QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 66 Akhirnya kau sadar princess


__ADS_3

Terima kasih untuk para readers yang menyukai cerita karya author


Jangan ragu buat memberi saran dan masukannya serta tinggalkan Votenya


S'lamat membaca


🌱


Hari berganti Minggu dan Minggu pun telah berganti Bulan, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sekarang jika di hitung-hitung sudah lewat sekitar tujuh Bulan sejak kejadian itu terjadi.Artinya, gadis itu sudah tertidur selama kurang lebih enam bulan lamanya dan melewatkan ujian semesternya. Oh, jangan lupa Ulang tahun gadis itu yang sudah lewat tiga bulan..


Wanita itu selalu setia berada di samping sang putri, beberapa kali tubuh gadis itu memberikan mereka respon, seperti setetes air mata akan terjatuh membasahi pipi gadis itu ketika wanita yang masih tampak muda itu mengatakan sesuatu.


Bunda Melan membulatkan matanya ketika ia tidak sengaja mendapati Jari telunjuk Esya mulai bergerak lagi, seperti beberapa bulan yang lalu. Namun dengan keadaan yang sedikit berbeda, kali ini jari jemarinya bergerak satu persatu.


Perlahan mata indah gadis itu mulai terbuka menampilkan lensa mata berwarna biru laut miliknya. Ia lalu menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu yang menerangi ruangan itu, menelusuri setiap sudut ruangan.


'Dimana aku!!' batin gadis itu.


Satu hal yang ia tau bahwa sekarang ini ia sedang berada di ruang rumah sakit sebagai pasien. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang sudah tidak dapat lagi menahan air mata bahagianya.


"Sayang akhirnya kau sadar juga, bunda sangat mencemaskan dirimu" ucap wanita itu lembut sambil memeluk tubuh sang putri.


"Ber-apa lam-a a-ku ter-tidur Bun-da?" ucapnya terbata.


"Cukup lama sayang."


"Ah, bunda harus memberitahu berita bahagia pada ayahmu. Bunda permisi sebentar sayang" ucap bunda Melan, mencium puncak kepala Esya sebelum pergi agak jauh darinya.


Esya masih terdiam menyimak ucapan yang baru dilontarkan oleh bundanya itu. Pantas saja badannya terasa kaku,dan tenggorokannya begitu kering. Oh,dan jangan lupa gadis itu sejak tadi sudah mulai bermain dengan pikirannya.


'Bukankah aku memiliki tiga orang kakak!? Dan dimana mereka sekarang?' batinnya


Untung saja ingatan ketika di Rumah sakit sebelum ia drop lagi tidak hilang, meskipun begitu Esya merasa ada banyak memori yang sudah ia lupakan. Dan apa lagi ini!? Esya tidak mengingat jika sebelumya ia memakai kalung.


Tidak lama menunggu, seorang pria memasuki ruangan itu dengan terburu-buru. Dilihatnya seorang gadis yang sudah sangat ia rindukan sedang menatapnya dengan alis yang di kerutan.


"Sayang, princess nya ayah, syukurlah" ucap pria itu, memeluk tubuh mungil Esya


Setelah kemunculan pria itu, kini dari balik pintu itu muncul tiga remaja disusul oleh dua pasang suami istri lalu Bundanya.


"A-yah, ka-kak, O-ma, O-pa" ucapnya terbata.


Mendengar itu, mereka semua ikut menjatuhkan pelukan kepada sepasang ayah dan anak itu.


"Syukurlah"

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah siuman princess"


"Jangan buat kami khawatir lagi yah"


"Syukurlah, cucu opa sudah siuman"


"Hiks, princess nya Oma"


Setelah melepaskan pelukannya, para orang tua itu kini memberikan kesempatan untuk ketiga remaja laki-laki itu, seharusnyabsekarang adalah jadwal penerbangan mereka untuk Kemabli ke LA.


Namun, karena mendapat kabar bahagia seperti ini mereka langsung membatalkan penerbangan dan sesegera mungkin menuju ke Rumah sakit untuk melihat kondisi Esya.


Sekarang Esya menatap ketiganya dengan alis yang masih di kerutan, Dion, Gion serta Kenned juga ikut menatap Esya dengan tatapan yang sama.


