QUEENESYA

QUEENESYA
Ulang tahun Zee


__ADS_3

Pada malam hari, tepat 2 jam sebelum tengah malam. Esya beserta yang lainnya sudah ada di lokasi tempat yang istimewa untuk merayakan ulang tahun sahabat mereka. Esya, Ginta, Eve dan Melsha sedang mendekor, bunga mawar mereka rangkai dalam bentuk cinta, ada kotak besar juga yang mereka siapkan untuk kejutan lainnya. Balon berwarna putih dan pink juga menghiasi setiap sudut tempat itu. Meja makan yang tak jauh dari sana, dengan lilin wewangian diatasnya.


Gion meminta bantuan pada Ken untuk menyiapkan beberapa orang dari markas yang ia sedang kelola sekarang untuk menjalankan rencananya yaitu, skenario penculikan Zee. Sementara mereka disini menunggu kedatangan Dion dan orang tua Zee yang sedang dalam perjalanan dari villa di puncak.


Esya menghampiri Gion yang sedang menyusun hadiah didalam kotak besar itu.


"Kak Gio, mau aku bantuin?"


"Gak usah sayang. Kamu bareng teman-teman kamu aja."


"Beneran gak mau di bantuin kak? Aku liat kakak agak kerepotan loh."


"Yaudah, kamu panggil Evan aja, suruh dia kesini buat angkat boneka yang kita beli tadi. Bonekanya ada di mobil kakak."


"Baik kak, aku cari Evan dulu."


"Eh, iya. Bareng sama buket bunga yang tadi kita beli yah, Princess."


"Oke..."


Esya pergi mencari Evan, pemuda itu tadi pergi mengangkat panggilan telpon namun belum juga kembali. Esya melihat seorang pemuda sedang duduk di kursi, ditengah-tengah kebun bunga mawar. Esya menghampiri Evan dan duduk di samping pemuda itu.


"Van, dicariin kak Gion tu. Katanya bantuin dia ngambil boneka di mobil sama bukti bunga."


"..."


Esya tidak mendapat jawaban dari pemuda itu.


"Hei, kamu gak papa kan? Kok aku ngomong gak di dengerin."


"Evan... Hei...."


Esya mendekatkan wajahnya ke dekat Evan. Ia sudah berniat ingin berteriak tepat di telinga pemuda itu, membuatnya kesal saja malam ini. Padahal hari ini adalah hari yang istimewa karena selain perayaan ulangtahun Zee, hari ini juga adalah hari dimana kakaknya melepas status lajangnya.


Ketika wajah Esya sudah dekat dengan wajah Evan. Pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit.


Cup...


Bibir Esya berhasil mendarat di pipi Evan. Mata gadis itu melotot tepat ke mata Evan, pipinya mulai merona. Evan tersenyum lebar, sambil memandang ke arah Esya. Gadis itu sedang malu sekarang.


"Makasih buat hadiahnya."


"Ih, Curang. Tau ah, malas sama kamu."

__ADS_1


Esya berlari menjauhi Evan yang sedang tertawa, jarang-jarang ia mengerjai Esya seperti ini. Setelah Esya pergi, Evan pun menuju ke mobil Gion untuk mengambil Boneka dan buket bunga. Maat Evan melotot, Apa yang mengejutkannya adalah ukuran boneka itu besar butuh setidaknya dua orang untuk membawa boneka itu masuk.


"Gion!!!" teriaknya kesal.


"Gak usah teriak. Lu gak sendiri."


"Lah, lu ngapain disini?"


"Ya udah, gue pergi. Niat mau bantu mala banyak tanya."


"Eh...eh... Bantuin Napa Briand. Lu gak liat gue susah"


"Lah, tadi udah niat bantu mala tanya sekarang gue pergi mala nyuruh. Aneh, lu."


"Yaudah, cepat sini. Ntar gue traktir sekotak ice cream."


"Lu pikir gue anak kecil pakai disogok segala? Ayo cepat, malas gue disini."


Brian baru saja tiba di lokasi, sebenarnya hari ini ia sedang kesal karena orang tuanya menjodohkannya dia dengan anak dari teman bisnis papanya. Tiba di sini bukannya tenang, justru membuatnya semakin kesal saja karena ulah Evan.


