Sejak ia menemukan sebuah kotak kayu di bawah gudang rumahnya.


Orang-orang terkadang menyebutnya sebagai the Dark Night seorang kesatria hitam yang hanya hidup di malam hadir dan menghilang ketika pagi hari tiba. Tidak ada seorangpun yang bisa menemukannya dibalik gelapnya malam maupun terangnya siang.


Ia yang terus mengawasi dan mengontrol segala sesuatu dari kegelapan, kehidupannya hanyalah ada dua hal bertahan hidup dan Balas dendam. Kehidupan keras yang ia jalani selama bertahun-tahun membuatnya semakin memantapkan dirinya untuk melakukan hal tersebut. Ia sejak tadi sudah berjalan kesana kemari sambil mengamati beberapa komputer yang menampakkan pergerakan beberapa orang disana.


"Mereka berbahagia, sedangkan aku menderita. Ini tidak adil bukan?" tanyanya pada sekitar.


"Aku mencoba bertahan selama ini, bersembunyi di balik gelapnya malam dan terangnya siang...."


"Pak tua itu, harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan.....hahaha....aku tidak sabar memulai permainan"


Ia membuka sebuah kotak yang ada di atas meja didalam ruangan tersebut. Tirai itu selalu ia biarkan dan tak pernah ia sentuh. Ia membuka kotak kayu itu dan mengambil selembar photo dari sana, ia meremas lembaran itu dengan membuangnya ke sembarang arah.


"Arght... Sialan" geramnya lalu mengambil sebuah tas hitam, tak lupa jaket dengan lambang dark di punggungnya.


Ia keluar dari sebuah rumah, mengambil sebuah kunci di kantung Jeansnya dan menyalakan kendaraannya dan segera menuju ke suatu tempat.


Setelah tiba di sebuah universitas ia memarkirkan kendaraannya lalu  berjalan di koridor dengan tatapan dingin dan sorot mata yang tajam, orang-orang disekitar selalu berbisik tentangnya setiap saat, padahal ia belum lama menjadi bagian dari universitas tersebut.


Dari jauh ia menatap tajam kearah seorang gadis yang sedang tertawa bersama dengan teman-temannya. Ia terus mengamati pergerakan  gadis tersebut, bersembunyi ditempat yang aman adalah keahlian besarnya.


"Kau sedang apa di situ, Bim" ucap seseorang dari belakangnya


Ia berbalik dan menatap ke arah sumber, "Tak ada, apa yang kau lakukan disini?, Bukannya kau ada kelas!?" tanyanya, sembari terpaksa tersenyum


"Haha, aku tak sengaja melihatmu disini seperti seperti seorang penguntit" jawabnya lalu memukul pundak Bima dengan pelan.


"Kau harus lebih sering tersenyum, wajahmu kaku sekali sobat para gadis tidak akan menyukaimu jika seperti itu terus"


"Kau mau mati?!" Geramnya, lelaki ini sangat tidak suka diganggu dan orang dihadapannya ini selalu saja mengganggunya, dan ia harus selalu berpura-pura selama berada di luar.

__ADS_1


"Santai sobat, aku hanya ingin menghibur susana hatimu"


Bimantara adalah nama pria itu, bukan nama asli namun hanya sebatas nama samaran. Ia memiliki banyak identitas yang membuat orang-orang sulit untuk menemukan dirinya.


Begitulah ia menjalani setiap rutinitas siangnya


Menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas, mengamati setiap gerak-gerik dari anggota termuda sebuah keluarga tersorot dan sedikit bermain-main dengan mereka.


"Sial, aku kehilangan mereka"


"Ada apa? Kehilangan apa? Kau sangat aneh"


"Diam lah, ini semua karena ulah mu"


"Apa salahku!?"


Bima pergi dari sana, meninggalkan Leon, ia tidak akan bisa menjalankan rencananya jika lelaki itu terus saja mengikutinya. Leon adalah orang yang ia temui seminggu yang lalu saat melakukan registrasi pindah kuliah.


