
Sudah tiga hari sejak Esya tiba di Los Angeles dan sudah tiga hari pula ia menghabiskan waktu bersama dengan kakaknya, tanpa rasa bosan sedikitpun karena ia senang bisa bermanja-manja pada mereka.Seperti sekarang ini, mansion sedang sepi karena orang tua mereka sudah berpamitan untuk mengurus kerjaan.
Di mansion hanya ada Esya, Dion, Gion dan Kenned serta beberapa bawahannya dan para pekerja lainnya. sudah sejak tadi mereka memilih untuk duduk dan bersantai di belakang, sambil menikmati secangkir teh. Esya menggenggam erat Liontin yang menghiasi leher jenjangnya, rambutnya ia kuncir tak lupa ia menyisakan beberapa helai rambutnya yang menambah kesan manis padanya.
"Ada apa princess!? Kau terlihat seperti kebingungan" tanya Dion, sudah sejak tadi ia mengamati Esya dengan wajah sedang memikirkan sesuatu.
"Bisa aku bertanya kak?"
"Tentu saja, kau bisa bertanya pada kami princess"
"E-hm, apa dari kakak bertiga ada yang pernah memberikan kalung liontin ini padaku?" tanya Esya pada mereka sambil menunjukkan potongan liontin itu. Masing-masing alis mereka terangkat, tidak pernah merasa pernah memberikan aksesoris itu pada Esya.
"Memangnya ada apa dengan liontin itu sayang?"
"Aku hanya bertanya kak, soalnya benda ini sudah ada di leherku ketika aku bangun, aku pikir kakak yang memberikannya" jawab Esya
Sekarang ketiga lelaki itu justru sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Awalnya mereka justru mengira jika itu pemberian dari ayah mereka, atau pemberian Ara dan Becca.
"Mungkin, itu pemberian dari dokter atau dari seseorang yang tidak ingin diketahui namanya".ucap Kenned
"Aku rasa juga begitu kak"
"Kau tidak perlu memikirkan itu princess"
"Benar, itu hanya akan semakin membuatmu bingung" kata Ken, ia mengambil cangkir milik Esya lalu menyeduh teh hijau untuk mereka berdua. Begitu pula dengan Dion dan Gion.
Sudah tiga hari ketiga remaja itu tidak pernah keluar mansion, mereka sangat betah berada di mansion karena kehadiran Esya. Bahkan merekapun Tidak memperdulikan pesan panggilan call dari sahabat mereka, Dimas.
Serta spam chat dan telpon dari Zee dkk.a. Dion dss.a sampai sekarang masih belum memberi tahu tentang Esya yang sudah kembali. Mereka masih mengira jika Esya masih terbaring lemah di salah satu Rumah sakit di kota Singapura.
Panggilan telpon itu berbunyi, Gion mengambil ponsel miliknya yang berada tepat di hadapannya. Alisnya terangkat kala melihat nama yang terpampang jelas di layar Ponselnya, Pengganggu.
'kenapa Bocah ini menelpon!?' pikir Gion, ia menekan tombol hijau itu dan menunggu seseorang diseberang sana berbicara.
"kalau kau tidak ingin bicara, jangan pernah menelpon ku kau sangat membuang waktu berhargaku"
"...."
"Tidak, kami tidak pergi mengunjunginya"
"...."
"Dokter menyarankan agar tidak mengganggu istirahatnya"
"...."
Tut.
Gion mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Ia kesal dengan penelpon itu, sudah sejak seminggu yang lalu ia terus mengganggu ketenangannya. Dion mengangkat satu alisnya, menatap Gion.
"Siapa!?"
__ADS_1
"Si pengganggu"
Dion mengerti siapa yang Gion maksud dengan pengganggu, benar memang si pengganggu itu mulai menelpon dan mengirimi pesan pada Gion karena sudah tidak mendapat kabar lagi dari bunda mereka sejak 5 bulan yang lalu.
Untung saja, Evan tidak memiliki nyali untuk bertanya padanya karena tentu saja, Dion akan membalas dengan sangat singkat dan tentunya dingin.
