
Pada sore harinya, Esya memiliki rencana bersama dengan teman-temanya untuk membicarakan tentang kejutan ulang tahun Zee yang tinggal seminggu lagi. ada banyak hal yang harus mereka persiapkan agar segalanya nanti berjalan dengan lancar.
Langit sore adalah waktu yang pas untuk membicarakan ini. Esya dan Evan baru saja tiba di mansion Vondrienty. mereka berdua sedang menunggu di halaman belakang. Teman-teman gadis Esya akan terlambat datang karena harus mencari alasan yang pas untuk Zee.
Gion yang memang sudah dapat kabar lebih dulu dari adiknya, juga sedang mencoba untuk mengajak Zee jalan-jalan dan melakukan kesibukan lain selama satu Minggu kedepannya.
"Jadi kita mulai dari bagian mana dulu?"
"Dekorasinya aja dulu."
"Kenapa gak langsung kejutannya aja?"
"Enggak, maksud aku itu dekor buat lokasinya nanti."
"Buat lokasi itu udah di urus sama kak Gion."
"Jadi sekarang kita kebagian buat ngurus yang mana?"
"Gak tau kak Gion, katanya ditunggu aja perintah dari dia."
Benar, ketika Esya mengatakan pada Gion rencanannya ini. Kakak keduanya itu malah mengatakan kalau semuanya akan ia yang urus karena memang Gion. sudah sangat mengenal Zee. Gion punya rencana sendiri untuk kejutan ulang tahun gadis itu. Tentu saja meskipun begitu, Gion juga butuh sedikit bantuan.
"Apa rencana kak Gion?"
"Kak Gio belum bilang, tapi mungkin di hari itu akan ada yang jadian."
"Maksud kamu, kak Gio mau nembak Zee tepat di hari ulangtahunnya?"
"Ini baru tebakan aku doang tapi gak tau juga kita lihat saja nanti."
Kalau itu benar-benar terjadi maka hari itu akan menjadi hari yang membahagiakan untuk Zee, Orang tua yang ia rindukan pulang dan pernyataan cinta dari pemuda yang sudah sejak lama ia sukai. Tentu, hari itu akan menjadi hari terbaik Zee, gadis itu pasti tidak akan menyangka.
"Baiklah, kalau begitu kita harus bekerja keras."
"Benar, kita harus melakukan yang terbaik."
"iya, semangat...."
"Hahaha, kalian terlalu berlebihan."
"Apa katamu, gagak? ini semua untuk sahabat kami."
"Hei, santai saja."
Selagi mereka berkumpul di halaman belakang mansion, dan bercerita ria. tanpa disadari dua tamu datang ke mansion Vondrienty, keduanya langsung menuju ke halaman belakang mansion setelah bertanya pada Security.
"Hai semua, maaf kami terlambat." suara salah satu pemuda itu membuat mereka menoleh.
"Hei, kalian sangat terlambat tahu," Angga berbicara.
__ADS_1
"Maaf, tadi macet dan kami masih memiliki beberapa urusan lain." Kali ini Leon, sambil melirik ke Eve.
Blush...
Pipi gadis itu mulai memerah, malu.
"Tidak apa, kalian pasti lelah. duduklah dulu," perintah Esya.
Evan meminum minuman miliknya sampai tuntas, pemuda ini kembali mengingat kejadian pagi tadi. pemuda yang duduk tidak jauh darinya itu juga menatap dirinya dengan senyum meremehkan. Ia tahu sebenarnya apa yang akan terjadi.
Briand teman masa kecilnya sekaligus rival abadinya sedang menantang dirinya lagi dalam hal ini. Briand ingin kembali mengganggu Evan seperti saat mereka kecil dulu, karena Evan adalah orang yang tidak suka kekalahan. Pertarungan mereka sekarang bukan tentang Esya, tapi tentang siapa yang paling baik dalam bekerja.
"Bri, apa kau serius mendaftar sebagai penanggung jawab di kantor ku?"
.
"Tentu saja, yang kemarin itu masih produk baru kan jadi harus butuh banyak ketelitian dalam setiap aspek. aku dan Leon akan membantu."
"Wah, terima kasih. aku tidak menyangka kalian memiliki bakat dalam bidang ini."
