QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 38 Hayalan Vs Realita


__ADS_3

Mata tajam lelaki itu masih saja fokus pada sosok indah nan manis di depannya itu, gadis itu sejak tadi hanya terfokus ke luar jendela, mengabaikan percakapan sahabatnya yang sedang asyik-asyiknya bergosip ria tentang salah satu Girl band Korea yang sedang naik daun saat ini, BlackPink itulah namanya. Esya seperti sangat tidak tertarik akan topik pembahasan mereka, dengan gesit ia membuka ranselnya lalu mengambil buku bacaan yang selama ini menemani kebosanannya.


"Unik"


Satu kata yang keluar dari bibir lelaki remaja itu mampu membuat teman sebangkunya menoleh, ia langsung saja mengarahkan pandangannya ke arah dimana pandangan Evan tertuju, lalu dengan sendirinya senyum itu tercipta, tangan Angga kini memukul bahu Evan sebagai tanda dukungannya.


"Dia memang gadis yang unik"


"Kau tau banyak tentang dia?"


"Tidak. Aku hanya tahu kalau dia bekerja paruh waktu di salah satu cafe yang tak jauh dari sini"


Bekerja, satu kata yang mampu membuat Evan tertegun kaget, sekarang justru semakin banyak pertanyaan yang timbul tentang gadis itu, rasa penasarannya semakin meningkat dan sekarang rasa kagum akan sosok gadis itu semakin banyak saja.


"Keluarganya bagaimana?"


"Tidak ada yang tahu"


"Tempat tinggalnya?"


"Itu mana aku tahu, aku bukanlah seseorang yang selalu berada di sampingnya tiap waktu"


"Oh,baiklah"


Evan berdiri dari duduknya, lalu mengikuti Esya yang tadi sudah meminta izin pada ketiga sahabatnya itu dan berjalan keluar kelas. Angga yang melihat itu hanya tersenyum lagi ia jadi mengingat kembali perjuanhannya dulu ketika ingin memenangkan hati Melsha Flickr, Gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu.

__ADS_1


👯QUEENESYA👯


J


am pelajaran selama 4 jam kedepan memang sedang kosong, kedua pengajar itu sedang memiliki urusan sendiri jadi tidak sempat hadir untuk mengajar para siswa-siswinya. Hal itu menjadi keuntungan tersendiri untuk para siswa kelas X.C itu, dengan begitu mereka bebas untuk melakukan kegiatan apapun untuk menanti bel pulang berbunyi.


Seperti sekarang ini ada yang langsung pergi ke kantin, ada yang tidur, bergosip, nonton film, bermain game, mendengarkan MP3, bahkan ada pula yang sedang menghibur dengan kekonyolan mereka, ada pula yang sedang galau merana karena tidak mendapat balasan dari sang kekasihnya, itulah Angga.


Sudah berapa menit ia menunggu namun pesannya belum saja di Read oleh Melsha, inilah akibatnya jika bersekolah di tempat yang berbeda. Dirinya berada di LA, sedangkan Melsha memilih ikut bersama kedua orang tuanya untuk menetap di daratan China itu. Karena lama menunggu, Anggapun berinisiatif untuk menelpon kekasihnya itu.


Tut..Tut..


"Aku merindukanmu" ucap Angga langsung tanpa kata pembuka hallo.


"Aku juga merindukanmu" balas Melsha dari seberang sana


Trett...trett


Getar ponselnya membuatnya kesal, ketika selesai mengecek ternyata ponselnya sedang kehabisan pulsa. Bagaimana ia bisa lupa untuk mengisinya. Bahkan pada saat-saat seperti inipun kartu ponselnya justru memutuskan sambungan telpon mereka, yakinlah bahwa kekasihnya nanti akan ngambek lagi, dan ia harus melakukan hal gila yang akan diperintahkan oleh Melsha nantinya.


Sedang disisi lain, Evan masih saja terus mengikuti kemana arah Esya melangkah, nyatanya gadis itu justru menuju ke taman belakang sekolah, salah satu tempat sepi dan jarang di kunjungi oleh para penghuni sekolah ini. Tampak senyum mengembang diwajahnya, karena bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan gadis itu.