Dilain tempat, Dion baru selesai memarkir mobilnya di parkiran setelah 15 menit Evan dan Briand masuk.


"Ayo...Uncle,Aunty. Yang lain pasti sudah menunggu."


"Aku juga, apa semuanya sudah siap?"


"Udah kok, Aunty. Tinggal beberapa hal lagi, Zee juga sepertinya belum sampai."


"Baiklah."


Dion mengabari Gion sebelum mereka masuk. Setelah masuk mereka mulai menyelesaikan hal terakhir tadi. Kotak besar itu, isinya luas. Muat untuk 5 orang dewasa didalamnya. Rencana Gion adalah saat Zee membuka matanya maka Evan akan menggunting tali di belakang kotak itu agar terbuka. Didalam kotak itu akan ada Gion, orang tua Zee dan boneka serta buket bunga dan kue ulang tahun.


"Semuanya sudah siapkan? Orang ku sudah ada di depan."


"Ayo semua ambil posisi kalian."


Setelah berada di posisi masing-masing, Ken memberitahukan pada orangnya agar segera membawa Zee ke dalam, dan mendirikan Zee tepat didalam bentuk love yang sudah disusun oleh Esya dan teman-temannya tadi.


1...2...3....


Lagu ulangtahun terdengar.


Mata Zee perlahan terbuka bersamaan dengan kotak besar itu. Saat penglihatan Zee sudah membaik, tangisnya perlahan pecah, didepannya sekarang ada orangtuanya dan Gion. Mama dan papanya menebang sebuah kue ulangtahun, dan pemuda yang sudah lama ia puja memegang sebuket bunga mawar.

__ADS_1


"Maaf jika kejutannya tidak mengesankan. Aku bukan pemuda yang romantis, tapi aku janji akan berusaha untuk membawa banyak kebahagiaan untukmu...."


"I Love you, Zee. Will you be my girl friend?"


"Yes, I Will.... Hiks...hiks..."


"Happy birthday, Honey."


"Happy birthday, sayang" ucap orang tua Zee


Ucapan Ulang tahunpun diterima Zee dari teman-temannya. Setelah memeluk Gion, Zee beralih memeluk orangtuanya. Tangisnya pun kembali pecah, ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini dari teman-temannya terutama dari Orangtuanya dan juga Gion, kekasihnya saat ini.


"Maaf ya, sayang. Mama dan papa baru muncul sekarang."


"Eh, maksudnya?"


"Sebenarnya selama ini kami liburan di puncak. Kami gak ngabarin kamu karena ini semua rencananya Gion."


"Gak apa. Ma,Pa.... Yang penting sekarang mama dan papa ada di sini. Saat ulang tahun Zee, Zee bahagia ketemu mama dan papa."


Acaranya pun berlanjut, Mengucapkan permohonan, memotong kue, makan bersama. Zee sangat senang malam ini, awalnya ia berpikir benar-benar akan diculik namun setelah berada di sini ia tersenyum sendiri, karena ia sadar hanya dirinyalah yang sedang menggunakan pakaian tidur.


Di tempat Dion dan Ginta, pasangan ini sedang memandangi sekitar mereka. Semuanya tampak bahagia, terutama Zee, ia tak menyangka bahwa Gion memiliki sisi yang seperti ini. Sangat berbeda dengan Dion ketika pertama kali menyatakan perasaannya. Pemuda di sampingnya ini langsung saja pada intinya tanpa kata-kata kiasan.


"Gion sangat berbeda malam ini."


"Apa kau cemburu?"


"Untuk apa?"


"Aku pikir kau baru saja membandingkan aku dengannya."


"Tidak. Jangan sok tau."


"Iya, aku tau. Lagi pula kau gadis yang tidak suka hal yang ribet."


"Ya, kau benar. Aku memang orang seperti itu dan aku juga dipertemukan dengan pemuda yang tidak suka repot."


"Hahaha, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu."


"Iya, aku rasa juga begitu."


Ginta tersenyum, ia dan Dion memang memiliki banyak kesamaan. Dan persamaan itulah yang mampu menghubungkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2