QUEENESYA

QUEENESYA
Malam


__ADS_3

Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa hasil kerja kerasnya akan berbuah manis seperti ini. Meskipun usaha ini tidak ia bangun dari nol tapi ia bersyukur keluarganya memberikan dia kepercayaan untuk mengurus perusahaan properti ini. 


Semua ini berkat dukungan dari keluarganya. Tapi untuk peluncuran properti terbaru ini, Esya belum pernah sama sekali membicarakan hal ini dengan keluarganya. Termasuk pada ketiga kakaknya yang merupakan objek penelitian miliknya.


Butuh waktu yang lama untuk ia sekadar berlatih membuat pola hingga pola tersebut kini membentuk patung lilin yang cantik dengan nuansa yang bertema dunia dongeng. Malam ini tepat di sebuah hotel bintang 5, Esya sedang menyiapkan mentalnya untuk berbicara nanti sebagai tuan rumah acara ini. Disampingnya ada Evan yang selalu setia menemani dirinya.


"Jangan gugup,Sya."


"Enggak, Van. Aku cuma lagi nyiapin mental buat bicara nanti."


"Nah, terus ini namanya apa kalau gak gugup? Tangan kamu sampai basah loh."


"Gak papa, Van. Aku baik-baik saja kok."


"Eh, iya. Abis ini kamu ada rencana gak?"


"Ada."


"Apaan?"


"Video call bareng kak Alvi."


"Jam berapa?"


"Kenapa?"


"Enggak. Cuma mau jaga tunangan aku."


"Kan belum resmi kita."


"Udah, kan sisa acaranya doang. Aku udah dapat lampu hijau dari keluarga kamu."


"Ih, udah ah. Aku kesana dulu mau ngomong."


Esya pergi meninggalkan Evan, sudah saatnya ia untuk memulai acara. Pesta malam ini di hadiri oleh banyak orang terutama dari klien papanya. Evan terus memandangi Esya, cara gadis itu menyampaikan sepatah kata terlihat sangat baik.


Setelah menyampaikan kalimatnya, sekarang waktunya Esya memperlihatkan patung lilin yang sudah ia disain. Ukurannya juga tidak terlalu besar namun tentu.saja ini sangat berharga karena patung ini adalah hasil karya Esya yang pertama.


"Baiklah, tidak butuh waktu lama lagi. Aku persembahkan keluaran terbaru perusahaan kami. Miniatur patung lilin..."


"Hei, aku pikir patung itu mirip dengan seseorang."


"Lihat lebih jelas lagi. Bukankah itu terlihat seperti ketiga kakaknya?"


"Ah,iya. Benar juga, itu mereka."


Terlihat Dion, Gion, dan Ken berjalan mendekati Esya. Sebenarnya mereka terlihat sangat bangga namun terdapat pula keterkejutan dalam diri mereka.  Sejak kapan adik mereka itu bisa membuat sebuah maha karya sebagus itu?

__ADS_1


"Mulai besok perusahaan kami akan resmi membuka pemesanan, dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk proses pembuatannya. Para hadirin sekalian, bisa memberi saran dan masukan pada email perusahaan kami..."


"Ada pula kesempatan kerja yang bisa kami tawarkan untuk para seniman maupun pemahat yang ingin berkontribusi didalamnya..."


Setelah selesai berucap, Esya turun dan segera menuju kearah kakaknya setelah mengucapkan terima kasih sebagai kata penutupnya. Sebelah alis Esya terangkat, agak heran melihat ketiga kakaknya datang bersamaan.


"Sejak kapan?" ucap Dion, membuka percakapan mereka.


"Kurang lebih, setahun yang lalu kak. Kenapa?"


"Ah, apa ini yang kau sembunyikan di balik pintu rahasia milikmu, princess?" Gion memastikan.


"Iya, aku ingin membuat kejutan untuk ketiga kakakku. Terima kasih sudah menjadi kakak terbaik di dunia."


"Itu sudah menjadi tugas kami, princess," kali ini Ken yang berucap.


Esya tersenyum manis pada kakaknya. Ia memang sangat beruntung karena memiliki ketiganya dan tentu saja orang-orang yang juga menyayangi dia. Yah, meskipun terkadang ia merasa kasih sayang mereka terlalu berlebihan untuk remaja seusianya.


