
Sore hari pun telah tiba, Gion dan Ken baru saja keluar dari ruang rawat bersama dengan Opa Robert, di luar Opa Hans menunggu mereka. Ia duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Gedung putih ini memang nampak seperti rumah sakit biasanya, namun sangat berbeda. Gedung ini adalah tempat penelitian laboratorium milik keluarga Hera yang selama ini di jaga oleh Opa Robert dan Opa Hans, sampai mereka menemukan pewaris utama keluarga ini yang pergi entah kemana sekitar 12 tahun lalu bersama dengan ayahnya.
Pemalsuan kematian Gilbert yang di lakukan oleh Robert dan Hans dulu memberi dampak yang besar pada anaknya dan cucunya yang masih kecil saat itu. Ditambah lagi dengan beberapa dokumen aset milik Gilbert yang di palsukan demi untuk mengamankan satu-satunya aset keluarga Hera dari tangan-tangan yang mau merebut hak kepemilikan.
"Opa, aku dan Gio akan kembali sekarang. Apakah Opa masih memiliki urusan lain?"
"Pulanglah lebih dulu, kami akan segera pulang setelah menyelesaikan beberapa hal penting disini"
"Berhati-hatilah dijalan dan jangan terlalu ngebut Gio"
"Tidak kok, Opa. Aku mana pernah seperti itu"
"Haha, baiklah-baiklah. Sekarang pulanglah".
"Kami dulu, Opa"
Gion dan Ken perlahan berjalan menjauhi kedua opanya, hari ini terasa sangat melelahkan untuk mereka berdua. Gion menekan tombol yang ada di kunci mobilnya untuk mengetahui lokasi dimana ia memarkir tadi. Ken hanya mengikuti arah langkah Gio, sembari mendengar alunan musik dari earphone kesayangannya.
"Menurutmu, apakah Bima adalah Alvian?"
"Entahlah, kau sendiri tahu bahwa tidak ada yang berani mencari masalah dengan keluarga kita"
"Ya, itu hanya pendapat ku saja. Lagipula, anak dan cucu dari teman Opa belum juga ditemukan. Apa mungkin mereka sudah...."
"Jangan berkata yang tidak-tidak Gio. Mungkin saja mereka bersembunyi di suatu tempat"
"Tapikan siapa yang tahu, semua itu bisa saja menjadi mungkin kan?"
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Ini semua salahmu, aku jadi tidak bisa pergi ke kampus"
"Aku tahu kau akan bertemu dengan Eve kan?"
"Kau, apa kau menguping pembicaraan aku kemarin? Dasar tidak sopan"
__ADS_1
Gio ingin tertawa saat ini juga, ia tahu jika Ken memang memiliki rencana untuk mengerjakan sesuatu di kampus hari ini namun, dengan tidak sengajanya setalah Ken menelpon temannya, ia menelpon Eve dan mengajak gadis itu untuk hangout bareng setelah urusannya selesai.
"Hahaha, itu salah mu karena tidak menutup pintu kamarmu sobat"
"Tck..."
Mobil mereka melaju menembus keramaian jalanan, sore hari seperti ini membuat mereka teringat pada satu kenangan indah bersama dengan adik kecil mereka. Dulu setiap kali jika mereka bosan, mereka pasti akan selalu keluar seharian dan menghabiskan waktu bersama.
Sekarang karena mereka sudah menjadi mahasiswa mereka jarang menghabiskan waktu bersama, jadwal yang berbeda serta kesibukan mereka masing-masingnya menjadi salah satu dari beberapa alasan yang ada. Sekarang di tambah lagi dengan masalah keluarga Hera, dan yah mungkin hanya itu masalah untuk saat ini.
Gion memarkirkan mobil di garasi setelah tiba di mansion, mereka berdua turun dan langsung masuk kedalam mansion. Gion melihat Esya dan Audet sedang duduk di ruang keluarga sambil meminum secangkir jus jeruk, Dion baru saja menghampiri tempat Esya, sambil membawa sekotak Pizza.
