QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 37 Cemburu & Iri


__ADS_3

Kurang lebih sudah 4 jam proses pembelajaran dimulai, dan sekarang adalah waktu yang sangat dinantikan oleh pada siswa maupun siswi, yah apa lagi kalau bukan jam istirahat. Waktu yang singkat namun sudah seperti layaknya surga dunia bagi segelintir pengunjung setia kafetaria atau yang lebih akrab mereka sebut dengan sebutan Kantin.


Tak lepas pula dari keempat gadis remaja ini, yang sudah berjalan menelusuri koridor sekolah, tanpa menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang sudah mengamati pergerakan mereka, dari arah yang berlawanan. Satu sisi ada Aurel Cs dan disisi lain ada Evan dan Angga yang sudah setia mengikuti arah pergerakan kaki mereka.


Evan tidak harus pergi mengelilingi dan mengenal lebih jauh seluk beluk bagian dari sekolah ini. Ia sudah mengetahuinya karena Dena sekolah ini juga ada di tangan ayahnya, mungkin itu untuk memudahkan pemasangan cctv atau keamanan lainnya.


Terlepas dari hal itu, sadar tidaknya mereka, sekarang di hadapannya sudah bertambah tiga remaja lagi. Mereka terlihat sangat dekat, dan Evan tidak menyukai hal itu, padahal dirinya dan Esya saja tidak terlalu dekat namun entah mengapa Esya mampu menarik perhatiannya dengan mudah sejak pertemuan pertama mereka.


"Mengapa kau mengikuti mereka?. Jika ingin kenal, hampiri saja"


"Diamlah"


Angga terdiam tidak menanggapi teman sebangkunya itu, dirinya lebih fokus pada ponsel miliknya yang pada layar ponselnya terdapat wallpaper seorang gadis yang terlihat begitu menggemaskan untuknya. Gadis itu memiliki mata seperti orang China kebanyakan dan hidung mungilnya tak pesek namun tak mancung juga.


"Ayo" ajak Evan yang sudah mulai berjalan meninggalkan Angga.


"Benar-benar anak itu" ucap Angga malas lalu mengejar dan menyamakan langkahnya dengan Evan.


Dari sisi lain pula, ketiga gadis itu mulai bertanya-tanya lagi mengenai seorang lelaki yang baru saja melintas di hadapan mereka. Tak hayal, mereka yang tadinya membuntuti Esya sekarang berbalik membuntuti lelaki tadi.


"Apa dia Evan, murid baru dari England itu?"

__ADS_1


"Yah, sepertinya begitu"


"Tak kusangkah dia jauh lebih tampan dari apa yang tersebar di web"


Dengan perlahan namun pasti, ketiga gadis itu mulai mengikuti kemana arah Evan dan Angga melangkah,kantin sekolah. Dari jauh mereka dapat melihat bahwa tatapan Evan hanya tertuju pada satu gadis saja yaitu Esya.


Hal itu membuat api didalam relung hati Aurel mulai berkobar, panas dan tak mudah untuk dipadamkan. Aurel tidak terima dengan takdir yang harus ia lalui, sangat berbeda dari apa yang selama ini ia mimpikan. Selalu saja nasib baik itu menghampiri Esya bukan dirinya. Keberuntungannya begitu membuat siapapun iri, ia selalu dikelilingi oleh sekumpulan lelaki tampan.


👯QUENNESYA👯


Selepas mereka tiba di kantin, Gion dan Zee langsung saja berlalu pergi menuju pojok belakang, tempat favorit mereka. Lalu disusul oleh kelima anak remaja lainnya, Dion hanya memasang ekspresi seperti biasa, Ginta dan Eve sedang bercerita ria, dan Ken yang sedang menggenggam telapak tangan Esya. Melihat hal itu, refleks menyita tatapan seluruh penjuru kantin. Tak terkecuali tatapan tidak terima yang berasal dari mata seorang lelaki yang begitu tajam dan menusuk mungkin.  


"Tidak usah menghiraukan mereka"


Esya mengangguk dan tersenyum tipis namun masih bisa memperlihatkan kedua lesung pipi miliknya, hal itu pula kini menyita perhatian semua orang tidak terkecuali Evan dan Angga yang sudah berada di salah satu meja tidak jauh dari tempat dimana Esya dkk berada. Ini memang kali pertamanya Esya membeberkan senyumnya di tengah-tengah orang banyak, jadi bisa dikatakan ini adalah sejarah baru dalam hidupnya.


"Esya kalau senyum manis juga"


"Sepertinya aku mulai tertarik padanya"


"Tidak hanya itu dia memiliki bentuk tubuh yang bagus"

__ADS_1


"Ku dengar Aurel begitu iri pada apa yang Esya miliki. Tentu saja bagaimana tidak jika Esya sudah hampir dikatakan sebagai cewek sempurna terlebih lagi pribadi yang Esya miliki"


Evan benar-benar kini sudah hampir dibuat gila oleh gadis itu. Di hari pertama ia masuk sekolah saja sudah mendapat banyak kejutan dari Esya meskipun itu bukan unsur kesengajaan. Mendengar beberapa percakapan kaum Adam yang tak jauh dari tempat dimana ia terduduk, membuat dirinya semakin memanas tak suka terlebih lelaki yang sudah membahas bentuk tubuh Esya,sudah Evan pastikan jika lelaki itu adalah orang yang berotak mesum.


"Kau menyukai dia?" Tanya Angga yang sudah lelah melihat tingkah sohibnya itu


"Iya" jawab Evan polos


"Kau cemburu?" Tanya Angga lagi


"Tentu saja, dia itu milikku" jawabnya lagi dengan tampang polos


"Apa kau kekasihnya?"


"Belum, tapi Akan. tunggu saja."


"Kalau begitu hampiri dia jangan hanya terdiam disini,cowok itu harus banyak usaha" ucap Angga yang membuat Evan terdiam tak mau menanggapi ucapan teman sebangkunya itu, benar juga. Seharusnya Evan menghampiri bukannya membuntuti. Seharusnya ia mendekat bukan menjauh dan seharusnya ia segera mengejar bukannya terdiam.


Lain halnya dengan Evan, Aurel justru semakin mengeluarkan kobaran api yang membarah, sangat tidak terima akan apa yang baru saja ia dengar. Seakan ingin segera melakukan rencana untuk memberi pelajaran pada gadis yang selalu saja mengalahkan dirinya dalam segala hal. Kepintaran, kejeniusan, kecantikan bahkan  kesempurnaan masih di pegang oleh Esya. Aurel tidak pernah berhasil berada di atas Esya.


Bahkan ketika tes masuk sekolah ini, Aurel sampai meminta orang tuanya untuk memaksa Esya mengerjakan soal miliknya karena kebetulan mereka saat itu berada di ruang yang sama. Aurel tidak sampai berpikir kenapa ia harus menjawab sekumpulan soal itu dengan benar, bukannya justru membiarkan kertas itu kosong saja. Maka dari itu Aurel via berada di kelas A dan Esya justru berada di kelas C. Jangan tanya bagaimana pendapat gadis lain disana karena kalian pasti sudah tau jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2