QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 24 Demam


__ADS_3

Malam semakin larut, gadis itu masih saja berada di halte bus yang jaraknya tidak jauh dari mansion keluarga Petter, tempat dimana dirinya dulu bernaung. Dengan keadaan yang basah kuyup akibat hujan deras yang belum berhenti sedari tadi.


Esya mulai merasakan dingin yang mencekam kulitnya terlebih lagi karena pakaiannya yang tipis, membuat dirinya semakin menggigil.


Sekarnah,Kemana ia akan pergi?, Esya sama sekali tidak memiliki arah dan tujuan. Esya hanya bisa terdiam, meratapi nasibnya buruk yang selalu menimpanya. Bisakah Esya berharap untuk bisa merasakan kebahagian meski itu hanya sebentar saja?, Esya ingin merasakan itu, berkumpul bersama keluarga dan sahabat yang menyayanginya, yang begitu peduli padanya, bisakah?


"Esya..." Panggil gadis itu dari jauh


Esya menoleh mencari darimana sumber suara itu, sebelum kesadarannya mulai menghilang.


Sebuah mobil yang terparkir di seberang halte memutar balik haluannya, lalu tiga orang gadis keluar dari dalam mobil itu dengan perasaan yang was-was, penuh dengan rasa kwatir yang teramat sangat.


"Zee, sebaiknya kita cepat bawa Esya ke mansionmu"


"Kau benar, ayo Eve,Gint. kita harus cepat"


Ginta dengan lihainya membuka pintu mobil untuk mereka lalu dengan cepat ia mengambil ahli kemudi yang sebelumnya ada di tangan Zee.


Untung saja matanya tadi sempat menengok ke arah halte itu, jika tidak entah bagaimana keadaan dan nasib Esya nantinya, jika bukan mereka yang menemukannya.


Dengan kecepatan diatas rata-rata tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di mansion keluarga Stone. memarkirkan Kendaraan itu, lalu meminta bantuan pada salah satu penjaga mansion untuk mengangkat tubuh mungil Esya.


"Terima kasih paman" ucap mereka bersamaan


Setelah membaringkan tubuh Esya di atas kasur Queen Size yang terletak di salah satu kamar tamu mansion itu, dengan cekatan Zee mengambil ponselnya, mencari sebuah kontak lalu menelpon kontak tersebut.


Tut...Tut...

__ADS_1


"Hallo, kak cepat kemari. Esya ada di tempatkku"


"..."


"Nanti aku cerita sama kakak"


"..."


Tut...Tut...


Setelah panggilan itu berakhir, Zee bergegas menuju kearah dimana Esya sedang terbaring, mengamati tubuh mungil itu. Dengan cepat ia menuju lemari mengambil pakaian baru yang sama sekali belum pernah ia gunakan. Ia hendak ingin mengganti pakaian Esya, yang sudah basah kuyup karena hujan.


Sebelum ia selesai mengganti pakaian Esya yang di bantu oleh Ginta, karena Eve sedang berada di dapur membuatkan bubur dan teh hangat untuk Esya. Mata mereka terfokus pada beberapa tempat dimana di sekujur tubuh gadis itu terdapat luka lebam. Wajah gadis itu juga memiliki luka yang masih baru, karena tadi siang di sekolah wajah Esya masih bersih seperti tanpa goresan di bagian daginya.


Prakkk...


Suara pintu yang terbuka dengan begitu keras berhasil menyadarkan kedua gadis itu, dengan lihainya mereka langsung memakaikan pakaian pada Esya sebelum ketiga manusia berbeda gender dari mereka sampai di hadapan mereka.


"Bagaimana keadaannya?"


"Mengapa bisa seperti ini?"


Ucap ketiga remaja itu secara bergantian, terdapat rasa kwatir yang besar didalam diri mereka, ketika Dion mendapat telpon dari Zee. Dengan cepat tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung meninggalkan aktifitas mereka lalu segera menuju ke mansion keluarga Stone.


"Keadaannya tidak baik" ucap Zee


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Jangan bercanda"


"Cepat jelaskan pada kami"


Dengan perlahan Zee dan Ginta menarik napasnya dengan pelan, lalu mulai berjalan menjauhi tubuh Esya, agar ketiga remaja itu bisa melihat kondisi dari gadis itu.


"Kami tidak bercanda, banyak luka lebam disekitar tubuhnya. Diwajahnya juga ada luka yang kami yakini masih baru, karena pagi tadi wajah Esya masih bersih" Ucap Ginta panjang


Dengan sangat yakin dan pasti, Zee mulai menceritakan bagaimana dan dimana mereka menemukan Esya tadi.


Setelah mendengar ucapan Zee, timbul rasa marah dalam benak mereka, terlebih ketika melihat dan mendengar dari Ginta bahwa Esya memiliki banyak luka lebam.


Dion berjalan kearah jendela, merogoh saku celananya, lalu mengotak-atik ponselnya hendak ingin menelpon seseorang.


Tut...Tut... Bunyi ponsel yang menandakan bahwa panggilan itu tersambung


"Cari tau mengenai kegiatan Esya hari ini" ucap Dion langsung tanpa memperdulikan seseorang di seberang sana .


"..."


Tut...Tut...


Dengan cepat Dion memutuskan panggilannya secara sepihak, tanpa mau mendengarkan penuturan Lawan bicaranya tadi. Dion menatap kelima remaja itu secara bergantian, entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas Dion tidak akan mau ikut campur dalam obrolan mereka.


Berjalan kesisi kasur yang berukuran Queen zise itu, menatap lekat wajah seorang gadis yang masih saja tertidur. Terlihat damai, dan entah mengapa mampu menghadirkan senyum simpul diwajahnya.


"Wah serius kak Dion barusan tersenyum" Heboh Eve yang mampu menarik perhatian yang lain.

__ADS_1


Pasalnya, menurut para gadis itu Dion adalah orang yang cuek,dingin, bahkan sangat atau hampir tidak bisa tersenyum. Namun, berbeda dengan kedua saudaranya, yang sudah beberapa kali mendapati fenomena seperti itu, semenjak mengetahui firasat Gion mengenai pertemuan mereka dengan seorang gadis yang kini mereka yakini sebagai Queenesya, adik mereka serta merupakan cucu perempuan tunggal di dalam keluarga mereka.


Sejak fenomena aneh Dimana pertama kali Dion tersenyum bahkan pernah sekali dalam sehari Dion lebih banyak bicara, dalam hati mereka timbul rasa syukur karena dengan perlahan sifat asli Dion yang begitu aktif seperti sejak dulu dimana mereka masih kanak-kanak bahkan lebih tepatnya ketika mereka masih di golongkan sebagai balita.


__ADS_2