QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 54 Drop lagi


__ADS_3

Para orang tua yang semula berada di luar ruangan itu kini sudah mulai berjalan memasuki ruangan di mana Esya masih dirawat. Bunda Melan dan ayah Yohan serta segenap keluarga besar Vondrienty, mulai menghampiri Esya yang hanya diam mendengar ocehan teman-temannya


"Gak mau. Aku mau nikah sama Esya bukan sama tiang listrik" ucap Evan kesal


"Ekhm... Siapa yang mau nikah sama anak saya!?" ucap ayah Yohan ketika telinganya tak sengaja mendengar ucapan Evan.


"Evan ayah/uncle" ucap semuanya kecuali Orion sambil menunjuk kearah Evan.


Evan yang menjadi perhatian semua orang langsung saja berpura-pura menoleh ke arah lain membuat semua yang ada diruang itu sedikit terhibur dengan suasananya.


"Orion,kamu sepupunya Evan kan apa dia pernah bilang mau nikahin anak saya!?"


"Gak kok uncle, Evan itu maunya sama lampu jalanan" ucap Orion yang sudah hampir tertawa karena wajah masam Evan


"Oh, kalau gitu Orion aja yang nikah sama anak saya gimaan?"


"Gakkkk....." teriak spontan Evan kala mendengar ucapan Ayah Yohan yang justru mampu membuat semuanya tertawa


"Maaf uncle, saya sudah punya tunangan" ucap Orion mantap


Bunda Melan dan ayah Yohan menghampiri Esya yang hanya diam dan tidak bersuara, ia begitu mengerti Bagaimana keadaan putrinya sekarang terlebih kata dokter Santos tadi bahwa amnesia yang dialami Esya kemungkinan besar akan Permanen.


"Sayang, ini Bunda, bundanya Esya, Dion sama Gion." ucap Bunda Melan sambil merabah pelan puncak kepala Esya


"Princess, ini Ayah, ayahnya princess, Dion sama Gion" ucap Ayah Yohan yang langsung memberikan kecupan manis di dahi Esya


"Kedua wanita cantik disana itu adalah Omanya Esya,Oma Hellen dan Oma Amel. Kedua pria tampan itu adalah Opa Robert dan Opa Hans"


"Hai princess aku Sasha, Aunty kamu. Dan dan lelaki disana adalah suami aunty namanya Andreas"


"Hai princessnya uncle udah mendingan belum?" Tanya uncle Andreas yang hanya mendapat senyum dari Esya sebagai jawaban


Setelah para generasi itu berikutnya giliran generasi dari Opa Robert, mereka berjalan mendekati ranjang di mana Esya berada. Oma Amel dan Oma Helen langsung memeluk tubuh cucu perempuannya itu dengan sayang sama halnya juga dengan Opa Robert dan Opa Hans.


Akhirnya sudah tiba di mana rasa rindu mereka sudah terbalaskan dengan kembalinya princess kesayangan keluarga yang sudah begitu lama mereka cari selama bertahun-tahun ini. Akhirnya tiba di mana hari yang semula gelap kini menjadi terang kembali, senyum Dan tawa yang sudah lama hilang kini sudah hadir lagi.


Ayah Yohan dan Bunda Melan serta kedua putranya sekarang sedang duduk tidak jauh dari ranjang Esya. Banyak hal yang ingin kedua orang tua itu tanyakan pada anak kembarnya, tentunya ini sangat ada sangkut pautnya dengan Esya sendiri.


"Sekarang jelaskan ke Bunda, mengapa sejak awal kalian menyembunyikan hal ini!?"


"Eh, itu Bun. Panjang ceritanya"


"Yang penting sekarang Esya sudah berada di pelukan kita lagi"


"Tapi kau lihat yang terjadi sekarang. Kata dokter Esya kemungkinan mengalami amnesia permanen"

__ADS_1


"Wah, bagus dong bunda"


Bunda Melan mengangkat salah satu alisnya tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Gion. Esya amnesia bukannya kuatir justru teramat sangat senang padahal sepertinya hal ini kurang baik untuk Esya berikutnya.


"Bagus kenapa!?"


"Kalau Esha amnesia permanen Bunda. Esya tidak akan mengingat kenangan buruk yang pernah dia alami terutama bullying di sekolah dan juga kelakuan yang diberikan oleh keluarga Petter serta kejadian yang dialami belakangan ini"


"Benar juga apa kata kau Gion. Tumben kau pintar!?" ucap Dion mencoba mengejek Gion


"Aku memang pintar apa kau baru sadar manusia es!?" Tanya balik Gion pada Dion


Ayah Yohan dan Bunda melan hanya tersenyum melihat kelakuan kedua putranya itu. Sejak dulu, mereka masih saja sama tidak ada yang ingin mengalah dan masih suka saling mengejek satu sama lain. Sifat mereka yang bertolak belakang kadang membuat mereka seperti kucing dan anjing, Dion dengan sifat dinginnya sedangkan Gion dengan sifat hangatnya.


"Eh, sudah lah kepintaran kalian juga turunan dari siapa!? Pasti dari kami kan" ucap ayah Yohan di sela-sela pertengkaran mulut mereka


"Ayah salah. Kepintaran Ayah turunan dari siapa!?" Tanya Gion pada sang ayah


"Sudah jelas dari Oma dan Opa kalian" jawab ayah Yohanes dengan bangganya


"Jadi kepintaran kami sumbernya dari!?" tanya Dion pada ayah Yohan


"Ya dari Oma dan Opa kalianlah"


Disisi lain Orion dan Angga masih duduk bersama, entah pembicaraan apa yang sedang mereka bahas sejak tadi sampai mengabaikan Evan yang tidak duduk terlalu jauh dari keduanya.


