QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 60 Satu Bulan


__ADS_3

Semilir angin yang berhembus membuat gadis itu kian menikmatinya. Apa lagi yang menyenangkan selain bersantai di halaman belakang mansion sembari menikmati secangkir teh dan kuaci di sore hari.


Melsha sangat menyukai waktu santai seperti ini. Gadis itu selalu melakukan rutinitasnya jika dirasa tidak ada kerjaan lain, ia kadang kala mengambil ponselnya berharap jika dilayar ponselnya itu terdapat kabar dari Angga atau kabar mengenai perkembangan Esya.


Sudah hampir sebulan sejak keberangkatan Esya ke Singapura, dan itu artinya sudah hampir sebulan juga Melsha menjadi siswa baru di QHS. setiap harinya, gadis itu tidak akan berhenti menanyakan keadaan Esya kepada ketiga lelaki yang adalah kakak Esya sendiri.


Dan jawaban yang selalu ia dapatkan hanya berupah senyum tipis dari wajah Gion dan Kenned. Sedangkan Dion, lelaki itu kembali pada sifat awalnya irit ngomong, datar, Dingin bahkan lebih sering mengunci diri dikamar dengan ponsel yang selalu menemaninya 24 jam non stop.


Gadis itu menghembuskan napas pelan sembari tersenyum simpul, 'Aku harap kau segera pulih Sya' batin Melsha menutup mata sambil memanjatkan harapannya.


Tidak beberapa lama Melsha memejamkan matanya, telinganya mendengar derap langkah kaki serta suara berupa ejekan yang terus saja di lontarkan untuk Angga, kekasihnya.


"Sampai sekarang aku masih tidak percaya jika kau adalah kekasih Melsha" ucap Zee


"Astaga, sudah sekian banyak kali aku mengatakan hal itu, kau masih belum percaya!?"


"Tentu saja, tampangmu itu seperti remaja kuper"


"Oh, astaga. Sudahlah, masa bodoh denganmu. dasar jones"


Angga menghampiri Melsha yang masih menghayal sembari menatap awan putih di langit, begitu menenangkan dan mampu membuatnya sedikit tersenyum, mempercayai bahwa semuanya akan baik-baik saja.


'Aku harap kita bisa seperti dulu, Sya. Semua pasti akan kembali baik' batin Melsha, sembari menutup kedua matanya. Tanpa menyadari bahwa sudah ada Angga tepat di depannya bersama dengan Zee, mereka baru saja berniat ingin berkumpul untuk membahas beberapa hal. Sayangnya beberapa dari mereka terlihat sedang sibuk.


Eve dan Ginta sedang ada urusan keluarga, Orion masih saja tidak ingin meninggalkan sepupunya itu yang selalu mengurung diri dikamar mansion. Evan, lelaki itu selalu saja terlihat tidak memiliki semangat hidup dan Orion tidak bisa membiarkan hal itu terjadi terus menerus.


"Kelihatannya keberangkatan Esya memberi dampak yang besar bagi semuanya" ucap Angga yang membuat Melsha otomatis membuka matanya, menatap lelaki yang begitu ia rindukan belakangan ini.


"Kau sudah kembali, sayang!?" tanya Melsha dengan nada sendunya


"Hn, apa ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi!?" tanya Angga yang hanya mendapat gelengan dari gadisnya itu.


Melsha mengalihkan pandangannya pada Zee, ia baru sadar jika Kekasihnya itu tidak datang sendiri melainkan bersama dengan sahabatnya. "Kau juga berada disini Zee!?" ucapnya pada gadis cantik yang sudah mengambil tempat tepat tak jauh dari hadapannya

__ADS_1


"Yah, aku merasa sedikit bosan." ucap Zee


"Sama. Aku juga merasa bosan belakangan ini" ucap Melsha, tidak bersemangat


Lama terdiam, Angga akhirnya angkat bicara. "Apa ada kabar dari Esya!?" tanya Angga memecah keheningan yang sedang terjadi diantara mereka bertiga


"Aku tidak tahu, Kak Dion dan saudaranya tidak memberikan info apapun" jawab Melsha mengingat kembali beberapa kali ia bertanya pada mereka dan sama sekali tidak mendapatkan respon.


"Evan juga semakin terlihat berbeda belakangan ini. Ia seperti tidak memiliki semangat hidup" ucap Zee prihatin dengan kondisi temannya itu.


"Apa kalian ingin tau, mengapa Evan terlihat seperti orang bodoh belakangan ini!?" ucap Angga, mengingat kembali kelakuan Evan yang terlihat bodoh dimatanya.


"Kau tau alasannya, Bunny!?" tanya Melsha pada sang kekasih yang sudah tersenyum sumringah


"Tentu saja. Secara aku adalah sahabatnya"


"Kalau begitu cepat katakan" ucap Zee mulai penasaran.


