
Dua hari telah berlalu, sekarang adalah saatnya Esya untuk kembali ke mansion. Barang-barang yang di butuhkan Esya sudah berada di bagasi mobil 10 menit yang lalu. Bunda Melan dan ayah Yohan membantu putri kecil mereka, untuk duduk di kursi roda yang sudah mereka siapkan.
Setelah Esya duduk manis di atas kursi roda, ayah Yohan mengambil alih kedua pegangan di kursi itu lalu mulai mendorong kursi roda dimana Esya sedang duduk, menuju kearah parkiran rumah sakit.
Mata pasien beserta pengunjung rumah sakit itu terus menatap kearah keluarga besar yang begitu di segani banyak orang. Bagaimana tidak!? Ini kali pertama mereka bisa melihat keluarga itu secara langsung.
Banyak dari pikiran mereka yang selalu bertanya-tanya tentang sosok gadis mungil yang sedang duduk manis di atas kursi roda.
"Siapa gadis itu!?"
"Ku dengar dia adalah putri bungsu tuan Yohan dan Nyonya Melan"
"Sungguh!? Aku tidak tahu kalau mereka memiliki seorang putri"
"Entahlah, aku hanya tidak sengaja mendengar percakapan beberapa suster kemarin"
"Begitu yah"
Kembali pada, Esya. Sekarang gadis itu sudah berada didalam mobil, ayah Yohan melipat kursi roda itu lalu meletakkannya di kursi bagian belakang.
Esya duduk ditengah bersama dengan bunda Melan sedangkan ayah Yohan berada di kursi pengemudi. Khusus untuk putrinya, ayah Yohan memilih untuk menyetir sendiri.
Oma dan Opa sudah lebih dulu kembali ke mansion, begitu juga dengan Dion dss.a. mereka memilih untuk tinggal di mansion dan tidak ikut menjemput Esya karena ingin membuat sebuah kejutan untuk menyambut kepulangan adiknya dari Rumah sakit.
Selama di perjalanan menuju mansion, tatapan Esya tidak pernah lepas dari kaca mobil, ia sangat menikmati suasana kota Singapura. Bunda Melan tersenyum bahagia melihat senyum yang terpancar dari wajah putrinya, begitu juga dengan ayah Yohan yang sesekali memandang wajah Esya dari kaca spion dalam.
"Kau senang sayang?"
"Hn, tentu saja Bun. Terlebih taman Merlion tadi, jika ada waktu bisa kita pergi kesana Bun, Yah?" Jawabnya masih dengan senyum yang merekah indah di wajah cantiknya.
"Tentu saja, princess mau kemanapun tinggal tanya sama ayah atau bunda"
"Tanya Oma dan Opa juga boleh"
"Tanya kakak bisa, Bun?"
"Eh, bagaimana yah? Coba tanya ayah saja, sayang"
"Yah?"
"Gak usah princess, cukup bunda, ayah sama Oma,Opa aja. Kakak gak usah." ucap Yohan pada putrinya itu.
"Eh, baiklah yah.hm..." ucap Esya mulai mengucek matanya karena rasa kantuk yang mulai menghampirinya.
__ADS_1
"Princess ngantuk yah? Ayo sini, dekat sama bunda"
Esya mendekat, ia menyandarkan kepalanya pada bahu sang bunda. Ia mulai menguap lagi, rasa kantuknya benar-benar sudah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Tidurlah sayang, nanti bunda bangunin kalau udah sampai di mansion"
Bunda Melan tersenyum memandangi wajah polos sang putri, tangganya bergerak memberikan sapuan lembut pada puncak kepala Esya, perlahan air matanya jatuh mengingat begitu banyak waktu yang terbuang dengan sang putri.
🌺Queenesya 🌺
Gerbang pintu mansion itu terbuka setelah mendengar bunyi klakson dari sebuah mobil yang begitu mereka kenali. Mobil itu pun memasuki halaman mansion.
Di teras mansion sudah banyak orang yang menanti kedatangan mereka. Ketika mobil itu berhenti, ketiga remaja laki-laki itu langsung berjalan cepat mendahului kedua Opanya.
Pintu mobil pengemudi itu terbuka, menampilkan ayah Yohan. Ketiga remaja itu langsung menghampirinya, mengerti akan hal itu. Ayah Yohan langsung membukakan pintu untuk istri dan juga anaknya.
Ia membuka lipatan demi lipatan kursi roda tadi, lalu membantu putrinya untuk duduk disana. Esya sudah bangun sekitar 5 menit yang lalu. Setelah Esya duduk, gadis itu menoleh kearah ketiga kakaknya, lalu memberi senyum pada mereka.
Kali ini, bunda Melan yang akan membawa Esya ke dalam mansion. Diikuti oleh suami dan anak-anaknya, pintu itu terbuka menampilkan seluruh anggota keluarga, termasuk orang tua Biologis Kenned. Mereka baru saja tiba sore kemarin.