Wajah mereka menampilkan senyum ketika mendengar suara tawa dari Esya. Ia sedang melakukan panggilan Video call dengan Ara dan Becca, di La masih jam 3 sore artinya di Singapura sekitar jam 6 pagi.
๐บQueenesya๐บ
Sudah sekir 20 menit yang lalu mereka berkumpul di mansion Zee untuk membahas sesuatu yang tentunya sangat penting bagi mereka, termasuk Audet dan Dimas. Meskipun mereka berdua belum tahu pasti apa yang akan teman-teman mereka bahas.
"Apa kalian ada yang sudah mendapat informasi!?"
"Belum, mereka sama sekali mengabaikan pesan dan panggilan telpon ku"
"Aunty Melan juga sudah tidak mengabari aku sejak lima bulan belakangan ini dan Gion dia hanya berkata bahwa dokter menyarankan agar tidak mengganggu istirahat pasien" ucap Evan menjelaskan
Audet dan Dimas masih mencerna setiap percakapan mereka, ada rasa penasaran tentang sosok seorang Esya yang selalu teman-teman mereka bawa di setiap pembicaraan.
Dimas sudah sedikit tahu tentang Esya meski mereka belum pernah bertemu, karena Gion pernah bercerita sedikit tentangnya. Ketika libur semester juga Audet dan Dimas tidak bisa ikut bersama dengan yang lain karena memiliki urusan keluarga di Canada.
"Sebaiknya kita ke mansion mereka saja, untuk bertanya secara langsung"
"Kau benar,Zee. terlalu lama diam dan tidak bergerak juga tidak akan mendapatkan hasil."ucap Orion
Merekapun berjalan keluar mansion dan langsung memasuki mobil, Zee dkk.a semobil dan Evan dkk.a juga seperti itu beserta satu tambahan anggota,Dimas.
"Eh, ada Nona Sharon. Silahkan masuk"
"Terima kasih, paman" ucap Zee tersenyum.
Setelah gerbang terbuka, Zee menjalankan kembali kendaraannya memasuki halaman mansion, ia menuju ke parkiran untuk memarkirkan mobilnya, diikuti oleh yang lain.
"Sepertinya, kau sudah sering kemari yah Zee"
"Yah, begitulah. Dulu aku sering berkunjung kemari bersama ayah"
"Pantas saja kau sangat terlihat akrab dengan Paman yang tadi."
Zee tersenyum, lalu berjalan menuju teras mansion. Hendak ingin menekan tombol bel, namun sebelum itu terjadi pintu sudah lebih dulu terbuka, menampilkan Seorang wanita yang masih terlihat awet muda.
"Selamat sore, aunty"
"Eh, kamu Zee. Ada apa!?" Tanya aunty Sasha
"Kami ingin bertemu dengan Dion"
"Kalian ke halaman belakang saja, kurasa mereka sedang bersantai disana. Maaf aunty tidak bisa berlama-lama, soalnya ada rapat dadakan"
"Terima kasih aunty," ucap mereka semua
__ADS_1
Kaki mereka terus mengikuti langkah kaki Zee, menuju ke halaman belakang mansion. Semakin dekat semakin pula mereka bisa dengan jelas mendengar suara tawa itu, suara seorang gadis yang sangat mereka rindukan. Jantung Evan kembali berdetak kencang ketika langkahnya semakin dekat dengan sumber suara itu, menarik napasnya dalam dan menetralkan kegugupannya.
Disinilah mereka sekarang, terdiam dengan mata yang melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang, di depan mereka gadis yang selama ini mereka rindukan kehadirannya sedang tertawa ria bersama ketiga remaja laki-laki.
Zee dkk.a refleks berlari mendekati Esya dan memeluk tubuh mungilnya, yang sontak membuat Esya dan yang lain kaget karena kehadiran mereka secara tiba-tiba. Audet juga memilih mendekat, ia ingin berkenalan dengan gadis itu. Dimas juga mendekat, menghampiri ketiga sahabatnya.
