QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 43 UKS


__ADS_3

Pagi hari yang indah, Esya berjalan menuju kelasnya dengan sedikit terburu-buru. Beberapa menit yang lalu mereka baru tiba di sekolah, dan jangan tanya pada gadis itu sekarang sudah jam berapa karena intinya Esya terlambat untuk hari ini. Kemarin malam Dion dkk.a mengajak Esya untuk pergi menonton salah satu film aksi terbaru di bioskop yang jaraknya agak jauh dari mansion. Setelah nonton mereka lanjut lagi menuju taman dimana biasanya banyak lampu yang berkedip indah sebagai pelengkap suasana disana dengan kolam air yang tak kalah indahnya pula.


"Hum..." gumam Esya menarik napasnya berat, berjalan jauh dari parkiran hingga ke kelasnya itu sungguh melelahkan, meskipun ini bukan kali pertamanya Esya melakukannya tapi yang satu ini berbeda Esya sedang dalam keadaan yang sedikit lelah. Kemarin dia terlalu banyak kegiatan dan kurang tidur tidak seperti biasanya


Esya berhenti didepan pintu kelas itu menarik napasnya panjang untuk menenangkan dirinya yang sedang tidak percaya diri, karena ini adalah kali pertamanya ia telat ke sekolah, pagi tadi Esya harus menunggu ketiga lelaki itu bersiap karena seperti biasanya Esya selalu berangkat dan pulang bersama mereka.


Tok...tok...tok...


Setelah yakin dengan hasil ketukan yang Esya ciptakan pada pintu itu, salah satu tangan Esya meraih gang pintu itu, menarik napasnya lagi sebelum membuka dan memasuki ruang kelas itu. Ketika pintu telah terbuka Esya mendapat tatapan dari semuanya terlebih oleh Mr anton guru bidang kesenian di sekolah, yang terkenal akan sikap tegasnya pada semua anak didiknya.


"Terlambat 15menit,hm..." Ucap Mr Anton sambil memainkan penggaris panjang yang selama ini setia menemaninya


"Ma-af Mr, saya terlam-bat" ucap Esya dengan sedikit gugup


"Baiklah, sekarang keluar dari kelas saya dan berdiri di tengah lapangan" ucap Mr Anton dengan penuh penekanan


"Ba-ik Mr"


"Baik kita lanjutkan lagi pelajarannya jadi didalam seni 3D itu..." Ucap Mr Anton melanjutkan pelajaran yang tertunda tadi.


Dari kursi belakang ruangan itu, Evan masih menatap punggung Esya yang akan hendak melangkah keluar kelas. Entah mengapa sejak pagi tadi, dirinya seperti memiliki firasat buruk yang akan terjadi pada gadis pujaannya itu. Belum lagi ketika bayangan samar kejadian itu tiba-tiba muncul di hadapannya seperti kasur tancap membuat dirinya semakin kuatir. Evan dapat dikatakan memiliki sedikit kemampuan istimewa yang ia dapat dari sang kakek. Kemampuannya ini muncul sehari sebelum kematian sang kakek 5 tahun lalu, dan karena kemampuan inilah Evan sedikit tidak tenang karena penglihatannya itu.


đź’–Queenesyađź’–


Sekitar Pukul 11.30 waktu setempat bel sekolah yang menandakan bahwa waktu istirahat sudah dimulai, ketiga gadis remaja itu keluar dari ruang kelas yang agak membosankan itu, berjalan dengan kuatir seperti hari-hari kemarin dimana ketika Esya tidak bersama dengan mereka gadis malang itu mendapat sesuatu yang kurang mengenakan dari Aurel dkk.a seperti keadaan 3 hari yang lalu, dimana Eve mendapati keadaan Esya yang basah kuyup di dalam toilet dengan sedikit lebam di wajah.


"Aduh, Esya mana sih?" Ucap Eve mencari keberadaan sahabatnya itu


"Seharusnya dia masih ada disekitar lapangan ini bukan" jawab Zee


"Kau benar, seharusnya dia ada disekitar sini" ucap Ginta menyetujui perkataan Zee


Mereka masih saja terus mencari sosok Esya dengan menatap sekeliling mereka bahkan sekarang ini ketiga gadis itu sudah mulai berjalan mengelilingi lapangan untuk bisa menemukan sahabatnya itu


"Oii... Bakpao" ucap Gion memanggil Zee yang tak jauh dari hadapan mereka


"Dasar batu" gerutu Zee tidak terima dengan julukan tersebut. Ia akui dulu memang dirinya ini memiliki badan yang gemuk tapi itu ketika masih berumur 9 tahun, sekarang sudah berbeda, tubuh Zee kini sudah bagus dan proporsional pula.

__ADS_1


"Dimana Esya?" Tanya Dion karena tidak melihat Esya bersama dengan ketiga gadis yang ada di hadapannya kini.


"Gak tau kak, karena telat tadi Esya dihukum oleh Mr Anton untuk berdiri di lapangan" Jawab Ginta


"Tuh kan, ini semua salah Gion Esya jadi dihukum kan" timpal Ken pada sepupunya itu


"Kenapa aku? Kau juga ambil andil dalam hal ini" balas Gion


"Dari kita bertiga kaulah yang paling sulit untuk dibangunkan"


"Tapi... Dari kita bertiga kaulah yang paling lama dikamar mandi"


"Sudahlah hentikan ocehan kalian, sekarang kita harus mencari Esya dulu" ucap Dion melerai ocehan kedua saudaranya itu, ia sudah tahu jika kedua manusia ini memulai perang lidah maka tandanya tidak akan ada akhir untuk hari ini terkecuali ketika jam tidur sudah tiba.


