
Esya menggerakkan matanya, hawa sekitarnya terasa dingin dan lembab. Ia tidak tahu dimana ia sekarang berada, mungkin benar pergi ke taman dapat menimbulkan risiko penculikan. Padahal sekarang teknologi sudah canggih, masih saja ada yang bisa beraksi. Ruang di sekitar Esya gelap, hawanya juga kurang mengenakkan.
Tangannya terikat dan Bibirnya disumbat dengan kain, kakinya terasa dingin dan basah dan melayang? Mungkin, ia mulai menggigil, kini Esya kedinginan. Sudah jam berapa sekarang? Evan dan Briand pasti sudah mencarinya sejak tadi atau mungkin kabar hilangnya ia sudah sampai ke telinga Keluarganya.
Tek...
Lampu ruangan itu menyala meski penerangannya masih agak redup, seketika mata Esya melotot hebat di hadapannya. Di sekelilingnya penuh dengan lumut, kini ia tahu bahwa ia sekarang berada di sebuah goa tapi entah dimana tempatnya ia kurang tahu. Untung saja sebelum pergi ke kampus tadi, Esya sempat menggunakan gelang pemberian kakeknya dulu. Ia bisa menyalakan GPS-nya tapi ada satu masalah sekarang, kedua tangannya sedang terikat.
Orang yang berada jauh darinya sedang menatapnya dengan senyum yang mengembang di wajah orang itu, Esya tidak bisa melihat jelas rupa orang itu karena penerangan disana begitu minim.
"Tenanglah gadis manis, aku tidak akan menyakiti kamu. Aku hanya butuh dirimu untuk memancing mereka"
"..."
"Jika mereka berani macam-macam aku akan melepaskan rantai itu dan kau tahu apa yang akan terjadi?.... Kau akan langsung mati menggigil di dalam tabung besar ini"
"..."
"Astaga aku lupa jika kau tidak bisa berbicara sekarang, kau cukup mendengarkan ucapan ku saja"
Perasaan Esya bergetar, meski di sisi lain ia juga sangat yakin bahwa ia akan baik-baik saja dan orang tadi tidak akan membuatnya berada dalam bahaya. Sedikit mengingat, suara orang tadi sepertinya pernah Esya dengar di suatu tempat.
"Apa kau tahu, rahasia kecil keluargamu?....astaga, aku ingat kau tidaklah tumbuh besar dengan mereka..."
"Atau mungkin karena mereka tidaklah serius untuk mencari mu dulu.... Padahal keluargamu adalah keluarga yang terkemuka mengapa butuh waktu sampai 15 tahun?"
"Kau tahu, 12 tahun yang lalu kakek mu Robert dan Hans turut serta dalam pembantaian keluargaku, keluarga Hera"
__ADS_1
"Aku tidak akan melukaimu, untuk sekarang bekerja samalah denganku kalau tidak maka aku akan membatasi habis keluargamu"
Bima atau yang bernama asli Alvian itu menyuruh beberapa anak buahnya untuk menurunkan Esya dari atas sana, sepertinya sudah cukup untuk saat ini membuat gadis itu sedikit ketakutan. Orang-orang yang di suru oleh Alvian menutup nata Esya dengan Kain hitam tebal sesuai dengan yang di katakan Alvi.
Setelah menurunkan Esya, gadis itu sedikit merasa lega karena sudah menyentuh tanah. Ia terus mengikuti arah langkah beberapa orang sesuai dengan pergerakan orang-orang tersebut. Tak lama mereka tiba di sebuah ruangan yang jauh lebih baik di bandingkan yang tadi.
"Lepaskan penyumbat yang ada di bibirnya" perintah Alvian.
"Hei, sekali lagi aku katakan, kau harus bekerja sama denganku, jika tidak ingin nyawa keluargamu melayang"
"Apa mau mu? Sebenarnya siapa kau?"
"Aku tidak akan mengatakannya padamu, kau cukup tahu saja bahwa aku adalah satu-satunya anggota keluarga Hera yang masih hidup"
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan sejak tadi, apakah kakekku ada sangkut pautnya dengan musibah yang di alami keluargamu?"
Esya sudah duduk di sebuah kursi dengan tangan yang masih terikat. Di depannya ada Alvian, sedikit yang dapat Alvi benarkan awalnya ia ingin membuat gadis ini berada di dalam ketakutan yang panjang namun, entah mengapa perasaannya sedikit gerak seperti ketika ia belum mengetahui tentang kehancuran keluarganya.
"Buka penutup matanya"
"Baik, tuan"
"Kau gadis yang manis, jadi menurutkan padaku dan keluargamu akan aman"
"Sebenarnya apa mau mu? Mengapa kau melakukan semua ini? Lepaskan aku... Hiks.... Kakak"
"Oopssst.... Jangan menangis, selama kau menjadi kucing kecil yang penurut aku tidak akan berbuat apapun padamu"
__ADS_1
Esya menatap wajah Alvian yang dalam keseharian jauh lebih dikenal dengan nama Bima, salah satu mahasiswa dari kampusnya. Beberapa kali Esya sering melihat Bima berada tidak jauh dari jangkauannya, ia memang terlihat seperti orang yang misterius dan pendiam. Baru-baru ini, Esya mengetahui jika kakaknya sedang melakukan penyelidikan untuk mencari cucu dari Opa Gilbert.
Esya tidak terlalu kenal dengan yang namanya Opa Gilbert, ia hanya tahu jika beliau adalah teman Opanya, tidak lebih dari itu. Kakaknya tidak ingin mengatakan semuanya, yang jelas mereka mencari orang itu dan ingin meluruskan sebuah kesalahpahaman yang ada.
"Apa kau Alvian Von Hera cucu dari Opa Gilbert?" tanya Esya memastikan, sebelah alis Alvi terangkat heran entah dari mana gadis di hadapannya ini mengetahui nama aslinya dan juga nama opanya.
"Dari mana kau mengetahui hal itu?"
"Kakak ku, sudah sejak beberapa hari yang lalu kak Gion mencari keberadaan mu. Katanya ada sesuatu yang ingin ia luruskan denganmu"
"Sesuatu yang ingin diluruskan?"
"Benar. Aku tidak tahu pasti tapi sepertinya berhubungan dengan keluargamu"
"Bisa kau katakan padaku?"
"Temui saja kakakku dan tanyakan pada mereka. Aku tidak mengetahui banyak hal, mereka tidak pernah membiarkan aku ikut campur"
Alvi jadi ingat belakangan ini mereka memang tak hentinya pencari keberadaannya. Ia juga dengan diam-diam mengamati pergerakan beberapa di antaranya. Ia tahu jika Gion belakangan ini sering keluar dan pergi entah kemana bersama dengan Opanya.
Salah satu alis Esya terangkat, lelaki di depannya ini sudah sejak tadi hanya diam dan larut dalam khayalan nya, andai saja tangannya tidak terikat ia bisa dengan segera mengabari kakaknya dan tidak akan berlama-lama berada di sini. Ia juga tak ingin membuat seisi mansion khawatir seperti dulu atas keadaannya.
Tbc
Mohon maaf jika ada readers yang kurang puas atau bingung dengan alur cerita saya. Ini membuktikan bahwa karya ini benar-benar adalah hasil dari imajinasi semata author sendiri dan karena author juga masih bisa di bilang baru dalam dunia Tulis, jadi masih butuh banyak perbaikan dan masukan dari para Readers sebagai penikmat bacaan.
Terima kasih 🙏
__ADS_1