
Alvi masih berada di ruang monitor mengawasi pergerakan semuanya. Mereka yang berada di luar tadi sudah menemukan jalan masuk kedalam dan kini mereka sedang menelusuri setiap lorong buatannya. Pencahayaan didalam ruangan itu agak sengaja di redup kan oleh Alvi.
Opa Robert mendorong kursi roda milik Opa Gilbert, sedangkan Opa Hans memimpin di depan dan para anak muda itu mengikuti mereka dari belakang. Kelima lelaki itu senantiasa tak melepaskan pandangan mereka dari sekitar, mungkin saja salah satu diantara mereka menemukan petunjuk tentang Esya.
Kini Esya sudah bersiap di tempatnya, Alvi pun juga sudah berada di tempatnya mereka akan segera melakukan drama kecil untuk sekarang ini, Alvi menyuruh beberapa orang yang ada bersama dengannya untuk seolah-olah membentak dan melemparkan beberapa barang ke tanah agar mereka yang mendengarnya akan segera datang ke ruangan ini.
Brakkk....
Prakkk....
"Hiks...hiks...hiks.... Kakak....Opa...Hiks...hiks...." Bunyi rekaman suara Esya yang sebelumnya mereka ambil dulu sebelum Opa Hans dan yang lainnya masuk ke dalam.
"Astaga, kalian dengar itu suara Esya kan? Kita harus cepat menemukan dia" ucap Leon
"Opa, bagaimana sekarang?"
"Ayo kita bergegas"
Setelah agak lama diam, mereka akhirnya mulai berjalan lagi. opa Hans yang sepertinya sudah mengetahui seluk-beluk tempat ini langsung bergegas menuju ke sebuah ruangan dimana asal isak tangis tadi berasal.
Prokk...
Prokk...
Prokk...
Sebuah tepukan tangan menghentikan langkah mereka, ruangan yang semula gelap dan hanya ada cahaya redup, kini terang kembali. Di hadapan mereka sudah ada seorang laki-laki yang menggunakan sebuah topeng. Orang itu adalah salah satu dari kaki tangan Alvi, ia bernama tuan B.
"Akhirnya kalian datang juga"
"Dimana cucu ku dan juga tuanmu?"
"Anda tidak perlu tahu, mau bertemu dengan gadis kecil itu? Aku dengan senang hati akan mengantar kalian menemuinya, mari ikut aku"
"Sebenarnya, siapa kau?" Tanya Opa Hans
Pria tua itu, tidak tahu jika Alvi memiliki kaki tangan seperti ini. Seluruh informasi yang ia dapat dari kaki tangannya tidak pernah mengatakan jika Alvi memiliki seorang kaki tangan yang menggunakan topeng.
"Kalian ingin melihat gadis lugu itukan? Silahkan masuk, jangan lupa menyalakan lampunya"
"Tempat apa ini, mengapa suhunya sangat dingin?"
__ADS_1
"Dan gelap, jangan lupa itu"
"Dimana mereka menyekap, princess?"
"Awas saja kau, Alvi. Aku akan memberimu pelajaran jika terjadi sesuatu padanya"
"Kemana bocah itu, aku sudah bilang jangan macam-macam padanya"
Opa Robert dan Opa Gilbert tidak memiliki komentar apapun, mereka hanya senantiasa mengikuti arah jalan Opa Hans dan mendengarkan pembicaraan mereka. Kedua pria tua ini tahu, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Hans dan mereka tentu saja akan menunggu penjelasan dari lelaki sebaya mereka.
Kini Opa Gilbert semakin tidak sabar untuk bertemu dengan cucu laki-lakinya, entah bagaimana rupa Alvi sekarang, dan tentunya kabar anak dan cucunya itu adalah hal yang paling penting untuk dirinya sekarang ini.
Sebuah langkah kaki membuat mereka diam seketika, Opa Hans menatap tajam tepat kearah seroang lelaki seusia cucu laki-lakinya, ia adalah Alvi Von Hera. Cucu dari Opa Gilbert, Alvi mendekati mereka dengan senyum yang menantang, dan tidak memiliki rasa takut.
"Kau, dimana kau menyekap cucuku?"
"Mengapa kau bertanya padaku? Apa kau tidak melihat sesuatu yang melayang di atas sana?"
"Hah, sial*n apa yang sudah kau perbuat B**s*k!!!" Gion maju dan mencengkram pakaian Alvi.
Dua pasang mata mereka saling bertemu, memancarkan sorot mata yang berbeda. Amarah sudah hampir menguasai dirinya. Dion dan Ken meski merasakan hal yang sama seperti Gion, namun mereka.berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk menghentikan Gion.
"Apa? Kau lihat apa yang dia lakukan, lihat dengan jelas. Apa matamu itu sudah rusak?"
PLAKK....
Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Gio, siapa lagi pelakunya jika bukan Dion. Ia tidakk tahan melihat Gio dengan sifat yang seperti itu, baginya itu terlalu kekanak-kanakan. Alvi yang melihat itu diam-diam tersenyum tipis, Esya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka sedikit membuka matanya, bunyi tamparan tadi lumayan keras, membuatnya merasa sedikit ngilu.
"Tenanglah dulu, kita belum tahu apa rencananya"
"Sudah. Alvi bisa kau lepaskan Esya? Aku sudah membawa Gilbert kemari"
"Melepaskannya untuk apa? Apakah bisa mengembalikan keluargaku? Kalian yang merupakan dalang dari kejadian 12 tahun yang lalu karena tahu cucu tersayang kalian ada padaku, lantas langsung membawa Opaku keluar dari tempat persembunyian?!"
"Tidak, kau salahpaham Alvi. Semua itu sama sekali tidak benar"
"Bagaimana aku bisa percaya pada kalian, tahukah kalian bagaimana kehidupanku beberapa tahun ini? Aku hidup sendiri setelah papa pergi meninggalkan aku"
"Pergi?! Kemana Aldo pergi? Apa yang telah terjadi?"
Alvi memandang kearah sumber suara, ia sangat merindukan orang ini. Seorang lelaki paruh baya yang duduk di atas kursi roda dengan pakaian rawat, suara pria tua itu sedikit lemah dan tubuhnya terlihat kurus. Ia ingin menghampiri pria itu lalu melepas kerinduannya. Perkataan Esya memang benar, Opanya masih hidup, satu hal yang merupakan kebahagiaan kecil ia tidaklah sendirian di Bumi.
__ADS_1
"Papaku meninggal karena penyakitnya, beberapa tahun lalu. Aku terus mencoba mencari informasi tentang Opa tapi sama sekali tidak ada yang bisa aku temukan".
"Maaf itu, salahku. Aku memblokir semua data tentang Gilbert demi keamannya karena kondisinya yang tidak baik saat itu...."
"Aku juga tidak tahu kalau Hans sudah mengetahui keberadaan mu beberapa tahun belakangan ini dan selalu memenuhi kebutuhan mu secara diam-diam"
"Apa? Apakah selama ini pria misterius yang selalu menelponku dan mengirimi aku uang adalah..."
"Benar, itu aku. Awalnya aku hanya ingin membuat pelatihan untuk ketiga cucuku tapi sepertinya tidak berjalan sesuai dengan rencana awal ku"
"Apa!? Jadi sejak awal ini hanyalah setingan Opa saja? Ini terjadi hampir dua bulan tahu"
"Dua belas tahun lalu, Opa mu berada dalam kondisi yang sekarat, ia sampai koma dan baru bangun kemarin"
"Maaf ini salah Opa, karena tidak memberitahu kalian lebih dulu. Dua belas tahun lalu aku meminta tolong pada Hans dan Robert untuk menyelinap ketika pembantaian itu terjadi dan membawa pergi tabung yang berisi dokumen penting hasil penelitian ku...."
"Aku tidak menyangka bahwa mereka juga sudah menyusun rencana untuk menyelamatkan kita, sayang sekali istriku dan mamamu tidak bisa tertolong lagi"
Opa Gilbert mencoba menjelaskan segala hal yang terjadi dua belas tahun yang lalu meski dengan suara yang lemah. Alvi turut mendengar penjelasan Opanya, ia juga penasaran dengan kejadian yang menimpah keluarga mereka dulu tak lupa Alvi memberi kode pada kaki tangannya agar tidak menghalangi jalan mereka yang mau menurunkan Esya. Keempat remaja yang lainnya juga mendengarkan, sedangkan Evan dan Briand pergi menurunkan Esya.
"Huh, akhirnya. Lain kali siapkan pakaian tebal dan kaos kaki untukku, Al jika terjadi seperti ini lagi"
"Tidak akan ada yang terjadi lagi Sya, aku sudah bertemu lagi dengan Opa"
"Ah, Halo Opa. Aku Esya temannya Alvi" Esya tersenyum lebar.
"Hei, ada apa ini? Kau barumenyebutnya teman?" tanya Evan.
"Memang apa yang salah?"
"Dia baru saja menyekap mu loh"
"Kau lupa kata opa tadi? Ini hanya setingan kami berdua hanya menambah drama sedikit"
Hanya ada tampang bodoh di wajah mereka, yah meskipun Esya sendiri tidak yakin kalau rencana kecilnya untuk mengerjai kakaknya akan berhasil atau tidak. Wajah mereka semua datar, Esya tidak bisa menebak bagaimana perasaan kakaknya sekarang ini.
Tbc
Mohon maaf jika isi cerita saya ini terlalu Absurd, saya masih dalam proses belajar karena belum memiliki pengalaman lebih dalam dunia tulis.
Makasih 🙏
__ADS_1