
Disebuah mansion seorang remaja laki-laki masih saja terus mengurung diri dikamarnya. Ini sudah terjadi hampir hampir sebulan lebih semenjak keberangkatan keluarga Esya ke Singapura.
Lelaki itu seperti tidak memiliki semangat hidup. Orion, saudara sepupunya itu sampai bingung dengan perubahan yang terjadi pada lelaki itu. Ia hanya keluar jika jam sekolah saja dan setelah pulang lelaki itu akan kembali mengurung dirinya.
Tidak berhenti disitu, disekolah pun ia lebih sering menyendiri dan tidak berniat untuk bergabung bersama dengan teman-temannya. Yang ia lakukan hanyalah terus saja mencari keberadaan ketiga remaja lelaki itu, untuk ia tanyakan tentang kondisi gadis yang sudah ia klaim sebagai miliknya.
Sayang sekali, selama ini Evan lelaki itu emas sekali tidak mendapatkan jawaban dari mereka selain seutas senyum tipis atau tatapan dingin khas Dion. Hal itu membuatnya sedikit frustasi. Evan hanya terus saja memandangi potongan liontin kalung yang ada di lehernya sebagai penghubung antara dirinya dan gadis itu.
"Mau sampai kapan kau mengurung diri seperti itu, Evan" teriak Orion dari luar pintu kamarnya.
Lelaki itu terus saja melakukan hal yang sama setiap harinya, sudah seperti rutinitas hariannya saja. Berdiri di depan pintu kamar Evan lalu mengomel tidak jelas, berharap agar sepupunya itu mau membuka pintu kamar yang ia kunci dari dalam.
"Benar-benar kau ini" ucap Orion lagi.
"Pergilah, urus saja urusanmu sendiri" ucap Evan keras namun dengan nada lirih
"Aku tidak mungkin membiarkan kau terus mengurung diri dikamar. Bagaimanapun juga aku masih saudaramu" ucap Orion, berusaha menghibur Evan namun tidak mendapatkan jawaban lagi. Dengan begitu, karena lelah berada di sana ia akhirnya pergi meninggalkan pintu kamar Evan lalu menuju kearah pintu kamarnya sendiri.
"Baiklah, ku harap kau bisa semakin membaik" ucap Orion sebelum melangkah pergi.
Entah sudah berapa banyak rasa Khawatir yang ditimbulkan oleh Evan untuknya, bagaimanapun juga Orion begitu menyayangi Evan layaknya seperti saudara kandungnya sendiri.
Orion begitu tahu apa yang dirasakan oleh lelaki itu, karena dirinya sudah berada dekat dengan Evan sejak mereka masih kecil, ia tahu bagaimana perasaan Evan yang sebenarnya pada Esya. Belum lagi setelah mengetahui bahwa Esya adalah gadis pertama yang bisa mencuri hari sepupunya itu.
Tentu saja, keberangkatan Esya dan kabar dari gadis itu sangat berarti untuknya. Sayang sekali sampai sekarang Dion dan kedua saudaranya itu tidak pernah mau memberitahu hal yang sebenarnya pada Evan.
Evan yang masih mengurung diri dikamar hanya termenung di atas kasur king size miliknya. Sambil menggenggam erat potongan liontin kalung itu sambil sesekali tersenyum nihil.
Pikirannya tidak pernah jauh dari sang gadis. Setiap harinya yang bisa ia lakukan hanya memandang liontin itu. Ia bahkan tidak bisa mendapatkan sedikit informasi tentang gadis itu, dari beberapa orang kepercayaannya.
"Entah bagaimana kondisimu sekarang Sya" gumam lelaki itu. Belakangan ini, dirinya lebih banyak diam tak berbicara kecuali jika hal itu dirasakan sedikit penting. Itupun dirinya hanya mengeluarkan beberapa kata saja.
__ADS_1
"Apa kelak, kau akan mengingatku!?" ucap Evan semakin lirih, sejak di rumah Sakit waktu itu ia dan Esya tidak banyak berbicara meskipun sebenarnya ia ingin.
Belum lagi kondisi ingatan Esya yang sedang dalam keadaan yang kurang baik membuatnya semakin Khawatir. 'Bagaimana jika suatu saat nanti, Esya akan dekat dengan orang lain ketimbang dengan dirinya' setidaknya begitulah kata yang sering terlintas dalam pikirannya.
Belum lagi waktu dan jarak yang bisa menjadi faktor terjadinya hal itu. Sampai sekarang Evan belum tau kapan gadisnya itu akan kembali, ia sama sekali tidak mendapatkan informasi yang bisa membuatnya sedikit tenang.
"Bagaimana jika kau tidak mengingatku nantinya!?" ucap Evan entah pada siapa.
