QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 105 Sudah siuman


__ADS_3

Jam tepat menunjuk pukul 00.00 waktu setempat, Dion,Gion dan Ken baru saja tiba di bawah perbukitan tempat monumen Hollywood itu berada. Mereka turun dari mobil, dan mulai memperhatikan sekitarnya, Disini tidak ada satu bangunanpun yang bisa menjadi target mereka. Udara yang dingin menembus permukaan kulit mereka yang hanya menggunakan Kaos saja.


"Apa kau yakin disini?"


"Ya, setiap aku mencoba melacak keberadaannya titik pada GPS-nya selalu berakhir disini"


"Tapi disini tidak ada satupun bangunan, masa ia di tempat seperti ini ada pintu rahasia"


"Benar dan sekarang kita harus mencari pintu itu"


"Kau jangan bercanda, Gio. Ini menyangkut princess"


"Aku tahu, dan karena itulah kita harus bergegas"


"Kalian berdua berhenti sekarang dan mulailah mencari"


"Tapi apa yang bisa di temukan di bebatuan, dan rerumputan ini?" tanya Ken kepada dirinya sendiri karena kedua saudaranya sudah lebih dulu memulai.


Ken mulai ikut mencari, mereka memeriksa setiap sudut dari tempat itu. Selama mereka masih fokus pada kerjaan masing-masing, Evan, Angga, Briand dan Leon baru saja tiba di sana, mereka turun dari mobil dan mulai ikut mencari.


Ken yang sadar dengan kehadiran Leon sedikit mengumpat dalam hatinya, siang tadi ia dan Leon sudah terjerat pertengkaran kecil karena memperebutkan Eve dan Eve yang sudah kerah dengan keduanya lantas meninggalkan keduanya dan menjadi tontonan di kampus.


Dari sebuah sudut, agak tersembunyi terdapat CCTV yang senantiasa mengamati pergerakan mereka. Yah, CCTV itu tersambung ke sebuah ruangan yang ada di dalamnya, Alvian sudah sejak tadi tidak bosan mengamati pergerakan Gion dan yang lainnya setelah memastikan bahwa Esya tidak menyentuh gelang dan ponsel miliknya.


"Hei, mengapa tidak langsung menemui kakak saja?"


"Tidak perlu, biarkan mereka menghabiskan tenaganya dulu"


"Tapi kan..."


"Sudah, sebaiknya kau tidur saja. Aku masih mau bermain-main dengan mereka sedikit"


"Kalau begitu, baiklah"


Esya pergi dari sana dan kembali ke dalam kamar yang akan ia tempati. Alvian tersenyum, lalu kembali fokus pada layar di depannya. Setelah ia mengecek tidak ada satupun dokumen kematian kakeknya yang benar, itu artinya benar yang dikatakan oleh Esya tadi, Opanya kemungkinan masih hidup.

__ADS_1


Esya yang sudah berada di dalam ruang kamar, berbaring sambil memandangi langit-langit ruangan itu. Ia tidak menyangka jika Alvian menculiknya hanya untukย  menjadi umpan saja, lalu untuk apa ia mengirim teror-teror kemarin?


Jujur saja Esya tidak tahu dan tentu saja tidak ingin tahu, awalnya ia memang merasa agak takut karena tiba-tiba berada di ruangan yang gelap dengan tangan yang terikat di kursi dan mengapung di udarah dengan Besi sebagai pengikatnya, namun yang penting ia berada di posisi aman sekarang. Membantu Alvian bertemu Opa Gilbert dan sekalian mengerjai ketiga kakaknya.


"Apa aku tidak berlebihan,yah?" tanyanya sendiri


"Hah, sudahlah. Aku tinggal menggunakan jurus pamungkas nanti"


Esya menutup matanya dan mencoba untuk tidur. Di sisi lain dari tempat itu Opa Robert dan Opa Hans sedang berjalan dengan terburu-buru memasuki gedung putih. Mereka baru saja menerima kabar bahwa Opa Gilbert sudah siuman dari Komanya.


Kedua pria paruh baya itu, kini memasuki ruangan dimana Opa Gilbert di rawat selama ini, setelah selesai mengganti pakaian mereka. Mereka melihat Opa Gilbert sedang memasang ke arah jendela.


"Apa kau sudah mulai baikan?"


"Berapa lama aku, tidak sadarkan diri?"


"Sudah Dua belas tahun. Kau tidur lama sekali, apakah kau bermimpi indah?"


"Sudah selama itu, yah? Bagaimana dengan anak dan Cucu ku? Alvi pasti sudah tumbuh dewasa sekarang"


"Maksudmu?"


"Mungkin dia salah paham tentang kami yang datang menyelamatkan kalian saat kejadian itu terjadi"


"Belakangan ini, dia juga sering meneror cucu perempuan ku"


"Apa!? dimana dia sekarang? Tolong bawa aku untuk menemuinya"


"Dion dan yang lainnya sedang mencari keberadaannya, jika mereka sudah menemukan Alvi aku pasti akan membawamu kesana".


Sebenarnya untuk sekarang ini tubuh Opa Gilbert masih sangat lemah, ia berbicara dengan sangat pelan dan sekujur tubuhnya masih sulit untuk ia gerakkan akibat tidurnya yang berkepanjangan.


Opa Robert mengecek ponselnya yang baru saja menerima notifikasi, ada sebuah pesan berupa video dari nomor yang tidak ia kenal. Opa Robert video itu dan melihat apa isinya. Ternyata itu adalah video dimana di dalamnya terlihat Esya yang sedang meronta-ronta meminta kebebasan. Tangan Esya terikat dan mulutnya di sumbat oleh kain, gadis itu menangis berharap ada seseorang yang datang menolongnya.


"Sial, Esya sudah ada di tangan Alvi"

__ADS_1


"Apa?! Lalu dimana Dion?"


"Mereka pasti masih mencari posisi Alvi"


"Al, apa yang terjadi padamu selama ini. Maafkan Opa yang tidak bisa berada di sisimu, melewati setiap masa pertumbuhan mu"


"Tenanglah, Bert. Semua pasti akan baik-baik saja"


"Tapi bagaimana dengan....."


"Dia juga pasti akan baik-baik saja. Aku yakin itu, lagipula ini juga kali pertamanya Alvi melakukan hal ini, aku berkata seperti itu karena segala hal yang ia lakukan selalu meninggalkan jejak. Aku hanya tidak ingin memberitahu hal itu pada Gion dkk.a"


"Ck, kau memang rubah yang licik,Hans"


"Kau tau, Rob.... Aku senang melihat mereka melakukan banyak usaha keras seperti ini...."


"Aku tidak sabar melihat akhirnya, pasti menarik"


"Jangan katakan padaku kalau kau sudah mengantur ini sejak awal?"


"Baik, tidak akan aku katakan. Lagi pula kau sudah tahu jawabannya"


"Kau ini benar-benar....aku hampir saja syok melihat Esya menderita seperti ini" kata opa Robert sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Sebenarnya ini ada apa?"


"Nanti kau juga akan tahu sendiri, jadi beristirahatlah sekarang ini sudah sangat larut"


Opa Hans berjalan mendekati jendela ruangan itu,dan memandang keluar. Bibirnya mengukir senyum, karena apa yang diam-diam ia kerjakan bisa berjalan dengan lancar. Yah, hal ini hanyalah sebuah permainan kecil antara dirinya dan ketiga cucu laki-lakinya.


Tbc


Alurnya makin gak jelaskan yah? Jujur author lagi kehabisan inspirasi ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Maaf yah Readers ๐Ÿ™๐Ÿ˜ข

__ADS_1


__ADS_2