Namun, lekas ketika Evan ingin menghampiri gadis itu justru sudah terlambat. Ada seseorang yang sudah menghampirinnya dan memilih duduk di samping bangku taman dimana Esya terduduk. Evan kurang tau pasti lelaki itu Gion atau Dion Dikarenakan keidentikan mereka berdua.


"Kenapa kemari?"

__ADS_1


"Kelas Esya kosong kak, kakak sendiri ngapain kesini?"


"Itu tadi kakak cuma lewat terus gak sengaja liat kamu yaudah deh kakak datangin kamu aja"


"Emang kelas kakak gak belajar?"


" Itu...ah, sya kakak pergi dulu yah pengajarnya udah mau datang" ucap Dion setelah membaca pesan singkat dari Ken dan Gion


"Ah,baiklah"


Sebelum Dion beranjak pergi tak lupa ia memberikan sapuan hangat pada puncak kepala Esya dan meninggalkan sebuah ciuman hangat di atas dahi gadis itu. Hal itu lantas membuat Evan yang tidak terlalu berada jauh dari sana mengeram marah, tidak terima akan akan peristiwa yang baru saja terjadi tadi.


Setelah dirasa Dion sudah pergi jauh dengan cepat Evan berjalan menghampiri dimana Esya berada. Setelah ia berada tepat di belakang gadis itu, iabmenunduk dan dengan sedikit hembusan napasnya yang mampu membuat gadis itu dengan refleks menoleh ke belakang. Bagaimana tidak karena Esya merasa jika sejak tadi ia hanya berada disini sendiri setelah Dion pergi, awalnya Esya merasa jangan sampai di belakang sekolah ini ada arwah gentayangan yang tak suka kehadirannya. Namun setelah ia membalikkan badannya, hanya ekspresi datar yang ia tunjukkan, meskipun Esya akui jika dirinya sedikit kaget akan kehadiran lelaki remaja itu.


Tatapan mata merekapun bertemu namun itu tidaklah lama karena Esya sudah lebih dulu tersadar.


"Si-ap-a Ka-u?" Tanya Esya dengan terbata


Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, Evan justru semakin mendekatkan wajahnya pada Esya, membuat gadis itu takut sendiri dengan kelakuan lelaki yang tidak ia kenali ini. Dengan cepat Esya memberi batasan berupa buku bacaannya tepat di depan wajahnya. Sehingga mau tidak mau, bibir Evan itu justru tidak mendarat di bibir mungil Esya namun mendarat di sampul buku gadis itu.


Hal itu membuat Evan tersadar, niatnya yang tadi justru di gagalkan oleh sebuah Buku bacaan gadis itu, padahal Evan sudah sangat ingin mengikat gadis itu agar tidak lepas dari dirinya. Entah darimana pola pikir Evan itu berasal, yang ia pahami bahwa ketika sudah melakukan hal itu maka kedua insan itu akan tetap bersama, seperti yang ayahnya katakan ketika dirinya bertanya mengenai masa lalu dan bagaimana pertemuan mereka berdua.


"Aku bilang siapa kau? Dasar omes"


Dengan kesal Esya berdiri dari duduknya, lalu menatap mata tajam Evan, berjalan mendekati lelaki itu yang hanya menatap kagum wajah gadis itu, sambil membayangkan apa yang akan di lakukan oleh gadis itu padanya.

__ADS_1


"Arght..."  gumamnya merasakan nyeri  pada kakinya, yang sudah di injak oleh gadis itu sebelum Esya melangkah pergi menjauhi dirinya.


Nyatanya hayalan dan realita memang berbeda jauh, tadinya Evan mengira jika akan mendapat kecupan dari gadis itu sebagai tanda ketertarikannya pada dirinya. Namun nyatanya bukan, ia justru mendapat gula-gula manis pada salah satu bagian dimana kelima jari kakinya berkumpul.


__ADS_2