Sial, semua ini karena kesibukannya di sekolah. Entah kapan sekolah itu akan meliburkan mereka, dengan begitu Evan bisa mengambil kesempatan untuk pergi mengunjungi Esya di Singapura sana.
Memori Evan terus saja berputar, kembali. Dimana ketika dengan tidak sengaja ia pertama kali bertemu dengan Esya, sorot mata gadis itu bahkan masih tersimpan begitu jelas dalam ingatannya, terutama bagaimana manisnya gadis itu ketika tersenyum, menampilkan dua lesung pipi di masing-masing pipi gadis itu.
"Kau tau Sya, awalnya aku tidak tahu entah perasan apa yang yang perlahan tumbuh ketika aku pertama kali bertemu denganmu. Aku senang saat melihatmu tertawa, bahagia saat melihatmu tersenyum dan tidak suka saat melihatmu menangis dan kesakitan seperti sekarang ...." ucap Evan menghela napasnya berat.
"Ketika aku semakin dekat denganmu, jujur saja aku memiliki rasa ingin terus melindungimu, semakin lama rasa itu semakin besar dan pada akhirnya aku tahu jika perasaan yang selalu bergejolak dalam hatiku, perasaan yang ingin terus melindungi mu dan membuatmu selalu tertawa bahagia adalah rasa sayangku padamu, akhirnya aku tahu jika aku sudah jatuh cinta padamu ...." ucapnya lagi
"Aku mencintaimu Queenesya, aku ingin terus menjagamu dan ingin terus kamu berada di sampingku selamanya"
Toktoktok...
Sebuah ketukan membuat Evan tersadar ia sudah tahu siapa orang yang ada di balik pintu kamarnya itu.
dengan malasnya, Evan melangkah mendekati pintu itu dan membukanya, benar yang ia yakini tadi. Dihadapannya sekarang sudah terpampang jelas wajah Orion, sepupunya itu.
"Akhirnya kau membuka pintu sialan ini" ucap Orion
"Mau apa kau!?" tanya Evan
"tenanglah, sesuatu yang akan aku berikan padamu pasti bisa mengurangi beban pikiranmu"
"Hn"
__ADS_1
Evan mempersilahkan Orion untuk memasuki kamarnya. Orion tersenyum ia tahu bahwa apa yang akan ia berikan pada Evan nantinya akan membuat lelaki itu sedikit merasakan kelegaan.
"Jadi!?" tanya Evan mengangkat satu alisnya
"Pertama mana ponselmu" ucap Orion padanya
"untuk apa!?" tanya Evan, ia mulai sedikit penasaran dengan apa yang akan Orion lakukan
"Berikan saja padaku" ucap Orion
"Ambil saja sendiri. Ada di atas meja belajarku" ucap Evan
Orion yang mendengar itu bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan kearah dimana meja belajar Evan berada. Diambilnya ponsel itu, lalu mengetikkan beberapa digit nomor yang ada di ponselnya tadi. Lalu menghubungi nomor ponsel tersebut setelah menyimpan kontaknya.
Orion kembali berjalan menuju kearah Evan dan memberikan ponsel tersebut. Evan mengangkat satu alisnya tanda ia tak mengerti, membuat Orion menghela nafas pelan.
"Bicaralah, panggilan ponselnya sudah mau terhubung"
Evan mengambil ponsel miliknya lalu menatap layar ponselnya, disana tertulis jelas nama kontak yang baru saja Orion masukkan 'Aunty Melan'.
Lagi dan lagi Evan mengangkat satu alisnya menatap Orion seperti meminta penjelasan.
"Aku tahu kau tidak mempunyai nomor ponsel keluarga Vondrienty yang lain selain ketiga anak laki-laki itu, maka dari itu aku meminta nomor ponsel milik Aunty Melan pada Zee" ucap Orion memberikan penjelasan pada Evan.
"Terima kasih"
"Hn, Sekarang bicaralah" ucap Orion memberikan senyum pada Evan ia lalu keluar dari ruang kamar Evan, meninggalkan Evan sendiri dan kembali ke kamarnya.
Untung saja saat tadi Orion memasuki kamar ia langsung berpikiran untuk meminta nomor kontak aunty Melan pada Zee yang memang terlihat sangat dekat dengan keluarga Vondrienty. Mungkin dengan cara ini akan bisa mengurangi beban pikiran yang sedang Evan tanggung.
Orion tahu jika Evan tidak menyimpan kontak lain selain keluarga Vondrienty selain ketiga kakak laki-laki Esya. Dengan begitu ia tidak perlu terlalu menghawatirkan kondisi Evan lagi, ia cukup berada di sisi sepupunya itu untuk sedikit menghiburnya.
__ADS_1