"Princess gak lupakan kalau punya kakak tampan seperti kami!?" Ucap Ken menggenggam tangan Esya. Esya menggeleng membanta ucapan Ken.


"Ja-di a-ku bener-an p-unya ti-ga kak-ak!?" ucap Esya pelan, namun masih bisa didengar ketiganya. Ketiga lelaki itu mengangguk sebagai jawaban.


"A-ku pik-ir i-tu han-ya ha-lusi-na-si ku"


"Itu, bukan halusinasi mu sayang"


"Ja-di Be-nar!?"


"Ka-kak, Hiks"


Mendengar panggilan itu langsung membuatnya ketiga lelaki itu memeluk tubuh mungilnya. Esya membalas pelukan mereka, rasanya sangat hangat sama seperti ketika ia memeluk bunda dan ayahnya tadi. Tidak sadar, Dion dan Gion yang sejak tadi belum berbicara tiba-tiba meneteskan air mata, mereka sangat bahagia melihat mata adiknya itu sudah terbuka kembali.


"Iya, princess ini kakak." ucap Dion kembali memeluk tubuhnya


Gion yang melihat keduanya tidak tinggal diam, ia juga ikut berpelukan kembali dan menyisakan Kenned dengan senyum bahagianya melihat kebahagian yang terpancar jelas di wajah kedua saudara sepupunya.


"Apa kalian sudah memberi kabar pada mereka!?" tanya Oma Hellen.


"Belum Bu, sebaiknya aku telpon mereka dulu"


"Bunda, jangan lakukan hal itu. Biarkan mereka mengira jika Esya belum sadar"


"Tapi, kenapa!?"


"Aku hanya ingin mengetes seseorang Bun, tenang saja"


"Kalau begitu, baiklah"


Setelah itu, seorang dokter memasuki ruang kamar itu. Berniat untuk memeriksa kondisi Esya setelah mendapatkan panggilan telpon dari bosnya barusan.

__ADS_1


"Baiknya, kondisinya sudah membaik"


"Jadi kapan princess bisa pulang!?"


" Dua hari dari sekarang juga bisa Tuan. Hanya saja nona harus menjalani beberapa terapi untuk kepulihan otot kakinya"


"Baik, segera buat jadwalnya"


"Saya permisi, tuan "


Dokter itu kemudian berjalan keluar dari ruangan, setelahnya ruangan itu menjadi cukup hening, tidak ada yang membuka percakapan. Sampai sebuah suara itu kini memecah keheningan.


"Sekarang, kamu harus kembali istirahat princess"


"Iya, princess harus banyak istirahat"


"Hn, benar. Istirahatlah princess"


Mengerti dengan hal itu, Esya menganggukkan kepalanya. Lalu tubuh yang semula terduduk itu kini perlahan membaringkan diri dibantu oleh kedua kakak laki-lakinya, dan satu kakak sepupunya


"Kami sayang kamu" ucap ketiganya


"Terima kasih" ucap Esya lalu tersenyum dan segera menutup matanya untuk kembali beristirahat.


Dion, Gion, serta Kenned lalu berjalan menuju kearah Oma-Opa mereka setelah memastikan bahwa Esya sudah mulai larut dalam tidurnya. Namun sebelum itu, tak lupa mereka memberikan ciuman selamat tidur tepat di keningnya.


Setiba di sana mereka mengambil tempat duduknya, Dion disebelah opa Robert, Gion disebelah Opa Hans dan Kenned berada diantara Oma Amel dan Oma Hellen.


"Jadi kapan cucu-cucunya Opa ini Pulang?" tanya Opa Robert


"Bisakah kami, tinggal lebih lama lagi?"


"Aku rasa tidak bisa"


"Oh, ayolah Oma, Bunda" rajuk Gion


"Oh, ayolah Nak, kalian harus sekolah bukan!?"


"Iya, tapikan ...."


"Baiklah, tiga hari dari sekarang"


"Hn" gumam Dion


Sejak tadi, ia hanya mendengar percakapan yang terjadi tadi, ia malas menanggapi ocehan kembarannya itu meskipun ia juga masih ingin lebih lama berada di negara ini bersama dengan Esya, adik mereka.

__ADS_1


__ADS_2