Angga dan Rio juga sama, sedangkan Evan masih terdiam kaku ditempatnya. Ia belum percaya jika gadis yang selama ini selalu ia rindukan sudah ada di depan matanya.
"Apa yang kau lakukan disitu, Van. Kemarilah" teriak Rio membuyarkan lamunannya.
Evan berjalan mendekati mereka, jantungnya semakin berdetak kencang ketika jarak diantaranya sudah tidak jauh lagi. Esya menatap kearah Melsha, air matanya tiba-tiba terjatuh. Esya berdiri dan langsung memeluk Melsha erat.
"Hiks....Aku sangat merindukanmu Elsha. Kemana saja kau selama ini, aku selalu menunggumu di taman"
"K-au mengingatku Queen?"
"Tentu saja, aku tidak pernah melupakanmu"
"Hiks...aku merindukanmu"
"Hiks... Aku juga Queen. Aku selalu mencari mu ketika aku Kembali dari Jerman. Aku baru menemukanmu, ketika kau dalam kondisi yang buruk" ucap Melsha, air matanya ikut menetes. Ia tidak percaya bahwa Esya teman masa kecilnya masih mengingatnya sampai sekarang.
Setelah acara pelukan itu selesai, sekarang Esya kembali menatap ketiga gadis remaja yang memeluknya tadi lalu beralih kearah dimana berdiri seorang gadis lain, bersama dengan empat orang laki-laki yang sejak tadi menatapnya. Lalu pandangannya kembali menatap kepada ketiga kakak laki-lakinya, menaikkan salah satu alisnya pertanda bahwa gadis itu sedang kebingungan.
"Siapa mereka kak? Apa mereka juga teman-teman kakak sama seperti Ara dan Becca" Kaget, itulah yang mereka rasakan sekarang. Esya gadis itu melupakan mereka, Gion yang mengerti menyuruh Zee dkk.a serta Evan dkk.a untuk menjauh sedikit dari Esya.
"Kau mau kemana, Sha. Bisa temani aku disini"
"Hm, baiklah Queen"
Kembali ke tempat Gion dan yang lainnya, mereka sedang menunggu Gion untuk membuka suaranya.
"Baiklah, karena sudah begini terpaksa aku akan mengatakannya pada kalian...." Gion menarik napasnya sebelum kembali berbicara.
"Dokter Santos pernah berkata, bahwa Esya mengalami Amnesia Permanen. Dimana besar kemungkinan ingatannya tidak akan kembali lagi."
"Tapi kenapa Esya bisa mengenali Melsha, yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya"
"Tidak, kau salah Rio. Sebenarnya sebelum Esya mengenal kalian ia sudah lebih dulu mengenal Melsha. Mereka adalah teman sejak kecil, lebih tepatnya ketika umur mereka kurang lebih 5 tahun. Esya hanya mengingat memori masa kecilnya saja...."
"
Meskipun sebelumya kalian sudah tahu tentang kondisinya, dan sudah kembali memperkenalkan diri sebelumnya. Bagi Esya sendiri, kalian masih terlihat baru di matanya. Jadi berusahalah untuk kembali dekat dengannya, terutama kau Evan. Aku tahu, bagaimana perasaanmu padanya. Kami tidak akan menghalangi mu lagi, hanya saja semua tergantung dari dia sendiri. Aku hanya berharap kau tidak akan memaksanya"
Gion menepuk pundak Evan sebelum ia kembali ke dekat Esya dan kedua saudaranya yang lain. Sedangkan mereka masih saja dalam keadaan diam, mereka mengerti dengan kondisi Esya saat ini. Benar, sekarang saatnya mereka untuk mengukir cerita indah kembali.
'Aku akan berusaha dan apapun jawabannya nanti aku akan terus berjuang, aku tidak akan mundur' batin Evan, sambil menggenggam erat potongan liontin yang selama ini menemaninya.
๐๐๐
Jangan lupa tinggalkan Voment ya
__ADS_1
Terima kasih ๐