Ah, jangan lupa ada Clara dan Rebecca juga. Mereka berdua juga sering datang menjenguk Esya di rumah sakit selama Esya masih dalam keadaan koma. Setelah kejadian itu, keluarga Clara dan Rebecca memutuskan untuk pindah ke Singapura. Dan melanjutkan pendidikan mereka disini, berbeda dengan Aurel.
Gadis itu beserta paman dan bawahannya masih berada di markas milik Andreas dengan penjagaan ketat dari bawahan Opa Hans . Sedangkan orang tua Aurel, mereka diberi keringanan. Meskipun begitu perusahaan keluarga Petter sedang berada di ujung tanduk.
"Siapa mereka kak?" tanya Esya.
"Mereka teman kakak, princess" jawab Dion, tangannya tidak henti-hentinya mengacak rambut Esya pelan karena saking gemasnya.
Esya mengangguk paham. Ia lalu membalas pelukan dari Aunty Sasha dan Uncle Andre disusul dengan kedua Oma dan Opanya. Setelah itu, suasana menjadi hening sejenak. Semuanya begitu bahagia karena putri satu-satunya kini telah berkumpul bersama mereka lagi.
Clara dan Becca dengan ragu berjalan menghampiri Esya. Mereka menunduk kaku, tidak berani menatap wajah gadis yang pernah mereka lukai sebelumnya. Esya lagi dan lagi mengangkat salah satu alisnya, bingung dengan tingkah kedua teman kakaknya.
'Ada apa dengan mereka!?' pikir Esya. Sudah sejak tadi ia menatap ke arah kedua gadis itu, entah mengapa ia merasa pernah bertemu dengan keduanya namun ketika ia ingin mengingat lagi, kepalanya menjadi sakit lagi.
Esya sudah duduk manis di atas kasur queen size miliknya, para orang tua sudah pergi keluar untuk melakukan beberapa hal. Esya kembali beristirahat atas perintah kakaknya tadi. Sekarang yang berada di ruangan ini hanya tinggal anak muda saja.
Dion dan Gion berada di atas kasur bersama Esya, Dion di samping kanan Esya sedangkan Gion di samping kiri. Ken berbaring di sofa yang ada didalam kamar itu. Esya masih tetap menatap kedua gadis yang berada tepat di hadapannya, mereka masih saja tetap diam.
"Ada apa kak!?, aku rasa sejak tadi kakak ingin mengatakan sesuatu"
"Gio, Ken. sepertinya kita harus melanjutkan pembicaraan kemarin."
"Kurasa begitu"
__ADS_1
"Sebaiknya kita keruangan sebelah saja" ucap Ken
Dion, Gion serta Ken beranjak dari tempatnya meninggalkan ketiga gadis itu di sana. Mereka membutuhkan waktu pribadi untuk berbicara.
"Bicaralah kak, sejak tadi kalian hanya berdiri dan terdiam"
"E-hm Sya, ka-mi ing-in mem-inta ma-af a-tas se-gala kes-alahan ka-mi"
"Maaf!? tapi untuk apa kak? Kesalahan apa yang kalian lakukan padaku,sehingga kakak meminta maaf. Kita bahkan baru pertama kali bertemu" kata Esya pada mereka.
Salah satu alis mereka terangkat, setelah mendengar perkataan Esya. Bingung,itulah yang mereka rasakan saat ini. Perlahan pintu kembali terbuka menampilkan Dion, Gion dan Ken. Mereka berjalan mendekati ketiganya, Ken berjalan mendekati Esya dan duduk di dekat Esya.
"Tidurlah princess" ucapnya
"Tapi, mereka..."
"Mereka sedang belajar akting untuk pementasan drama di sekolah"
"Oh,begitu yah"
"Sekarang, tidurlah. Princess masih butuh banyak istirahat"
Setelah Esya membaringkan diri, dengan bantuan Ken dan perlahan menutup matanya. Ken lalu menghampiri keempat anak remaja tadi yang sudah lebih dulu keluar dari kamar Esya dan kembali keruangan sebelah.
"Jadi sebenarnya, apa yang terjadi dengan Esya setelah insiden itu"
"Dia mengalami amnesia"
"Dan kata dokter Santos, amnesianya bukan untuk sementara"
"Pantas saja dia tidak mengenali kami"
"Jadi, aku harap kalian tidak pernah membahas tentang masa kejadian itu"
"Dan juga, aku harap kalian juga bisa menjaganya selama kami berada di LA nsnti"
"Apa Esya belum kembali ke LA?"
"Yah, ini belum waktunya"
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya!?"
"Untuk kedepannya dia akan menjalani homeschooling, setelah kondisinya semakin membaik"
__ADS_1
"Begitu yah?, Baiklah. Kami akan menjaganya, hitung-hitung sebagai penebusan atas kesalahan yang dulu telah kami perbuat"