QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 16 Menyelidiki


__ADS_3

Seorang gadis sedang berlari menelusuri jalan dengan keadaan basah, hari ini hujan turun dengan sangat tiba-tiba, siang tadi ia melihat langit begitu cerah tanpa awan mendung, namun siapa yang tau tentang alam selain sang pencipta karena manusia hanya bisa mengira-ngira saja.


Gadis itu terus saja berlari tanpa henti, ia hendak menuju ke salah satu cafe untuk melakukan rutinitas lainnya yaitu bekerja sebagai seorang pelayan demi menghidupi kebutuhan sehari-harinya.


"Huh"


Kakinya mulai berhenti didepan pintu cafe yang dimana spanduknya bertuliskan cafe ceria , Sudah lebih satu setengah tahun ia bekerja disini karena keluarga yang merawatnya sejak kecil sudah tidak mau lagi memiliki tanggung jawab atas dirinya.


Namun, meskipun begitu gadis itu akan tetap bersyukur setidaknya keluarga angkatnya masih mau menampung dirinya. Meskipun, ia selalu tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari keluarga tersebut.


Gadis itu mulai melangkah memasuki cafe tersebut dengan menundukkan kepalanya serta dengan perasaan yang agak meneganghkan dikarenakan keterlambatannya hari ini.


"Hm...terlambat 15 menit yah"


"Ma-af Pam-an...tadi masih ada sedikit urusan di s-eko-lah" ucap gadis itu dengan agak terbatah-batah


"Baiklah Esya, Tapi lain kali jangan telat lagi yah sekarang kamu kebelakang ganti pakaianmu takutnya kamu bisa demam"


"Ba-ik paman"


Yah gadis itu adalah Esya, anak angkat dari keluarga Petter. Hari ini adalah hari dimana ia menjadi salah satu siswi di sekolah ternama yang terletak di kota ini.


Dengan kerja kerasnya sendiri ia banting tulang demi kebutuhan hidupnya terutama biaya pendidikannya sendiri, namun karena Esya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi ia bisa memperoleh beasiswa untuk pendidikannya kedepan.


Esya mulai berjalan melangkah menuju ke bagian belakang untuk mempersiapkan dirinya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah disediakan di loker khusus untuk para pelayan.


Beberapa menit setelah ia bersiap, kini ia mulai melangkah membawa kertas nota dimana ia akan menggunakan itu untuk menulis pesanan para pelanggan cafe itu

__ADS_1


"Pelayan" teriak seorang pelanggan sembari memanggilnya dengan melambaikan tangannya


"Iya tuan, mau pesan apa?" Ucap Esya dengan begitu ramahnya sambil tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi miliknya


"Aku pesan kentang goreng dan cappucino"


"Baik saya ulangi lagi pesanannya kentang goreng dan cappucino, apa ada tambahan lagi tuan?"


"Tidak"


"Kalau begitu silahkan tunggu sebentar tuan"


"Hn"


'tidak salah jika tuan muda mencurigai gadis kecil itu' batin pria itu, sambil memandang lekat gadis kecil tadi mengamati ciri gadis itu bahkan matanya selalu terfokus pada gelang yang berada di tangan gadis itu.


Kurang lebih 25 menit pria itu menunggu barulah pesanannya tadi di antarkan, meski sekarang bukanlah gadis kecil yang tadi menuliskan pesanannya.


"Ah,iya tuan gadis itu bernama Esya ada apa?"


"Tidak"


"Kalau begitu aku pergi dulu, silahkan dinikmati"


Pelayan itu mulai pergi meninggalkan pria itu dengan rasa penasaran yang agak tinggi dikarenakan pakaian pria itu yang semuanya serba hitam.


Waktu terus berjalan, tidak terasa sekarang hari sudah menjelang malam saatnya cafe itu akan ditutup. Pria itu masih saja terus berada di tempatnya, diperkirakan ia sudah menghabiskan waktu 4 jam lebih disana.

__ADS_1


Sekarang pria itu mulai berdiri dari duduknya, karena targetnya sekarang telah mulai melangkah keluar dari cafe tersebut dengan keadaan yang mulai sedikit kwatir entah karena apa.


Dilihatnya gadis itu mulai menunggu bus pada halte yang jaraknya tidak terlalu jauh dari cafe ceria tempat dimana gadis itu bekerja tadi.


Pria itu terus saja mengikuti kemana arah bus itu melaju sampai pada kira-kira perhentian halte ke 5 yang dekat dengan mansion keluarga Petter dimana gadis itu turun.


Pria itu masih setia mengawasi gerak gerik yang dengan cepat dilihatnya gadis itu melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu gerbang, sampai pada pintu utama mansion itu. Dilihatnya seorang gadis yang umurnya tidak jauh berbeda dari Esya sedang membentak bahkan menarik rambut gadis itu dengan kuat.


Pria itu mulai mengetikkan sebuah pesan yang akan dia kirim kepada tuan mudanya itu, sejauh ini informasi yang penting telah ia temukan


Via Chat


Tuan muda Gadis itu sepertinya hidup menderita di dalam keluarga Petter, barusan aku melihat gadis itu di bentak lalu menarik rambutnya dengan kuat menyeretnya kedalam mansion itu


Terima kasih paman, sekarang anda bisa kembali


Dilain tempat Esya, gadis kecil itu sedang di tatap lekat oleh tiga pasang mata seperti orang yang baru kedapatan mencuri saja. Mata mereka begitu tajam bagai silet lebih tepatnya kedua pasang suami istri itu sedangkan gadis yang umurnya tidak berbeda jauh dengan dirinya hanya tersenyum kemenangan.


"Apa yang telah kau lakukan hingga semalam ini baru kembali, dasar anak yatim" Ucap pria itu dengan cueknya


"I-tu A-ku..."


"Dan lagi apa yang telah kau lakukan pada putri kesayanganku ini hingga badannya memar, apa kau berencana ingin melenyapkan anak ku...Hah jawab bodoh" belum selesai Esya bicara ucapannya sudah dipotong oleh wanita yang tidak lain adalah ibu dari Aurel bahkan wanita itu tanpa pikir panjang lagi mendorong tubuh mungil Esya hingga membentur dinding


"Hiks..."


Dengan tangisnya ia mulai berlari menuju arah dapur dimana selama ini ia beristirahat dikala lelah mulai menghampiri dirinya, terkadang ia merasa bahwa Tuhan tidak pernah adil dalam hidupnya, mengapa dirinya yang selalu terkena imbas atas segala hal yang tidak pernah sedikitpun ia lakuman.

__ADS_1


Bahkan untuk mengharapkan datangnya cahaya dalam kehidupannya yang gelap ini sepertinya tidak akan pernah menjadi nyata, harapan untuk merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarganya saja sudah sangat tidak mungkin karena keluarga angkatnya saja sudah mengatakan jika dirinya adalah anak yatim piatu.


Namun satu hal yang selalu mengajak dalam benaknya adalah mengenai gelang yang ada di salah satu pergelangan tangannya bahkan sampai sekarang tidak pernah ada yang bisa melepaskannya dan anehnya gelang ini seperti akar memanjang seiring dengan bertumbuhnya tanaman.


__ADS_2