"Pantas saja." ucap Melsha dan Zee bersamaan.


Angga mengambil tempat duduknya tidak jauh dari Melsha, memandang wajah gadisnya itu lekat membuatnya sedikit tersenyum meskipun dalam hatinya ia juga tidak henti-hentinya memikirkan keadaan Evan, sahabat malangnya itu


Sedangkan Zee, justru lebih menghawatirkan keadaan ketiga lelaki Vondrienty itu. Terlebih kondisi Gion, ia sudah mengenal bagaimana lelaki yang adalah teman masa kecilnya itu. Gion selalu menyembunyikan perasaannya dengan senyum dan tingkah lakunya yang sering kali membuat mereka sedikit kesal dengan kejahilan kecil yang dilakukan oleh Gion. Lelaki itu begitu pandai menyembunyikan perasaannya di balik ekspresi tidak seperti Dion yang terang-terangan begitu terlihat dari perubahan sifatnya.


🌺 Queenesya🌺


Ketiga remaja laki-laki itu sedang berkumpul di ruang keluarga. Dengan menatap ketiga ponsel yang ada di meja ruangan itu, entah sudah berapa lama mereka berada disana. Terdiam dalam kesunyian tanpa suara sedikitpun.


Sudah sejak sebulan yang lalu mereka tidak bertemu dengan Esya. Rasa rindunya begitu besar pada gadis manis itu, semua ini karena kesibukan yang terus saja melanda hari-hari mereka setiap weekend.


Pada hari biasa mereka di sibukkan dengan sekolah lalu pada akhir Minggu mereka harus di sibukkan dengan setumpuk dokumen, untung saja masih ada Aunty Sasha dan Uncle Andreas yang membantu keduanya.


Sedangkan untuk Kenned sendiri harus disibukkan dengan markas besar milik Ayahnya itu. Entah sejak kapan Andreas sudah memerintahkan Kenned untuk memimpin organisasi milik keluarga dan mau tidak mau, meskipun terlihat membosankan Kenned tetap melaksanakan perintah sang ayah.

__ADS_1


"Kenapa bunda dan ayah belum menghubungi kita!?" ucap Gion kesal, terkadang setiap 1 jam sekali mereka akan mendapatkan telpon dari orang tua mereka mengenai perkembangan kesehatan Esya, tetapi sekarang ini bahkan sudah hampir 4 jam mereka belum mendapatkan kabar lagi.


Terakhir kali kabar yang mereka dengar cukup membuat senyum mereka sedikit mekar. Kondisi tubuh Esya sudah sedikit membaik meskipun sampai sekarang adiknya itu sama sekali belum terbangun.


"Entahlah. Apa terjadi sesuatu disana!?" ucap Dion mulai menepis pikirannya itu. Jujur saja ia juga merasa khawatir karena belum mendapat kabar dari keluarganya disana.


"Jangan berpikiran yang aneh. Esya pasti baik-baik saja" ucap Kenned berusaha menghibur kedua saudara sepupunya itu.


Aunty Sasha menghampiri ketiga remaja itu sambil membawa nampan berisikan cemilan untuk ketiganya. "Ada apa dengan kalian bertiga?" tanya Aunty Sasha pada mereka karena me dapati ketiga wajah yang sedang ditekuk


"Aunty punya kabar untuk kalian" ucap aunty Sasha lagi, yang mampu membuat ketiganya langsung mengalihkan pandangannya


"Kabar apa Mi!?" tanya Kenned


"Tadi kak Melan telpon katanya Esya sudah memperlihatkan sedikit tanda" ucapnya


"Kenapa bunda tidak menghubungi kami!?" tanya Dion


"Sepertinya tadi mereka terlihat terburu-buru"


Ketiga lelaki itu hanya tersenyum kecil namun didalam hati mereka begitu senang karena mendapat kabar yang begitu Baik seperti tadi.


"Aku merindukan dia" ucap Gion


"Aku juga" ucap Dion dan Ken bersamaan


"Apa kita harus memberi kabar ini pada mereka!?" tanya Ken pada keduanya


"Jangan dulu, ini belum saatnya" ucap Dion, yang mendapat tatapan dari kedua saudaranya itu seolah-olah ingin bertanya 'kenapa!?'.


"Aku ingin melihat kesungguhan seseorang" ucap Dion lagi


Ken dan Gion mengerti arah pembicaraan Dion sekarang dan hal itu memang harus terjadi, demi untuk kebaikan dan kebahagiaan adiknya kelak. Mereka harus memastikan apakah dia memang pantas untuk mengejar Esya.

__ADS_1


__ADS_2