"Kalau aku gak bareng Melsha udah aku kejar dia"


"Kalau aku gak punya tunangan juga udah aku iyain aja ajakan uncle Yohan tadi"


"Ekhm... Mau aku lapor ke Aunty Bianca!?" tanya Evan sedikit mengancam Orion karena sudah membuatnya kesal sejak tadi.


"Dasar singel karatan"


Sedangkan tepat di di ranjang Esya sendiri disana ada Zee dkk.a mereka mencoba untuk mengingatkan Esya tentang perkenalan pertama mereka disekolah. Disaat Esya mencoba untuk mengingat kembali kepalanya langsung saja sakit.


"Jika tidak bisa mengingatnya, tidak usah di paksakan Sya"


"Yang terpenting kamu tahu kalau kami adalah sahabat terbaik kamu"


Esya hanya tersenyum menanggapi percakapan Zee dan yang lainnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pula sejak ia terbangun tadi Esya juga merasa bahwa semua orang yang ada di depannya memang sangat terlihat asing kecuali pada Bunda Melan.


🌺Queenesya🌺


Bunda Melan memandang wajah sang putri dengan ditemani senyum manisnya, sudah lama bunda Melan tidak tersenyum bahagia seperti sekarang. Dirinya begitu bahagia karena putrinya sudah ia temukan.

__ADS_1


"Ngght.." gumam Esya dalam tidurnya, perlahan mata itu terbuka menampilkan lensa mata berwarna biru miliknya.


"Udah bangun sayang, mau Bunda ambilin sesuatu gak?" ucap bunda Melan sambil merabah puncak kepala Esya Yang hanya memberi senyum tipis.


Bunda Melan mulai menghampiri kedua putranya yang sedang berbaring di atas sofa sambil bermain game di ponselnya. Evan dan yang lainnya sudah pamit pulang sekitar 3 jam yang lalu. Oma dan opa juga sudah kembali ke mansion atas perintah dari ke empat anaknya.


Uncle Andreas sekeluarga juga sudah pergi lebih dulu, aunty Sasha kembali untuk menyiapkan makan malam, sedangkan Kenned ikut dengan sang ayah ke markas besar untuk mengurus beberapa hal. Di dalam ruangan ini hanya tinggal kedua remaja kembar itu, bunda Melan, Ayah Yohan dan Esya saja.


"Apa benar kalian adalah keluargaku?" Tanya Esya halus, takut-takut jika sampai menyinggung perasaan mereka.


"Kenapa,Sayang?"


Esya menggelengkan kepala,bingung. Bingung ingin berkata apa lagi kepada wanita cantik yang yang ada dihadapannya Sekarang ini. Wanita yang mengaku sebagai bundanya, jika mengingat kata keluarga Esya kadang merasa hal itulah yang sangat ia rindukan sejak dulu.


Meskipun Esya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalunya, banyak memori yang sudah hilang dari sana. Yang Esya ingat hanya pertemuan singkatnya dengan bunda Melan, setelah itu tidak ada lagi.


"Apa kita benar-benar pernah bertemu sebelumnya?"


"Princess, aku ini bunda mu tentu saja kita sering bertemu"


"Tapi kenapa?, Aku merasa kalau taman itu adalah tempat pertemuan pertama kita"


"Sayang, itu mungkin cuma perasaan kamu aja. Kamu itu anaknya bunda sama ayah, adiknya kedua bocah kembar itu dan cucu dari ke 4 keluarga besar" ucap bunda Melan dengan lembut.


Kedua lelaki remaja itu sudah menatap bundanya malas, keduanya tidak terima atas penuturan bundanya barusan. Siapa yang tadi dimaksud dengan Bocah kembar, jelas-jelas di ruangan ini hanya ada mereka berdua.


"Ada apa dengan kalian berdua?".


"Siapa yang bunda katakan sebagai bocah kembar tadi!?"


"Jelas-jelas kami sudah berumur 16 tahun"


"Hm"


Esya, gadis itu hanya tersenyum melihat ketiga manusia yang ada di hadapannya sekarang. Perasaanya begitu tentram berada di tengah-tengah keluarga kecil ini. Selain itu, memiliki teman seperti Zee dan yang lainnya menambah rasa syukurnya.


"Bunda" ucap Esya pelan namun masih bisa di dengar oleh bunda Melan.


"Ada apa sayang?"


Esya tidak menjawab pertanyaan dari bunda Melan, justru tubuh gadis itu langsung saja memeluk tubuh bunda Melan dengan eratnya.


"Terima kasih" ucap Esya sebelum kesadaran gadis itu menghilang.


Perlahan tangan Esya mulai terlepas dari pelukan bunda Melan. Kesadaran gadis itu sudah hilang sepenuhnya, Esya sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Princess...." teriak bunda Melan setelah mendapati mata Esya tertutup lagi.


Dion, Gion bahkan ayah Yohan segera berlari menuju ranjang Esya. Dilihatnya bunda Melan sudah menangis mendapati tubuh sang putri yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Dengan kuatir ayah Yohan kembali menghubungi dokter Santos untuk memeriksa keadaan Esya lebih lanjut.


__ADS_2