"Kak Gion memang paling bijak dari yang lain"


"Hei, kami juga tidak kalah bijak loh" ucap Gion dan Ken bersamaan


"Sudahlah ayo" ajak Dion yang sudah jalan lebih dulu meninggalkan kedua lelaki itu, lalu disusul oleh Ginta dkk.a barulah Gion dan Ken setelah mereka.


đź’– Queenesyađź’–


"Hoam..." gumam Esya yang baru saja terbangun


"Udah bangun Sya? Gimana masih pusing gak? Makan dulu nih biar lebih enakan" ucap Evan sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam yang sudah ia pesan tadi pada Angga sahabatnya itu.


"Terima kasih Van" ucap Esya disertai dengan senyum khasnya ketika telah menerima pemberian dari Evan, lalu mulai melahap makanannya.


Jangan Tanya apa yang sedang Evan rasakan sekarang ini karena ia tidak akan bisa menjelaskannya, bahkan rasanya Evan ingin sekali menghentikan waktu sekarang agar bisa lebih lama dengan gadisnya itu. Jantung Evan terpompa tidak karuan ketika melihat senyum gadis itu dari dekat. Ini kali pertama untuk dirinya karena tidak ada yang menghalangi dirinya lagi untuk mencoba dekat dengan Esya. Kemarin-Kemarin selalu ada pengganggu disekitarnya, ketika di sekolah terdapat Zee dkk.a dan di luar sekolah ada Gion dkk.a Evan sendiri Tidak paham dengan mereka padahal dirinya tidak memiliki maksud buruk pada Esya.


"Van, kenapa aku bisa berada disini?" Tanya Esya disela-sela makannya


"Tadi kamu pingsan di lapangan" jawab Evan


"Ehm...i-tu terima kasih" ucap Esya sedikit terbata


BRAKKK....

__ADS_1


Suara dobrakan pintu yang keras itu berhasil mengagetkan kedua remaja itu, dilihatnya Zee dkk.a dan Gion dkk.a memasuki ruang UKS itu lalu berjalan menghampiri keduanya dengan kuatir. Zee dkk.a langsung berhamburan ke dekat Esya, menyingkirkan Evan yang sudah kesal dengan mereka.


"Kenapa kalian selalu jadi pengganggu sih" ucap Evan kesal pada mereka.


"Itu karena kau adalah sesuatu yang harus dia hindari"


"Tapi apa alasannya?"


"KAU ITU COWOK MESUM" ucap mereka semua dengan bersamaan, terkecuali Esya sendiri yang sudah tidak memikirkan hal itu lagi.


'Astaga...' ucap Evan dalam pikirnya ternyata karena kejadian di belakang sekolah itu yang menjadi alasan mereka tidak mengizinkan dirinya dekat dengan Esya, benar-benar Evan tidak pernah berpikiran sampai ke sana.


"Astaga aku bukan orang seperti itu" ucap Evan mengklarifikasi bahwa apa yang mereka simpulkan selama ini adalah sebuah kesalahpahaman saja.


"Tapi kau..." ucap Gion terpotong karena ucapan Esya


"Evan gak gitu kok kak, dia bahkan menolong aku saat pingsan tadi" ucap Esya berusaha menjelaskan. Sebenarnya ini bukan kali pertama Evan menolong Esya bahkan selama sebulan ini Evan sering sekali menolong Esya dari gangguan Aurel dkk.a


"Tapi dia tidak berbuat macam-macam kan" ucap Ken


"Tidak kok kak"


"Kalau gitu, yasudah" ucap Dion


Gion masih saja menatap intens Evan sejak tadi, dirinya masih kurang percaya dengan lelaki yang satu ini. Tetapi sepertinya tidak ada salahnya jika memberikan satu kesempatan pada lelaki ini anggap saja sebagai tanda terima kasih karena telah menolong Esya tadi.


"Baiklah tapi awas saja kalau kau sampai menyakiti Esya aku yakin Ken akan langsung mencabik-cabik tubuhmu itu"


"Kau kira aku Werewolf apa?" Tanya Ken keheranan pada Gion sepupu mengenalkannya itu


"Kau kan yang paling mewarisi sisi gelap Oma Hellen"


"Sebelum aku mencabik-cabik Evan aku lebih dulu akan mempraktekannya pada tubuhmu itu" ucap Ken dengan senyum devilnya


Evan yang mendengar hal itu hanya tersenyum kikuk takut-takut jika yang di ucapkan oleh Gion tadi semuanya benar, Evan masih belum ingin mati muda terlebih dirinya belum menikah dan memiliki keturunan bersama Esya


"Jadi tandanya aku sudah bisa dekat dengan Esya?" Tanya Evan memastikan pikirannya

__ADS_1


"Hn" gumam Dion menyetujui maksud dari perkataan kembarannya tadi sekaligus menjawab pertanyaan dari Evan. Gion dan Ken hanya memberi senyum sebagai jawaban, lagipula semakin banyak yang menjaga Esya akan semakin bagus pula bukan?


__ADS_2