QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 31 Ceramah


__ADS_3

Malam hari yang sunyi di mansion, ketika sebuah mobil Lamborghini telah terparkir ditempatnya, Dion,Gion,dan Ken, ketiga lelaki itu sekarang sedang berada di hadapan keempat tetua yang selama ini mereka panggil dengan sebutan Oma dan Opa.


Ketiganya hanya bisa menunduk, takut melihat tatapan yang begitu mengintimidasi itu, seperti sedang bersiap untuk memangsa mereka hidup-hidup.


"Apa ada yang ingin kalian jelaskan?" Ucap Oma Hellen yang sudah berdiri dari duduknya dan sudah berjalan mengelilingi ketiga cucunya itu sambil menepuk-nepuk telapak tangannya.


'Mampus'pikir Dion dan Gion yang sekarang sudah menatap Ken seperti sedang memohon, agar memberi penjelasan pada Oma mereka yang satu ini.


Dion serta Gion tidak berani berbicara satu katapun, ketika Oma Hellen yang sudah berbicara seperti ini, karena mereka tau bagaimana garang Omanya itu ketika sudah marah, terlebih jika sisi psyco Omanya itu sudah muncul.


Mengalihkan pandangan dari Ken, yang sepertinya memang tidak berani untuk berbicara sekarang ini, begitupun dengan Dion yang sudah memasang wajah datarnya, untuk menutupi ketakutannya.


"Kenapa diam?" tanya Oma hellen lagi


"Darimana kalian, sampai seharian tidak pulang" ucap opa Hans


"Lalu, siapa gadis yang kalian bawa ini" ucap Oma Amel yang sudah sejak tadi mengamati Esya yang ikut tertunduk tidak jauh dari ketiga remaja lainnya.


Sepertinya Esya salah mengambil pilihan tadi, seharusnya Esya tetap memilih untuk tinggal bersama Zee sementara waktu ini, sampai ia menemukan tempat tinggal baru.


Esya sangat tidak enak hati, jika harus merepotkan orang-orang di sekitarnya, tak apa jika ia harus tinggal di rumah yang kumuh atau bahkan di teras pertokoan asalkan ia hidup dengan hasil usahanya sendiri.


"Kalian tidak berbuat yang macam-macam kan" tanya Opa Robert pada ketiganya dengan penuh selidik

__ADS_1


"Astaga Opa jangan berpikiran anehdeh  mana mungkin kami berbuat macam-macam dia itu..." Ucap Gion dengan refleks namun sebelum perkataannya selesai Ken sudah membungkam mulutnya


"Dia apa?" Tanya opanya penasaran


"Dia ini adalah gadis yang kami tolong lusa kemarin, namun karena kondisinya yang tidak stabil kamiemutuskan untuk membawa dia ke RS" ucap Ken dengan asal


'Ya Tuhan, maafkan Dion/Gion/Kennned karena sudah membohongi kalian'Batin mereka bersama-sama lalu menatap keempat Ketua dirumah ini.


Mereka sama sekali tidak bermaksud untuk berbohong, mereka ingin mengatakan yang sebenarnya, hanya saja ini memang belum waktunya, masih banyak hal yang harus mereka selesaikan terlebih dulu.


Terlebih lagi Esya sendiri belum mengetahui kebenarannya, apa yang akan dipikirkan oleh gadis itu nantinya , Esya tidak mengetahui seluk-beluk dari gelang miliknya, Esya juga hanya tau jika gelang miliknya bukan gelang biasa seperti yang di jual pasaran.


Maka dari itu Dion,Gion dan Ken memerlukan hasil tes DNA milik Esya agar nantinya tidak ada yang akan berani melakukan suatu hal yang bisa melukai ataupun membuat gosip buruk tentang gadis itu.


"Panggil saja dia Esya"


"Ah, namanya mengingatkan aku pada cucu kita, benarkan?"


"Yah,Kau benar"  


"Kemarilah nak, tidak perluh takut"


Esya hanya menunduk, dengan cangung gadis itu berjalan kearah dimana salah satu orang tua yang sudah berkepala lima. lekas setelah ia tiba di hadapan Oma Amel, sebuah tangan menyentuh pipinya dengan lembut.

__ADS_1


Esya mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, menatap wanita parubaya di hadapannya itu, tanpa di sadarinya senyum tipis Esya mulai timbul, menampilkan kedua lesung yang selalu menghiasi wajahnya.


"Cantik sekali" ucap Oma Amel dengan tatapan yang senduh, lalu memeluk Esya dengan pelukan yang hangat, lalu menatap ketiga cucunya


"Ayo,Esya Oma akan mengantarmu ke kamar" ucap Oma Amel yang mulai berjalan menjauhi mereka.


Ketiga remaja laki-laki itu hanya diam melongo menatap punggung kedua manusia berbeda generasi itu, yang sudah semakin menjauh dari mereka.


"Jadi..." Ucap Oma Hellen menggantungkan ucapannya


"Oma,Opa Ken baru ingat ada urusan genting, Ken pergi dulu yah"   ucap Ken yang langsung melambung ucapan omanya, lalu pergi menjauh.


"Dion ke kamar dulu, dion mau istirahat "  disusul dengan ucapan Dion yang langsung bergegas pergi menjauh dari ruang keluarga, tanpa menunggu perserujuan yang lainnya.


Sekarang di ruang keluarga hanya ada Gion,kedua Opanya serta Oma Hellen yang sudah mulai menatapnya seperti Ingin menerkam sesuatu.


"Ehm, Oma cantik, istrinya Opa Robert yang ketampanannya masih kalah dari Gion, Gion ke kamar dulu yah." ucap Gion yang sudah berlari menjauhi mereka, tidak mau menjadi korban wawancara dadakan dari Oma dan juga Opanya.


Di ruang keluarga, hanya tersisa Oma Hellen,Opa Robert dan Opa Hans. Mereka bertiga hanya menggelengkan kepala, tidak mengerti akan perilaku ketiga Cucunya itu.


Apa mereka pikir, selama ini bebas berkeliaran di luar sana tanpa ada yang mengawasi. Kalau begitu mereka sangat salah besar, karena sudah ada beberapa orang yang mereka tugaskan secara khusus untuk memantau keseharian mereka di luar sana.


Tentang kecurigaan cucu mereka terhadap Esya, juga sudah mereka ketahui. bahkan Masalah yang sedang dihadapi oleh gadis itu juga sudah sampai di telinga mereka, hanya saja mereka memilih diam dan menyerahkan tanggung jawab itu pada ketiga cucu laki-laki mereka.

__ADS_1


__ADS_2