
Cahaya matahari sudah mulai merambat masuk, menelusuri jendela kamar bertirai putih itu. Dimana di atas kasur Queenzise itu, terdapat seorang gadis yang masih bergelut dengan bantal dan selimut tebal.
Mata gadis itu perlahan terbuka menampilkan mata biru yang indah, kemarin malam Esya memilih untuk ikut bersama ketiga lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Kemarin Esya datang dengan penampilannya yang seperti biasa, menggunakan Softlens untuk menutupi warna asli lensa matanya, lalu menggunakan kaos berlengan panjang yang mampu menutupi gelangnya.
Tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali ketiga lelaki yang mengantar ia kemarin. Dengan lantang meminta Esya agar menutupi kedua hal itu dari keluarga mereka, entah untuk alasan apa.
Esya juga tidak tahu, namun ia bersyukur masih bisa bertemu dengan mereka yang begitu baik padanya. Bagi Esya, itu sudah cukup baginya, Esya tidak akan pernah mau meminta lebih.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan itu menyadarkan. Esya dari lamunanya, dengan cepat Esya mengambil Softlens baru di dalam tas kecilnya itu lalu menggunakannya, mengambil handuk lalu menutupi tempat dimana gelang itu bertengger selama ini.
Esya berjalan menuju arah pintu, memegang gagang pintu itu lalu, menarik napasnya sebelum membuka pintu. Kini dihadapannya terdapat seorang wanita yang sedang memegang paper bag.
"Permisi nona, ini saya bawakan pakaian sekolah anda?" Ucap Bibi Tutik, salah satu orang kepercayaan keluarga vondrienty, bibi Tutik ini asli orang indonesia yang sudah lama bekerja di mansion inj
"Ah, iya. Terima kasih bibi"
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu"
Esya menatap punggung wanita yang semakin jauh dari pandangannya, setelah itu Esya kembali masuk kedalam kamar, tak lupa untuk mengunci pintunya.
Esya segera bersiap, memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia kadang heran dengan gelang miliknya ini, dari dulu Esya tidak pernah bisa melepaskannya, mansion ia selalu membawa gelang ini tapi gelangnya sama sekali tidak berkarat sedikitpun.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Esya sudah menggunakan handuk, Esya lalu keluar dan mulai bersiap-siap, berjalan ke arah cermin hias, menyisir rambutnya lalu menggunakan sedikit posesan berupa bedak bayi pada kulit wajahnya itu.
Tok...tok...tok...
"Sya, buka pintunya" teriak Ken dari luar
Dengan cepat Esya berjalan dan membuka pintu untuk Ken dan kedua saudaranya, karena tadi pendengaran Esya menangkap ada tiga suara langkah kali. Setelah membuka pintunya, ketiga lelaki itupun sudah berjalan memasuki kamar yang sudah menjadi miliknya untuk sementara waktu ini.
Di tangan Gion terdapat sebuah jaket, yang memiliki ukuran khusus untuk kaumnya, Gion dengan refleks langsung saja memakaikan jaket itu pada Esya yang hanya terdiam memperhatikan aksinya.
"Terima kasih" ucap Esya dengan menundukkan kepalanya.
Esya menatap mereka satu persatu tanpa terkecuali, memegang erat ujung jaket dan meremasnya pelan, ketiga lelaki itu menatap keluarkan Esya sambil mengangkat satu alisnya bersamaan.
"Kak, apa aku bisa bertanya sesuatu?"
"Kenapa kakak-kakak begitu peduli sama Esya, padahal Esya bukan siapa-siapa kalian" tanya Esya pada mereka semua
"Kenapa kamu bertanya seperti itu Sya?" Tanya balik Gion pada Esya
Ada rasa tidak terima yang di rasakan Gion ketika Esya berkata seperti itu, emang Tidak salah bukan jika mereka peduli pada adiknya sendiri, sayangnya Esya belum mengetahui tentang kebenaran itu.
Lihatlah kini didepan mereka, Esya terlihat menunduk seakan-akan mereka adalah serigala yang akan menerkam dirinya. Tangan Gion bergerak menyentuh pipi Esya, menatap wajah gadis itu dengan lembut.
"Karena kamu itu istimewa" ucap Gion yang membalas pertanyaan Esya tadi.
__ADS_1
"Ta-pi kenapa?"
"Belum waktunya untuk kamu mengetahi hal ini" ucap Dion yang memperlihatkan senyum tipisnya pada Esya
"Ayo sebaiknya kita ke meja makan Sekarang, sebelum tanduk Oma Hellen muncul lagi" ucap Ken mengajak ketiganya. Sekilas mereka mengingat kejadian kemarin malam, lalu menggelengkan kepala dan segera menyusul Ken yang sudah berada jauh di depan mereka.
Setelah tiba di ruang makan, seluruh mata menatap mereka, begitupun sebaliknya. Dimeja makan itu sudah terdapat Oma dan Opa mereka, bunda Melan dan ayah Lukas , serta Aunty Sasha dan uncle Andre yang sudah menunggu mereka sejak beberapa menit yang lalu.
Mata kedua manusia berbeda gender itu menatap lekat ke arah gadis yang ada di hadapan mereka sekarang. Batinnya seperti bergejolak ketika mata mereka bertemu, rasa nyaman dan rasa rindu akan sosok putrinya yang begitu kuat, terekspor melalui mata mereka.
"Kemarilah, gadis manis" ucap bunda Melan, memanggil Esya agar menuju ke arah Dimana ia sedang duduk.
Ketika Esya sampai Disana, sebuah pelukan hangat sudah dapat ia rasakan dari wanita yang ada di hadapannya kini. Ada rasa nyaman yang dapat ia rasakan, seperti sedang mendapat pelukan dari orangtua kandungnya.
"Gadis ini mengingatkan aku pada putri kita, jika dia ada disini pasti sudah sebesar gadis ini, cantik dan begitu menawan bukan" ucap Bunda Melan sambil menatap sendu pada sang suami, yang hanya dibalas dengan senyum tipis.
"Siapa namamu gadis cantik?" Tanya Ayah Lukas pada Esya yang sekarang sedang menunduk
"A-ku Es-ya" jawab Esya dengan terbata
"Ayo duduk dan makanlah, kalau tidak kalian bisa terlambat" perintah Oma Hellen pada ke empat anak remaja itu, yang dengan sigap di lakukan oleh mereka.
Esya duduk diantara Bunda Melan dan Ayah Lukas, tandinya ia bingung ingin duduk dimana, namun Bunda Melan justru meminta Esya untuk duduk di kursi yang selama ini kosong.
Kursi milik Queenesya, Putri tunggal mereka, yang selama ini sudah Bunda Melan jaga dan tidak membiarkan siapapun untuk menduduki tempat itu.
__ADS_1
Entah kenapa perasaan Bunda Melan justru ingin agar gadis yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu duduk di antara mereka.