
Gion mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponselnya, dan sesekali memijat pelipisnya untuk sedikit mengurangi rasa pusingnya. Sudah hampir sejam ia melakukan kegiatannya itu, tanpa mengecek jam. Dion dan Kenned sudah jenuh melihat kegiatan gelagat saudaranya itu.
"Bisakah kau duduk dulu, kepalaku pusing karena ulahmu" kata Dion padanya, Gio memberikan pelototan mata pada saudara setahunnya itu.
"Apa kau tidak khawatir pada princess, ini sudah malam dan dia belum kembali juga"
Ucapnya
"Ayolah,Gio. Princess itu sudah dewasa, lagipula di sekelilingnya ada banyak pengawal bukan!" Seru Ken, lalu menyeduh capuccino miliknya.
"Dewasa katamu!? Coba tunjukan bagian mana dari princess yang memancarkan kedewasaan selain penampilan dan tinggi badannya yang hanya bertambah sedikit" ucap Gion dengan nada yang agak meninggi.
Gion heran dengan kedua saudaranya ini, apa mereka tidak khawatir Esya keluar bersama dengan Evan. Apa disini hanya dirinya yang terlalu berlebihan?, Tapi memang tidak ada salahnya jika seorang kakak mengkhawatirkan adiknya kan?!
Bayangkan saja ketika Gion pulang tadi, bukan adiknya Esya yang keluar dari dalam pintu kemudi melainkan seorang pria berpakaian serba hitam. Belum lagi ketika pria itu berkata "Nona sedang pergi bersama tuan muda"
Siapa yang tidak khawatir coba, terlebih lagi ponsel keduanya sama sekali tidak dapat di hubungi, teman-teman Esya juga tidak tahu kemana Evan membawa adik manisnya itu pergi.
Suara mobil menghancurkan segala pemikiran Gion, ia segera berlari keluar dari mansion dan menatap kearah mobil hitam yang baru saja memasuki halaman. Dari dalam mobil itu muncullah Esya yang menunduk takut, lalu disusul oleh Evan yang tersenyum meremehkan tepat kearah Gion berada.
"Kau baik-baik saja kan Princess, sini coba kakak periksa" ucapnya lalu berlari kearah Esya.
Gion memutar balik tubuh Esya, mencoba untuk mencari tahu apakah ada sesuatu yang berbeda dari adiknya itu. Terakhir matanya lama menatap kearah wajah adiknya, meneliti lebih fokus pada setiap inchi di wajah cantik Esya.
"Ada apa dengan Bibirmu? Mengapa agak bengkak?"
Deg
Esya sedikit gelagapan, ia semakin menundukkan kepalanya takut menatap wajah kakaknya ini. Tadi sebelum mereka pulang, Evan kembali melumat bibirnya agak lama dari sebelumnya sampai membuatnya hampir kekurangan oksigen.
__ADS_1
Gio beralih memicingkan matanya tepst kearah Evan, seolah ingin segera menendang lelaki itu keluar dari pekarangan mansion mereka.
"Berani macam-macam!? Awas saja kau" sinis Gion padanya. Evan mulai gelagapan, seperti Esya. Ini salahnya karena terlalu berlebihan tadi.
"K-kak ini bukan salah Evan kok, tadi aku gak sengaja nabrak tiang di jalan" bohong Esya.
'maaf kak' batin Esya lanjut berkata.
"Princess, gak bohong kan?" tanya Gio memastikan, masalahnya sejak tadi sore firasatnya sudah tidak enak, maka dari itu ia semakin khawatir ketika Esya tidak ada di mansion.
"E-enggak kok, beneran deh kak" katanya, Gion mencoba mencari kebohongan dari adiknya ini dan tentu saja ia bisa dengan gampang mengetahuinya. Karena Esya bukan tipe gadis yang pandai berbohong.
"Princess bohongkan?! Kakak sangat mengenal bagaimana kamu. Apa perlu kakak nyuruh orang buat selidiki hal ini" tatap Gio tajam tepat pada mata Esya, membuat gadis itu meneguk salivanya berat.
"B-benar kok" ucapnya kaku
Gio beralih menatap semakin tajam kearah Evan, ia tahu ada sesuatu yang sudah terjadi diantara keduanya. Gion melangkah semakin mendekat kearah lelaki itu, masih dengan sorot mata yang sama, rahangnya sedikit mulai mengeras.