"Kak, bunda sama ayah mana?"


"Ada kok di luar. Mereka lagi pada reunian."


"Terus Oma, Opa, aunty dan Uncle?"


"Sama. Lagi pada sibuk kek Bunda dan ayah."


"Apaan?"


"Saldo di rekening tambahin yah, kak."


"Itu mah namanya gak cuma-cuma princess. Lagian kamu kan jarang buat belanja."


"Yah, beda dong kak. Kalau dari kakak, buat di donasikan. Yang lain buat kebutuhan di masa depan nanti."


Ketiga pemuda itu pun menggelengkan kepalanya lalu kembali tersenyum. Pemandangan indah itu sontak menjadikan mereka pusat perhatian. Pribadi ketiga pemuda itu memang sangat berbeda jika di belakang keluarganya. Mereka tidak akan segan untuk menjadi iblis jika ada yang menyinggung mereka.


Tidak ada seorangpun yang berani menyinggung mereka. Dan itulah kenapa ketika seisi kampus mengetahui identitas Esya beberapa bulan yang lalu, orang-orang yang pernah mencoba untuk mengusik Esya menjadi berkurang bahkan menghilang entah kemana.


"Hai Sya, kak,,," sapa seorang gadis.


"Eh, Zee... Dari mana aja? Kok baru keliatan?"


"Belakangan ini ada kesibukan." 


"Ck" gumam Gion.


Pemuda satu ini masih kesal dengan kejadian yang baru-baru ini terjadi padanya. Gadis dihadapannya ini ternyata punya ribuan cara untuk membuatnya naik darah. Benar-benar menyebalkan bukan? Ia bahkan sampai salah paham dan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum.

__ADS_1


Gion tidak akan membahas hal ini, setidaknya ia merasa masih mending ketimbang Ken.  Nasip percintaannya sungguh tidak beruntung, lusa kemarin ia mengetahui bahwa Eve sudah bersama dengan Leon.  Ia sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Belum lagi Clara sudah kembali ke Singapura bersama dengan


"Masih kesal?"


"Tau," elaknya.


"Ya udah. Sya, yuk ikut aku yang lain udah pada nungguin."


"Eh, mau pada kemana?"


"Kak Dion. Aku izin Esya dulu yah, gak bakal ilang kok."


"Ya udah. Bawa aja, tapi di jagain."


"Ih, kakak pikir aku anak kecil apa?"


"Hahaha, yaudah sana."


Zee membawa pergi Esya, mereka berlima akan menginap di rumah Zee malam ini. Untuk merayakan kelancaran acara malam ini. Setelah beberapa menit, Evan datang membawa dua gelas minuman.


"Dimana Esya?"


"Kau terlambat. Mereka sudah mengambilnya lebih dulu," Jawab Gion.


"Hah? Siapa?!"


"Si bakpao."


"Cie, yang masih manggil bakpao..."


"Diam gak, dasar pemuda miris."


"Heh?! Apa kau bilang?"


"Pemuda miris. Kenapa? Kau sudah di tolakan."


"Hei, jangan buka kartu ku disini, kau sangat menyebalkan."


Ken pergi meninggalkan Gion begitu pula dengan Gion yang pergi meninggalkan Dion dan Evan.


"Ada apa dengan mereka berdua?"


"Entah...."


Dion juga ikut pergi dari sana. Kini tinggallah Evan dengan dua gelas di tangannya. Sebenarnya ia sudah berencana untuk membawa Esya ke suatu tempat, namun sepertinya harus ia urungkan untuk sekarang. Setidaknya jauh lebih baik seperti ini dari pada Esya harus menghabiskan malamnya dengan video call bersama dengan Alvi.


Sesungguhnya Evan juga sangat tahu kalau hubungan Esya dan Alvi hanyalah sebatas saudara namun tetap saja, mereka tak memilik hubungan yang sedarah. Bukan ingin melarang, atau membatasi, Evan hanya takut jika perasaan gadis itu suatu saat akan berubah. Sama seperti pada kasus Leon dan Eve. Sejujurnya Evan tau hal ini dari Angga karena kekasihnya Melsha adalah salah satu anggota dari grup para gadis itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2