
Lampu jalanan dan pertokoan menjadi tambahan penerangan untuk Zee dan lainnya. langit malam tanpa bintang, sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Semakin banyaknya pembangunan maka bintang akan semakin jarang muncul. Berbeda jika berada di pedesaan yang lingkungannya memang jauh lebih asri.
20 menit yang lalu Zee membawa pergi Esya dari hadapan kakaknya, sekalian mengecek kondisi Gion yang memang masih terlihat kesal karena ulahnya tempo hari. Pemuda itu pasti tidak akan melupakan kejadian itu, Zee sangat yakin.
10 menit kemudian, barulah Zee sampai di.kansionnya. terlihat sepi seperti biasanya, orang tuanya sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk sekadar bertegur sapa dengan Zee seperti keluarga normal pada umumnya.
"Selamat malam, nona. bagaimana hari anda?"
"seperti biasa," jawab Zee.
"Baiklah, Nona. ada pesan dari tuan, katanya seminggu lagi mereka akan pulang."
"benarkah? apa itu bukan tipuan seperti biasanya"
"..."
"Sudahlah, sekarang beristirahatlah. kau pasti sudah lelah."
"baik nona."
Zee menyusul teman-temannya ke kamar. mendengar informasi kepulangan orang tuanya sudah terlihat biasa di matanya, semua perkataan itu pasti hanya tipuan mereka. padahal Minggu depan adalah hari yang istimewa untuknya. Minggu depan adalah hari kelahirannya.
Setelah tiba di kamar, Zee langsung ikut berbaring di samping Eve yang sedang asik chatingan dengan Leon. Ginta juga sedang asik bermain dengan ponselnya. belakangan ini ia lebih sering membaca komik dan novel mangatoon. Sedangkan Esya dan Melsha mulai sibuk dengan papan catur mereka.
Kadang ia mulai iri melihat teman-temannya bisa dengan mudah menghampiri keluarganya dan memulai sebuah pokok pembahasan yang sekiranya sangat menyenangkan untuk di bahas bersama. orang tuanya terlalu sibuk dan jarang pulang ke rumah.
"Hah...."
"Ada apa?"
"Apa kalian berpikir kalau hidupku ini terlihat sangat membosankan?"
"Tidak, karena saat kau aduh argumen dengan kak Gion itu sangat terlihat menggemaskan."
"Menggemaskan?!"
"benar, Kak Gion terkadang mengeluh sendiri padaku karena tak sengaja melihatmu bersama dengan seorang pemuda"
__ADS_1
"Ah, tapi. sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan pertanyaan ku barusan."
"Tentu saja ada. karena kau adalah gadis yang periang."
"Jika tidak bersama dengan kakak ku, carilah yang lain. kau tidak harus selalu bertahan."
"Ku rasa, pemuda lusa kemarin itu cocok."
"eh,mana mungkin."
.
Sebenarnya sekarang Esya dan lainnya sedang berusaha untuk mencari topik pembicaraan lain agar Zee tidak memikirkan masalahnya lagi. mereka semua tau apa yang terjadi pada Zee, meskipun gadis itu sama sekali tidak pernah ingin bercerita.
Semua ini bermula saat beberapa bulan yang lalu. ayahnya berjanji akan pulang bersama dengan ibunya namun selalu terhalang oleh suatu hal yang sepertinya memang agak merepotkan.
Angin malam bertiup memasuki ruang kamar Zee, Ginta bangkit dari duduknya lalu pergi menutup jendela dan tirai. setelah selesai Ginta memilih untuk berbaring di atas sofa yang ada di ruangan itu.
"Hei bagaimana hubungan kalian?"
"Tidak ada yang istimewa. aku masih saja terus di batasi."
"Haist, syukuri saja. setidaknya kalian memiliki kebebasan."
"Ya, kau benar. tapi ini dikelilingi oleh keluarga jauh lebih asik dari pada mencari kebebasan."
Esya, Eve, Melsha, dan Ginta diam sambil melirik kearah Zee. gadis itu kembali menampilkan mimik wajah yang menyedihkan.
"Zee, bukankah kita ini keluarga?"
"iya Zee. kita bahkan sudah sedekat ini sekarang. sudah seperti saudara kandung."
Yah, mengatakannya memang terlihat muda namun melaksanakannya yang sulit. Zee sangat tahu kalau teman-temannya sedang berusaha untuk menghibur dia. Memang mereka sudah terlihat biasa dalam situasi ini. ketika Zee merasa sendiri atau sedang merindukan orangtuanya ia selalu mengajak mereka untuk menginap di mansion.
Hal ini terjadi dari beberapa bulan yang lalu, saat dengan tiba-tiba Zee merindukan pelukan pelukan kedua orangtuanya. Pada hari itu langit sangat gelap, udaranya sangat dingin, belum lagi kilatan petir yang menyambar karena sedang hujan, suasananya sangat sepi, untuk ukuran mansion. Ia berusaha melewati malamnya dengan keparnoannya terhadap suatu bunyi, seperti Petir. tidak ada siapapun yang mengetahui hal ini selain kedua orang tuanya.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Tidak perlu mengatakan itu, ini sudah seharusnya kami lakukan."
"Hei, dari pada mellow gini, bagaimana kalau kita main satu permainan?"
"Aku rasa ide itu tidak buruk. baiklah mari kita bermain tanya jawab. jika tidak menjawab maka akan diberi hukuman."
"Apa itu tidak berlebihan?"
"Kurasa tidak. ini justru mengasikkan."
"Hei, kalian seperti sudah berpengalaman saja." curiga Esya.
"Baiklah aku akan mulai. ujung pena ini yang akan menentukan."
Esya, Ginta, Eve dan Zee memperhatikan Melsha yang siap untuk memutar pena tersebut. Jantung mereka berdegup kencang, bukannya takut mereka hanya tidak ingin jika mendapatkan pertanyaan yang aneh atau yang mungkin bisa menjadi bumerang mereka dihari esok.
"Baiklah, aku akan segera mulai." Melsha meletakkan pena tersebut dibawah lantai dan mulai memutarnya.
"Aha, sepertinya kita sudah menemukan yang pertama. Hmm, apa yang harus aku tanyakan yah?"
"Tolong jangan yang sulit."
"Pernah suka dengan kak Ken?"
"Pernah." Jawab Eve.
Sekarang pena berada di tangan Eve, Gadis itu mulai memutar pembayaran dan ujung pensilnya tepat berhenti di Ginta.
"Kenapa mau Nerima Kak Dion yang dinginnya melebihi kulkas?"
"Biar kalau lagi panas, bisa ngadem di sana."
Pena kembali di putar oleh Ginta. selama hal itu terjadi, Esya terus merapalkan doa agar bukan dirinya yang kena. semakin perlahan putaran pena itu mulai berputar dengan lamban. Posisi ujung pena itu berada diantara Zee dan Esya.
"Sekarang bagaimana? apa kita sudahi saja permainannya? sekarang juga sudah semakin larut."
"Yaudah kita lanjutin besok aja. aku akan mengingat kejadian tadi."
__ADS_1
Sekarang Esya bisa bernapas lega. Pagi-pagi sekali, Esya harus segera kembali ke mansion agar terhindar dari ketiga temannya tadi. Tapi bagaimana dengan Zee, Ia sangat khawatir seperti yang lainnya. Zee tidak banyak bicara sejak mereka tiba di mansion, Gadis itu hanya diam dan sesekali merespon mereka.
TBC