"Wah, asik. Ada pizza" seru Gio
"Kakak dari mana aja sih, dari tadi dicariin tapi gak ada. Jadi gak bisa ikut deh"
"Ikut kemana?. Eh,iya. princess, yuk keluar bareng, kan udah lama nih kita gak hangout bareng. Ajak Audet juga."
Sekarang giliran Ken yang menertawakan Gio, Tuhan memang maha adil. Hari ini Gio menghancurkan acaranya bersama dengan Eve dengan menariknya untuk mengikuti kedua Opanya dan sekarang didepan matanya, Ken melihat Gio yang ajakannya di tolak oleh Esya, adik kandungnya sendiri.
"Sebenarnya kalian dari mana saja?" tanya Dion, yang akhirnya mengangkat suara
"Ada urusan tadi, nanti akan aku cerita semuanya "
"Kak Ken kenapa gak nemuin Eve. Eve kasihan loh nungguin kakak di cafe seharian"
"A-apa!? Apakah dia masih ada disana?" tanya Ken
"Udah enggak,kak. Baru aja sebelum balik kami nganterin Eve dulu"
"Ini semua salahmu, karena menyeret aku pergi" kesal Kenned sembari menatap ke arah Gion
Esya sedikit heran, melihat kedua kakaknya. Untung saja Esya tidak sengaja melihat Eve di cafe tadi jika tidak, gadis itu pasti akan menunggu Ken hingga larut malam. Ia juga tidak tahu, seharian ini kedua kakaknya pergi kemana dan sedang melakukan apa.
__ADS_1
Pagi tadi sekitar pukul sebelas lewatkan, ia berencana mengajak kakaknya Dion,Gion dan Ken untuk hangout bareng karena sudah lama mereka tidak memiliki waktu luang bersama, namun ketika mengecek kedalam kamar kakaknya, hanya ada Dion yang sedang mengurus sesuatu di laptop kesayangannya.
"Kakak sehat, gak sakit kan?"
"S-sehat, kata siapa kakak sakit?"
"Oh, enggak kok kak. Aku cuma asal tanya aja, hehehe"
"Sya, kak. Aku balik dulu yah, udah di jemput sama Rio"
"Ah, iya Clau. Hati-hati di jalan yah"
"Aku pergi dulu, Rio udah di depan"
Audet berdiri dari duduknya dan berjalan keluar mansion untuk menemui kekasihnya. Siang tadi Rio meminta Evan untuk mengantarnya lebih dulu ke mansion keluarga Audet untuk mengambil mobil dan menjemput kekasihnya yang sekarang sudah berstatus sebagai tunangannya.
"Eh, iya. Kalau misalnya kakak-kakak Nanti nikahnya sama sahabat ku semua berarti mereka bakalan jadi kakak ipar aku dong" kata Esya memecah suasana
"Ditambah kalau adikku nikahnya sama Evan, berarti bakalan jadi adik ipar ku dong dan sahabatnya princess jadi istri serta saudara ipar ku, Kok dunia sempit banget sih" kata Gio sedikit berlebihan, Dion hanya geleng-geleng kepala, dan Ken hanya mendengarkan.
"Kak Ken. Kakak gak usah sama Eve yah, cari yang lain aja"
"Lah, kenapa princess? Dion bareng Ginta dan Gio sedang proses pendekatan dengan Zee,kok aku gak boleh?"
"Bukan gitu kak, kakak sebenarnya boleh aja sih cuma belakangan ini yang aku perhatikan, Eve lagi dekat dengan Leon teman satu jurusannya Evan"
"Hah, kok baru ngasih tahu sekarang princess?"
"Salah kakak sendiri, gak nanya"
Gelak tawa memenuhi ruangan itu, setelah berkata seperti itu Esya langsung pergi sambil membawa jus jeruknya yang masih tersisa setengahnya. Ken melirik kearah Gion yang masih terbahak-bahak dan Dion yang hanya menampilkan senyum mengejeknya. Ia sangat tahu bahwa sekarang ini saudara gunung esnya ini pasti juga sedang menertawakannya.
Tbc
__ADS_1