"Hei, tunggu aku dasar payah. Hidupmu terlalu sepi sehingga tidak memiliki relasi dengan orang lain apa, entah apa yang dirasakan orang tuamu selama ini, membesarkan seorang anak yang kurang....."


Leon diam, lelaki dihadapannya itu memiliki tempramen yang buruk. Jika ingin membandingkan, maka Leon akan lebih memberi nilai tambah pada Briand sahabatnya, setidaknya lelaki itu masih bisa di ajak bercanda ketimbang dengan lelaki yang baru saja ia kenal seminggu yang lalu.


"Yasudah, baiklah aku diam. Selamat tinggal lebih baik aku pergi mencari Briand, dia jauh lebih baik darimu"


"Pergilah, dan jangan ganggu aku"


Leon pergi, meninggalkan Bima. Ia sangat kesal karena bisa bertemu dengan makhluk seperti Bima, seorang lelaki yang misterius dan aneh menurutnya. Ia hanya ingin bercanda sedikit dengan lelaki itu namun responnya sungguh diluar pikiran Leon.


Sejak seminggu yang lalu, Leon sudah mengawasi Bima. Ketika pertemuan pertama mereka semuanya berjalan lancar, sikap Bima juga terlihat ramah namun setelah seminggu ia tahu bahwa penilaian awalnya sangat melenceng jauh. Ia juga sering memergoki Bima, menatap kearah Esya dan kakak-kakaknya dengan tatapan yang sulit ia artikan namun memiliki maksud terselubung.


Leon berjalan terus, disepanjang koridor. Ia bergegas ingin memasuki ruang kelasnya dan mencari sahabatnya itu, guna menceritakan pengalamannya belakangan ini. Tepat di dekat pintu ia berpapasan dengan Evan yang juga ingin memasuki kelas.


"Briand...." ucapnya agak keras

__ADS_1


"Berhentilah berteriak, kupingku masih normal"


Evan mengabaikan mereka, dan berencana untuk mengambil ranselnya. Namun karena percakapan diantara keduanya sedikit menarik perhatiannya, ia mengurungkan niatnya untuk segera pergi dan duduk mendengarkan.


"Apa kau tahu, mahasiswa pindahan yang aku cerita tempo hari itu, dia benar-benar misterius dan aneh"


"Bukankah sudah pernah aku katakan agar tidak mencari masalah, aku selalu kena jika kau mendapat masalah lagi"


"Aku tahu, tapi aku sangat serius. Dia selalu saja menatap kearah Esya dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti, kau sudah beberapa kali memergokinya"


"Sebenarnya apa tujuan dia, dia baru saja pindah di kota ini bukan, tidak mungkin dia mengenal Esya kan?"


"Itulah, yang aku pikirkan belakangan meskipun kita tidak dekat dengan mereka apa salahnya jika berteman baik"


Evan berdiri dan langsung keluar dari ruang kelas, setelah mendengar percakapan Leon dan Briand. Pergerakan Evan tentu saja menjadi perhatian tersendiri untuk Briand, terutama mengingat ajakannya yang lagi-lagi di tolak oleh Esya membuatnya semakin yakin.


"Jangan-jangan benar"


"Apanya?"


"Ah, tidak. Ini bukan masalah besar aku hanya menafsirkannya saja"


"Hnm..."


"Apa kau bisa terus mengawasinya, aku punya firasat buruk tentangnya"


"Hnm, baiklah tapi mobil sport mu jadi milikku. Ingat, tidak ada yang gratis di dunia ini"


"Baiklah-baiklah kau bisa memilihnya nanti kalau semuanya sudah selesai"


"Kau serius kan, aku akan pegang ucapan mu itu"


"Hnm...."

__ADS_1


Briand mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang, Leon memandang keluar jendela menikmati hembusan angin, hari ini langit cerah sangat cocok untuk menghabiskan waktu di pinggir kolam renang dan menikmati secangkir capuccino hangat.


Tbc


__ADS_2