
Alarm berwarna silver itu berbunyi, membuat remaja laki-laki itu terpaksa harus terbangun dari tidurnya. Di kuceknya kedua matanya yang terlihat masih lelah, sebelum akhirnya dengan spontan lelaki itu melompat dari ranjang berukuran king size itu.
"Astaga, sial...sial...sial..." gerutu lelaki itu
Dengan cepat ia mengambil jaketnya serta kunci mobilnya. Berjalan keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa menuju kamar yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari lokasi ia berada.
Sekarang jam baru menunjukkan pukul 07.45 Am waktu setempat. Dibukanya pintu ruangan itu, namun ia tidak menemukan seorangpun didalamnya.
Sekarang ia berjalan berbalik menuju arah tangga, hendak ingin untuk segera pergi. Ia tidak lagi peduli dengan sepupunya itu, yang jelas ia harus segera menyelamatkan gadis manis yang sudah mencuri hatinya Tiu.
"Steve, kau mau kemana pagi-pagi seperti ini" ucap lelaki yang sedang membawa sepiring spaghetti hasil karyanya.
"Orion...Mengapa kau tidak membangunkan aku"
"Untuk apa aku harus membangunkan mu!? Kau saja belum menceritakan hal kemarin"
"Sudahlah, kau jaga mansion saja. Aku pergi dulu"
Dengan cepat Evan segera beranjak pergi dari sana, meninggalkan Orion yang masih saja terus memanggil namanya meminta penjelasan mengenai keterburu-buruannya kemarin untuk segera kembali pulang ke LA.
Evan kemarin menerima pesan singkat dari Gion untuk berkumpul di mansion Zee pada jam 07.00 Am untuk rencana penyelamatan Esya hari ini. Dan sekarang dirinya sudah terlambat selama 45 menit lamanya.
Tidak butuh waktu lama bagi Evan untuk tiba di mansion Zee karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh dari mansion miliknya. Evan membunyikan klakson mobil Ferrari miliknya, sebagai kode untuk satpam yang berjaga di gerbang masuk agar segera membukakan jalan untuknya.
Brum...Brum...Brum...
Suara mobil Evan memecah keheningan didalam ruang keluarga Zee. Dimana tadinya mereka semua sudah menunggu kedatangan lelaki Inggris itu, sebelum Dion,Gion dan Kenned memilih untuk lebih dulu pergi karena firasat buruk yang dirasakan oleh Gio sejak pagi buta tadi.
Sudah sejak pagi tadi Gion begitu tidak tenang, Gion begitu takut jika firasatnya pagi tadi menjadi kenyataan. terlebih ketika malamnya Esya sampai masuk kedalam mimpinya menggunakan dress serba putih dan sepertinya ingin menyampaikan sebuah kata perpisahan.
Dion yang memang mengetahui seberapa benar firasat sang kembarannya itu juga tidak tinggal diam, ia sangat tahu seberapa besar kemungkinan firasat Gion akan terjadi. Maka dari itu mereka berdua memutuskan untuk lebih dulu pergi ke bukit Hollywood tanpa menunggu kedatangan Evan karena ini menyangkut keselamatan nyawa Esya sendiri.
Sedangkan Kenned sudah sejak kemarin malam ia bersama dengan uncle andreas yang notabenenya adalah ayahnya sendiri yang juga merupakan pemimpin dari organisasi mafia terbesar dan terkeji yang merupakan musuh dari black shadow untuk menyiapkan pasukan demi penjagaan kalau-kalau nanti ada penyerangan secara tiba-tiba oleh pihak musuh.
"Hosh...hosh...hosh..." Evan mulai mengatur napasnya agar kembali teratur sebelum membuka pintu utama mansion itu.
Brakkk....
Suara pintu yang dibuka dengan tidak sabaran mampu menyita perhatian semua orang yang ada di sana.
"Ayo cepat,tunggu apa lag...." Evan menghentikan ucapannya melihat didalam mansion hanya ada Zee dkk.a yang sudah begitu kuatir
"Mereka sudah lebih dulu berangkat" ucap Ginta yang pertama kali menyadari kedatangan Evan.
__ADS_1
"Cepatlah menyusul mereka...hiks... Dan bawa Esya kembali dengan selamat... Hiks" ucap Eve dalam tangisnya, ia begitu sangat kuatir dengan kondisi Esya saat ini.
"Apa lagi yang kau tunggu!?" ucap Zee yang tidak tahan dengan tingkah Evan yang hanya diam mematung.
Zee juga sebenarnya agak kesal dengan keputusan kedua anak kembar itu, bisa-bisanya mereka mengatakan agar para gadis tetap berada di mansion demi keamanan bersama. Padahal mereka juga tau kalau Zee dkk.a juga bisa beladiri.
Selepas Evan tersadar dari lamunannya ia langsung bergegas menuju kendaraannya untuk segera menyusul kedua remaja kembar itu, karena yang Evan ketahui jarak dari mansion Zee menuju bukit itu bisa memakan waktu selama kurang lebih 2 jam tanpa kemacetan.
"Shit..." Evan memukul setir mobilnya ketika mendapati jalanan yang dipenuhi oleh segala jenis kendaraan beroda.
Jika seperti ini dirinya akan benar-benar terlambat, mana kontak milik Dion sejak tadi tidak pernah bisa ia hubungi. Evan tidak mengetahui tentang nasib buruk yang telah menimpah ponsel Dion.
Alhasil Evan memutuskan untuk mencari kontak milik Gion. Meskipun sejujurnya ia sama sekali tidak memiliki niat untuk berbicara sedikitpun dengan lelaki itu. Karena hanya Gion yang selalu mengganggu proses pendekatan dirinya pada Esya dulu.
