
Di sebuah ruangan dimana seorang lelaki tampan itu sedang mengurus beberapa berkas pendaftaran untuk anggota baru keterampilan minat bakat para siswa maupun siswi, khususnya untuk para siswa baru tentunya.
"Huh..."
Dirogohnya saku seragamnya guna mengambil handphone pintarnya itu. Ia mengotak-atik buku kontaknya hendak ingin menelpon salah satu pengurus OSIS bagian keterampilan
"Cepat kemari,Aku ada urusan penting"
"..."
"Hn"
'Kemana perginya mereka?' tanyanya pada dirinya sendiri
Dilangkahkannya kedua kakinya itu secara bergantian,pergi keluar ruangan, Meninggalkan aktifitas yang sudah membuang waktunya selama 4 jam lebih bersama setumpuk lembaran kosong.
Benar,selama 4 jam tadi tidak ada satu siswa pun yang datang mengajukan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut yang ada hanyalah Dirinya dan kekosongan tanpa kehidupan di dalam ruang itu. Sepertinya minat para siswa di bidang keterampilan sudah mulai luntur.
Sepanjang koridor sekolah banyak pasang mata yang memuja dirinya,ah tidak lebih tepatnya seperti sekumpulan monster yang sedang kelaparan dan ingin memangsa dirinya. Setidaknya itu yang selalu di pikirkan oleh lelaki itu,meskipun dirinya dapat di kategorikan sebagai orang yang bersahabat namun prinsipnya hanya satu, 'tidak ada cewek lain yang boleh dekat dengannya selain adik kesayangannya itu'
"Gion,sayang" teriak gadis yang berpenampilan serba kekurangan bahan itu,Rok mini yang menampilkan kaki jenjsngnya,baju seragam kekecilan yang pas di tubuh gadis itu,parahnya satu kancing atas yang sengaja gadis itu buka untuk mencari perhatiannya.
'Ampundah nenek lampir lagi, baru juga hari pertama' batinnya,merutuki kebodohannya seharusnya ia tetap tinggal di dalam ruangan itu dari pada harus berhadapan dengan cewek full makeup seperti badut sirkus yang sering ia nonton dulu semasa ia masih kanak-kanak.
Tapi Gion bukanlah seseorang yang mesum yang akan langsung tergoda dengan hal semacam itu,justru sebaliknya Gion sangat merasa jijik dengan gadis semacam itu, harapan Gion yang lain dimanapun adiknya saat ini semoga sifat dan penampilannya tidak seperti gadis di depannya ini.
"Ih,Hunny kok diamsih gak kangen apa sama aku?" Ucap Gadis itu dengan gaya centilnya itu
"Menjijikan,menyingkir dari jalanku" Ucap Gion dengan nada dingin tentu saja dengan ciri khas dirinya sendiri.
"Iih,tapi aku masih kangen" gadis itupun mencoba untuk meraih pergelangan tangan Gion, namun langsung ditepis olehnya.
"Rebecca!!!" Denga tatapan tajam dibentaknya gadis itu tanpa pikir panjang, karena sekarang kesabarannya sudah tidak ada lagi. Sepertinya ia harus bertindak sedikit kasar pada gadis ini, ia tidak peduli jika gadis ini adalah anak dari Johan Cruyff salah satu rekan bisnis ayahnya di bidang sandang & pangan.
Gion mulai melangkahkan kakinya lagi yang sempat tertunda tadi, meninggalkan gadis itu yang sedang diam tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Baru kali ini Gion membentaknya selama 2 tahun lebih perkenalan mereka tepatnya ketika acara peresmian gedung ayahnya, Gion datang sebagai perwakilan dari keluarga Vondrienty berhubung saat itu banyak kesibukan, Ayahnya pergi menemani Bundanya berobat ke luar negeri, kedua Oma dan Opa juga pergi mengurus perusahaan, Aunty dan Uncle saat itu sedang berada di luar negeri lalu Dion dan Kenned entah mereka pergi kemana saat itu.
__ADS_1
"Hm"
'sudahku duga' batinnya, sambil menelusuri setiap sudut kantin sekolah. Memusatkan penglihatannya pada dua objek yang sedari tadi ia cari, sekarang sedang lahap memakan pesanannya dengan jus wortel yang siap menemani santapan mereka.
"Kalian emang saudara yang paling menyebalkan" ucapnya sambil menekankan setiap kata
"Siapa..."
"Siapa lagi kalau bukan Kalian"
"Yang nanya" kedua mata Gion membulat tak percaya dengan apa yang baru terjadi
"Arght..dasar kentang goreng kau benar-benar menyebalkan" ricaunya entah pada siapa, yang hari ini Ken benar-benar membuatnya kesal.
Matanya perlahan mencuri pandang pada Dion kembarannya itu, yang sedang menikmati secangkir cappucino hangat dengan begitu santainya "apa dia benar-benar saudaraku" gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh mereka karena jarak yang dekat.
"Hn"
Gion mulai berjalan menuju salah satu tempat dimana biasanya makanan favoritnya itu berada Nasi Goreng dengan taburan bawang goreng di atasnya di temani oleh jus wortel kesukaannya
Drrrtt...drrrtt
Getar benda pipih milik Dion yang sering digunakannya untuk berkomunikasi, menandakan bahwa telah terdapat sebuah pesan singkat dari orang kepercayaannya itu. Dibukanya pesan tersebut yang berisi: itu
Informasi data diri:
.
Nama : Queenesya M.H.C.V
•tidak ada yang tau mengenai singkatan dari keempat Hurup itu.
Perkiraan Tgl lahir: 15-Nov-03
Ayah kandung:-
__ADS_1
Ibu kantung:-
Bersekolah di:QHS kelas X.C
•anak Beasiswa
•di temukan di semak belukar oleh seorang nenek tua dan diasuh oleh keluarga Petter
Ayah angkat: Johan Petter
Ibu angkat: Jenny Robboe
Saudara angkat: Aurelies Petter
Alamat mansion: Jl.Von Hounter no 135,LA
bersekolah di: QHS, kelas X.A
Gggbrrak
Suara pukulan di meja itupun lantas sangat membuat Gion kaget hingga membuat makan yang tadi ia nikmati kini telah berceceran.
"Anjay..Onta keselip kaktus" ucap Gion sembari menerima minuman dari Kenned agar dirinya bisa tenang sedikit.
"Apaansih ganggu makan orang aja" Ucapnya lagi sambil menatap Dion seperti orang yang menunggu penjelasan
"Tidak ada" Ucap Dion datar
'Ini belum waktunya aku memberi tau mereka' Batinnya berkata demikian, mengingat sifat Gion yang suka ceplas-ceplos membuat dirinya ragu.
Dion kemudian berdiri, menatap mereka denganekspresi seperti biasa dan mulai melangkahkan kakinya jauh dari tempat itu. Kenned juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Dion tadi.
"Pada mau kemanasih" tanya Gion
"Pulang,kalau masih mau disini kau pulang saja sendiri nanti kami tidak akan menunggumu"
__ADS_1
"Kentang goreng menyebalkan...Tunggu aku" teriak Gion sambil berlari beruseaha menyamakan langkahnya dengan kedua saudaranya itu.