Evan Memang sering berargumen dengan Gion, tapi melihat sifat lain dari lelaki yang berada tepat di hadapannya ini, membuatnya sedikit berusaha menurunkan keberaniannya. Gio terlihat seram dengan ekspresi sekarang, meskipun lebih seram Dion jika kalian berani membangunkan singa yang lapar.
Ini memang kali pertamanya Evan mengantar Esya selarut ini, kemarin-kemarin mereka hanya akan pergi ketika hari menjelang weekend. Itupun ia memiliki keharusan untuk mengantar Esya tepat sebelum matahari terbenam.
Gion kembali berbalik arah dan menatap tepat kearah Esya. Lagi-lagi yang harus Esya lakukan hanya menunduk kepala tidak berani menatap mata kakaknya itu, ia tahu jika ia salah karena tidak memberitahu Gion dulu bahwa ia akan pulang terlambat karena keluar bersama Evan.
Esya juga tahu, seberapa murkanya kakaknya jika sampai mengetahui bahwa bibirnya sudah tidak suci lagi, yang paling ia takutkan adalah Dion. Kakaknya yang satu itu, Memnag terlihat santai dan tidak seperti Gion. Tetapi, jika kakak pertamanya itu marah, maka habislah ia pasti akan segera di kunci dan di beri larangan untuk keluar selama sebulan penuh.
Sedangkan kakak sepupunya itu, pasti akan kembali mengeluh dan memarahi Gion yang selalu memanjakan dirinya. Esya memang dekat dengan ketiga kakaknya, tetapi dari ketiganya ia lebih dekat dengan Gion karena Gion selalu menuruti apapun yang ia mau.
"Ada apa ini?" suara itu membuat Esya dengan spontan berlari dan menyembunyikan diri di belakang tubuh Dion.
__ADS_1
"Kamu kenapa princess?" tanya Dion lagi, Esya menggeleng dan semakin menyembunyikan dirinya.
"Gio, apa yang sudah kau lakukan padanya?" Kata Dion lagi, lalu beralih menatap kearah Evan, lalu ia mengangkat satu alisnya.
"Apa yang masih kau lakukan disini? Pulang sana" kata Gio, setelah kembali menatap Evan yang sudah mati-matian menahan kekesalannya.
"Gio, kau belum menjawab pertanyaan ku. apa yang sudah kau lakukan pada princess?"
"Sudah, biarkan princess istirahat dulu baru kita membicarakan hal ini bertiga. Evan, kau bisa pulang lebih dulu. Terima kasih karena sudah mengantarnya" kata Ken mencoba menetralkan keadaan kembali.
Esya berjalan memasuki mansion dan langsung menuju ke arah kamarnya, mansion terlihat sepi karena hanya ada mereka bertiga dan maid, entah dimana Bunda dan Aunty berada sekarang.
"Kalau begitu aku pulang dulu" pamit Evan pada mereka, lalu ia kembali memasuki mobilnya dan kembali mengemudi menjauh dari mansion tersebut. Tinggallah ketiga lelaki itu di sana, mereka saling diam sebelum akhirnya Dion menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang tadi.
"Aku khawatir padanya, bibirnya terlihat bengkak tadi. jadi kupikir Evan sudah berbuat yang tidak-tidak pada Princess."
"Ck, princess itu sudah dewasa. Sudah waktunya juga dia untuk menjalin hubungan dengan seorang lelaki"
"Tak masalah, yang penting orang itu bisa menjaga Princess kita...."
"Dan orang yang tepat untuk itu adalah Evan"
"Apa kau yakin, Dio?"
"Tentu, kita sudah mengenalnya cukup lama. Selain itu aku dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari sinar matanya."
"Tapi...."
"Sudahlah, sebaiknya kita lihat saja bagaimana Evan kedepannya. Ku dengar dia menjadi mahasiswa terpopuler di fakultasnya"
__ADS_1
"Hah, sudahlah. Sebaiknya aku kembali ke kamar dan istirahat" Gio melewati kedua saudaranya itu dan masuk kedalam mansion, ia memang merasa agak lelah sekarang. Mungkin karena, ia harus memasang ekspresi seperti tadi di hadapan adik kesayangannya itu.
Oh tahukah kalian, bahwa di hati kecil Gion sebenarnya tidak tegaan pada gadis manis itu, adik kecilnya itu masih sangat polos di matanya sehingga kekhawatirannya selalu bermunculan setiap saat ketika ia tidak mendapati Esya berada di mansion.