Trrtt...Trrtt...
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada diluar jangkauan..." Suara operator seluler dari seberang sana membuat Evan semakin kesal sejadi-jadinya
"Sial..."
Sekarang Evan sudah benar-benar terjebak didalam zona kemacetan. Dirinya tidak mungkin menelpon paman Abercio untuk menolongnya sekarang karena Evan cukup mengerti seberapa lelah pria itu mengemudikan jet kemarin. Terlebih dengan cuaca yang sedikit tidak mendukung.
🌺Queenesya🌺
Bahkan sekarang perut Esya sudah mulai
Nyerih, ia benar-benar sudah tidak bisamenahannya lagi. Dari balik pondok kecil itu Esya samar-samar masih bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat padanya sebelum kesadarannya perlahan mulai memudar.
Gadis itu berjalan menuju arah dimana Esya sudah terbaring. Di samping kiri dan kanannya sudah ada kedua temannya yang selalu siap menemaninya. Tak lupa dibelakang ketiga gadis itu ada dua pria berbadan kekar yang sudah siap melaksanakan kehendak sang nona besar.
"Apa kau serius ingin melakukannya?" Tanya Clara pada gadis yang sedang tersenyum sumringah di sampingnya itu
"Coba pikirkan lagi Aurel, jangan sampai karena rencana mu ini justru menghancurkan kehidupan kita" tambah Becca yang sepemikiran dengan Clara
"Tenang saja. Tidak akan ada yang terjadi, memangnya siapa yang akan membuat hidup kita hancur!?, Gadis malang ini sudah tidak memiliki sanak saudara bahkan keluarga sejak awal" ucap Aurel yang masih tetap pada rencananya.
"Yasudah kami tidak ingin ikut campur lagi, ayo Clara. Aku tidak ingin mencari Maslaah dengan keluarga Dion" ucap Becca yang ingin segera pergi dari sini
"Oh,jadi ada penghianat disini? Kau lupa apa yang akan terjadi dengan bisnis keluarga mu nantinya"
"Aku sudah tidak peduli dengan hal itu, ayo Clara kita pergi" ucap Becca sambil menarik tangan Clara yang sejak tadi hanya diam.
"Maaf Aurel, aku juga tidak ingin masuk kedalam masalah" ucap Clara sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
"Sial...aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kalian berdua cepat bawa gadis ini kedalam mobil dan jangan sampai lepas"
Kedua pria itu mulai menjalankan perintah dari Aurel dengan cepat dan gesitnya mereka segera menghampiri tubuh mungil itu, salah seorang dari mereka menyadari suatu hal dari kondisi Esya saat ini
"Nona, gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Sepertinya dia pingsan karena kelaparan"
"Aku tidak perduli, cepat lakukan perintahku jika tidak aku akan mengadu pada uncle Sehan atas ketidak Patuhan mu"
"Ba-ik nona"
Dengan langsung kedua pria dewasa itu mengangkat tubuh Esya lalu berjalan keluar dari pondok kumuh itu menuju sebuah mobil yang sudah mereka sediakan pagi tadi.
Disisi lain, ketika Becca dan Clara sudah memilih untuk pulang dan tidak ikut campur dengan ide gila Aurel mereka berdua tidak sengaja berpapasan dengan kendaraan milik Dion.
Dengan cepat Becca yang kebetulan menyetir langsung saja mengklakson kendaraannya sebagai tanda agar kendaraan milik Dion menghentikan lajunya.
Ia harus segera memberitahu Gion tentang rencana yang sedang dilakukan oleh Aurel. Setelah dirasa mobil itu sudah berhenti Becca membuka kaca mobilnya, menarik napasnya sebentar agar perasaannya sedikit tenang.
"Cepat selamatkan Esya, nyawa dia sedang dalam bahaya" teriak Becca dengan suara agak keras.
"Cepat mereka berada di puncak bukit di dekat pondok tua" teriak Clara
Kedua lelaki yang masih bingung dengan sikap kedua gadis itu masih melongo seperti meminta penjelasan lebih. Karena pada awalnya sifat kedua gadis diseberang sana Tidak ada bedanya dengan Aurel
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepatlah pergi dan selamatkan Esya. Aurel berencana untuk membunuh Esya hari ini juga"
"Apa!!!. Dasar cewek gila Dimana Esya sekarang!?"
"Sepertinya ia sudah berada di dalam mobil hitam yang remnya sudah di rusak sebelumnya"
"Cepatlah pergi. Semoga kalian belum terlambat"
Brum..Brum...Brum...
Dengan kecepatan penuh Dion sekarang sudah semakin melajukan kendaraanya. Kedua remaja kembar itu sekarang sudah benar-benar semakin risau dengan keadaan Esya sekarang ini.
Terlebih mengingat firasat Gion pagi tadi semakin membuat mereka semua ketakutan. Meski hasil tes lab belum berada di tangan mereka namun kedua remaja ini sudah benar-benar yakin jika Esya adalah adik kandung mereka yang sudah lama hilang.
Perasaan yang mereka rasakan itu bukan hanya kebetulan semata. Mereka bisa merasakan hal yang sama karena ikatan batin mereka sebagai saudara. Bukan hanya mereka berdua bahkan bunda Melan dan ayah Yohan juga turut merasakan hal itu.
"Tuhan tolong lindungilah adikku" ucap kedua remaja lelaki itu dalam hati mereka secara bersamaan.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama kendaraan yang mereka tumpangi sudah hampir mendekati puncak bukit itu. Dapat mereka lihat disekitar pepohonan itu terdapat orang-orang suruhan uncle Andreas sudah memantau keadaan sejak tadi.