QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 27 Jalan-jalan


__ADS_3


Sunset Boulevard merupakan salah satu tempat wisata yang memiliki banyak kebun buah, selain itu tempat ini adalah yang paling cocok untuk bersantai. Ah dan jangan sampai lupa untuk melewatkan Sunset yang begitu indah.


Sore ini, keenam remaja itu telah memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar, setelah tadinya Gion dan Ken memulai argumennya lagi untuk memilih tempat, akhirnya Dion yang memutuskan lokasinya dan tentu saja dengan bantuan Esya dan teman-temannya.


Sekarang Esya sedang kebingungan memilih pakaian yang telah di sediakan oleh Dion tadi, entah dari mana Dion menemukannya, bahkan ukuran sepatunyapun bisa diketahuinya.


"Sudah belum Sya?"


"Sebentar lagi Gint"


"Yasudah, kami tunggu di ruang keluarga"


"Baiklah"


Sekarang Esya harus mulai memilih lagi, mana yang akan dia gunakan pasalnya semua pakaian ini berada didalam bentuk Dress dan Esya tidak biasa menggunakannya.


Matanya mulai tertuju pada sebuah dress Putih yang panjangnya berada di atas lutut. Dengan penuh sabar, Esya mengambil dress itu lalu menggunakannya.


Setelah selesai mengenai masalah pakaian, Esya tanpa pikir lagi ia menggunakan sepatu sneaker putih yang senada dengan pakaiannya. Rambutnya ia biarkan terurai dengan tambahan jepit bunga berwarna putih yang menghiasi rambutnya, wajahnya hanya dilapisi oleh bedak bayi dan tentunya dengan pelembab pada bibirnya itu.


Sekarang Esya mulai berjalan keluar ruangan menuju ruang keluarga dimana keenam sahabatnya itu berada. Setelah tiba di sana, seluruh mata sudah memandangi dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Apa aku terlihat aneh?" tanya Esya


Mereka hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak pada Esya, yang sekarang sudah menatap balik mereka sambil menaikkan sebelah alisnya. Sadar akan hal itu, merekapun mengakhiri lamunannya.


"Tidak, namun sebaliknya kau sangat terlihat cantik," ucap Ken yang mewakili semuanya

__ADS_1


Esya menundukkan kepalanya, pertanda bahwa ia sedang malu. Karena ini pertama kalinya ia akan keluar dengan penampilan yang berbeda, terlebih lagi sekarang ia tidak menggunakan Softlens seperti biasanya.


"Terima kasih kak," ucap Esya yang kemudian disusul dengan senyum manisnya.


"Ayo berangkat"


Kini mereka mulai berjalan menuju kendaraan yang akan mereka gunakan bersama. Mereka memutuskan untuk menggunakan dua mobil Lamborghini dengan Gion dan Zee sebagai pengemudinya.


"Mau balapan?" Tawar Zee pada Gion


"Tidak"


"Kau takut yah?"


"Tidak juga"


"Lalu?" Tanya Zee yang masih menunggu jawaban dari seberang sana.


Suara mobil itupun mulai menyadarkan lamunan Zee, dengan cepat Zee mulai menjalankan mobilnya, mengejar mobil Gion yang sudah lebih dulu pergi mendahuluinya.


"Sial,awas kau." Umpatnya entah pada siapa.


Sedangkan ketiga gadis yang lain hanya memandang Zee dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, kecuali Esya yang memiliki pandangan seolah-olah kagum pada sosok gadis yang sedang menyetir mobil.


Sekitar 15 menit kemudian, mereka telah sampai di tempat yang ingin mereka kunjungi. Di depan, mobil mereka sudah ada mobil Gion, dengan


Ketiga lelaki yang sudah bertengger di pintu.


"Kalian lama," Ucap Ken.

__ADS_1


"Heh, beda ssmenit saja ngeyel." Ucap Eve


"Sudahlah ayo."


Dion menggenggam tangan Esya, lalu mulai meninggalkan ke-5 remaja itu yang masih saja berargumen tidak jelas di tempat umum seperti ini. Mengabaikan tatapan disekitar, Esya hanya menundukkan kepalanya, malu karena seluru tatapan tertuju pada dirinya dan juga Dion.


Belum lama mereka berjalan, dibelakang mereka sudah ada Gion dan Ken, beserta ketiga gadis remaja lainnya, yang kini sedang asik bercerita dan bercanda gurau. Berbeda dengan kedua lelaki yang masih saja mengumpat pada Dion karena membawa Esya pergi.


Sekarang mereka sedang mencari tempat untuk bisa mereka duduki, sekaligus tempat yang pas buat nikmati sunset sore ini. Setelah menemukan tempat yang pas, mereka akhirnyapun bersantai. Dengan posisi Dion bersama Esya, lalu Zee,Ginta dan Eve, terakhir Gion dan Ken yang hanya saling pandang tidak percaya.


"Kenapa aku harus bersamamu?"


"Kenapa juga aku bersamamu?"


"Arght...aku tidak percaya bisa jadi orang-orang itu akan mengatakan bahwa aku homo"


Mendengar ucapan yang diutarakan oleh Ken, Gion langsung mengalihkan pandangannya keseluru penjuru di sekitar lingkungan itu, dan benar saja hanya merekalah satu-satunya yang sepasang lelaki.


Banyak pandang mata yang tertuju pada mereka berdua, pandangan yang sulit untuk mereka artikan satu persatu. Gion menatap Ken dengan mata yang terbuka lebar sambil menjauhkan jarak mereka.


"Menjauhlah dariku kentang goreng"


"Dasar muka Copas"


Sambil menjauhkan dirinya dari Gion, padahal yang sedari tadi terus mendekat kearahnya adalah dia. Namun kali ini sebaiknya Ken mengalah saja, karena sekarang ia sedang begitu bosan untuk meladeni sepupunya itu.


Mata Ken tertuju pada gadis manis, yang berada di samping Dion sedang tersenyum bahagia, mengamati gelembung-gelembung yang sedari tadi mengarah pada dirinya. Setiap gelembung itu mendekat Esya akan langsung menyentuhnya hingga gelembung itupun pecah.


"Apa kau senang"

__ADS_1


"Ah,iya. Terima kasih kak." Ucap Esya dengan senyumnya yang diberikan pada Dion


Ken yang melihat itupun hanya tersenyum bahagia, jika memang benar Esya adalah adik kandung dari Dion dan Gion, tentu saja Ken juga akan dengan segenap hati menyayangi Esya seperti adik kandungnya sendiri.


__ADS_2