"Yah, sejak dulu kami memang sudah biasa."
"Sya, aku dan Angga juga akan membantu dalam pengawasan."
"Hei... kalau bicara di pikirin dulu, sejak kapan aku bilang mau bantu?"
"Sudah, kau ikut aku saja."
"Iya, Sya. tenang aja, aku bisa kok."
"Terima kasih, Van, Ga."
Esya tersenyum manis pada Evan. oh, astaga dengan demikian jantung Evan pun kembali berdetak kencang. Gadis yang sedang tersenyum itu sudah mampu membuatnya seperti ini. Ia bahkan tidak tahu apa yang ada di diri Esya sehingga ia begitu mengagumi gadis ini.
Baginya, saat Esya tersenyum atau tertawa perasaannya menjadi tenang, dan tentu saja dengan tiba-tiba dirinya juga akan ikut tersenyum meskipun sebenarnya apa yang membuat Esya tertawa hanya terlihat sangat biasa di matanya.
Ditempat lain.
Gion dan Zee sedang berada di mall, mereka baru saja selesai menonton film di bioskop. sekarang ini mereka akan menuju ke restoran Jepang yang ada di mall tersebut, hari ini sudah siang dan sudah waktunya makan.
Gion menggenggam tangan Zee, ada rasa nyaman yang muncul dalam perasaan mereka. setelah tiba Gion langsung memesan makanan, ia sudah tau pasti apa yang di sukai oleh Zee. berasa agak canggung memang, karena ini kali pertama mereka pergi berdua.
"Gio, kenapa hari ini ajak aku keluar? tumben banget gak seperti biasanya."
"Gak apa. lagi pengen aja, perasaan kamu gimana sekarang?"
"Udah membaik, makasih."
"Iya, gak usah berterima kasih, ini udah jadi tugas aku."
__ADS_1
"Eh, apa?"
""Enggak, abaikan saja."
Kecanggungan kembali terjadi diantara mereka. Zee tau pasti kalau Esya sahabatnya sudah cerita ke Gion dan Gion datang pasti untuk menghibur dirinya agar jadi lebih baik. Zee tersenyum setidaknya ia masih di kelilingi oleh kasih sayang dari teman-temannya.
"Habis ini kita kemana?"
"Terserah kamu aja. aku juga gak ada janji sama yang lain."
"Yaudah, nanti ikut aku aja yuk."
"Boleh deh. tapi, kok rasanya hari ini aneh banget ya?"
"Aneh gimana maksud kamu?"
"Gak biasanya grup aku sepi. mereka pada kemana yah?"
"Lagi pada sibuk mungkin. kamu makan aja, setelah itu kita pergi."
Zee dan Gion melanjutkan makan mereka. setelah selesai Gion mengajak Zee ke tempat terakhir mereka hari ini, Taman Hiburan. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka main kesini.
"Jadi mau naik mana dulu?"
"Bianglala aja, terus nanti lanjut roller coaster terus..."
"Hah, serius mau naik roller coaster? gak ada yang lain?"
.
"Ya, kenapa? jangan bilang kamu masih takut."
"Ih, siapa yang takut. seorang Gion. takut? hahaha..."
"Ya udah, kalau gitu buktiin. aku akan beli tiketnya dulu."
Zee pergi meninggalkan Gion yang masih ada di pintu masuk. Gion menyiapkan mentalnya untuk beberapa jam kedepan. ia tak apa menaiki wahan lain yang penting bukan roller coaster dan sejenisnya yang harus menguji adrenalin.
"Zee, tungguin."
"Cepat, ini aku udah beli. kita akan mencoba semua wahananya."
"Hah, kamu beneran serius?"
"Iya, jarang loh kita bisa ke taman hiburan. sekarang kita naik bianglala dulu, terus lanjut ke Roller coaster dan lalu...."
"Hah, aku menyesal ajak kamu kesini..."
"Yang salah siapa?"
__ADS_1
"Hmn... sudahlah."
Cukup sudah, untuk sekarang Gion hanya bisa pasrah. ia melihat kumpulan tiket yang sudah di beli oleh Zee. semuanya adalah wahana yang tentu saja akan membuat pencernaan Gion Mual seharian. Benar-benar tidak disangkah olehnya, ternyata Zee masih belum berubah sama sekali.