
Holla, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, rajin cuci tangan dan kurangi bepergian dulu.
Buat yang mau UN semangat yah, banyakin baca buku dan latihan soalnya yah, Semangat generasi muda Indonesia 🙏💪
°°°
Sabtu sore, dikediaman Vondrienty. Esya dan ketiga kakaknya sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan Alvi tentunya. Ia baru selesai menemani opa Gilbert melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit siang tadi.
Kejadian yang terjadi dua hari yang lalu membuat semuanya sedikit tercengang karena mengetahui bahwa opa Hans adalah orang yang berada di belakang Alvi selama ini. Alvi juga sudah membawa Opa Gilbert mengunjungi makam ayahnya. Awalnya opa Gilbert tidak bisa percaya bahwa anaknya kini sudah tiada dan cucunya selama ini bertahan hidup sendirian diluar sana.
"Sekarang apa rencana mu?"
"Sepertinya aku dan opa akan pergi keluar negeri sementara waktu untuk pengobatan opa"
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru?"
"Tidak masalah, dokter juga sudah bilang jika kondisi opa sudah mulai stabil"
"Tapi apa tidak masalah?"
"Tenang, Sya. Aku akan menjaga Opa dengan baik"
"Kalau seperti itu, jangan lupa untuk selalu mengirim kabar padaku"
"Itu,sudah pasti"
"Jadi kapan kau akan berangkat?"
"Mungkin dalam waktu dekat ini"
Ding....dong....
Bunyi bel dari arah depan rumah membuat mereka terdiam sejenak, Gion berinisiatif untuk pergi dan membuka pintu tersebut sebelum Esya yang bergerak. Ia sudah tau siapa yang akan datang di jam segini tanpa memberi kabar lebih dulu.
Evan, lelaki yang lebih muda setahun darinya itu selama dua hari ini selalu datang menemui Esya tanpa memberitahu lebih dulu. Ia bahkan sedikit berlagak seolah-olah Esya sudah menjadi miliknya dan bukan menjadi milik Vondrienty lagi.
"Halo kak, bagaimana kesehatanmu hari ini? Apa semuanya baik?"
"Apa kau pikir aku penyakitan? Apa tujuanmu selalu datang kemari?"
"Ayolah kak, bukankah sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga?"
"Siapa yang mau? Jangan panggil aku kakak"
__ADS_1
"Kak Gio, siapa yang datang? Kok lama?"
"Ini Sya, cuma tukang Pos yang salah ngirim barang"
"Kok bisa salah kak?"
"Sya, ini aku loh. Bukan tukang pos masa kamu gak ngenalin suara aku"
"Eh, kamuyah. Ada apa?"
"Jalan keluar yuk, bosan nih"
"Berdua aja?"
"Iy...."
"Tidak boleh!!!"
Belum selesai Evan berbicara perkataannya sudah di potong oleh keempat lelaki itu. Ia bahkan sedikit heran, mengapa Dion dan Alvi juga sekarang jadi ikut-ikutan. Biasanya hanya Gion yang melarang namun sekarang sudah ada Dion, Ken dan Alvi.
"Jika mau keluar, Esya harus dalam pengawasan"
"Ih, kak. Kok jadi gini lagi? Kan masalah kemarin udah kelar"
"Apa kamu pikir, kakak gak tahu kalau Evan seringkali mengambil kesempatan dalam kesempitan"
Deg...
Mungkinkah ketiga kakaknya sudah mengetahui hal itu?. Oh, astaga. Bahkan sekarang pipi Esya sudah pasti bersemu merah jika mengingat kejadian-kejadian itu. Ia memandang kearah Evan, lelaki itu hanya memandang kearah ketiga kakaknya dengan wajah yang jengkel.
Ding...dong...
Ding...dong...
Tok...tok...tok...
Bunyi bel yang di ikuti dengan suara ketukan pintu itu kembali membuat keheningan di dalam ruangan itu. Kali ini Esya yang bergegas untuk membuka pintu dan melihat siapa tamu gerangan yang datang berkunjung ke mansion mereka.
"Kejutan.....halo, Sya"
"Ah... Kak Clara, Kak Becca. Aku Kangen" teriak Esya lalu memeluk kedua gadis di hadapannya itu.
Teriakan Esya sontak membuat para laki-laki itu berlarian menyusul Esya, mereka kini terdiam. Apa yang mereka pikirkan salah, kini didepan mereka terlihat ketiga gadis itu sudah saling melepas rindu. Ini kali pertama Clara dan Becca kembali ke kota ini setelah dua tahun berlalu. Mereka fokus pada pendidikan dan bisnis keluarga yang sudah mereka olah sendiri di usia mereka saat ini.
__ADS_1
"Ayo masuk kak"
"Kamu makin cantik aja, Sya"
"Kakak juga cantik, mungkin kakak bisa jadi pasangannya kak Ken, dia sampai sekarang masih sendiri"
"Ih, kamu bisa aja deh. Emang kakak bilang mau sama Ken?"
"Yah, siapa tahu aja kak "
"Udah,Sya. Jodohikan aja mereka, Clara juga masih sendiri kok"
"Wah, pas banget tu kak"
Para lelaki itu terlihat seperti angin lalu bagi ketiga gadis itu. Ken mulai cemberut mendengar pokok pembicaraan Esya. Dion dengan kedatangannya, Alvi dengan wajah yang menyimpan tanya, serta Gion dan Evan yang bersusah payah menahan tawanya.
Ken akui jika mungkin saja Eve memang bukan untuknya, gadis itu terlihat sangat bahagia jika bersama dengan Leon setiap saat, Eve bisa lepas tertawa bahkan sepertinya bisa membuat gadis itu lebih banyak berbicara dibanding ketika mereka bersama.
"Aku akan segera mengabari mereka jika kalian sudah tiba"
"Apa tidak masalah?"
"Tentu aja tidak kak, aku sudah sering menceritakan kalian berdua pada mereka"
"Eh,Sya. Terus rencana kita gimana?"
"Kamu bareng kak Gio aja keluar Van, aku lagi sibuk. Ayo kak kita ke kamar"
"Hei, tunggu dulu Sya..."
"Rasain"
"Makan tu, makanya jangan keseringan datang. Dia jadi bosan kan? Ketemu Mulu tiap hari" ucap Alvi
Bibir Evan cemberut, matanya menyipit. Ia menyesal tidak mengajak Angga tadi, setidaknya dalam situasi seperti ini ia masih punya pendukung seperti Angga, meskipun kadang mereka berdua juga terkadang tidak memiliki kesolidan jika menyangkut hal di luar gadis mereka.
Andai pula sepupunya, Orion tidak terburu-buru kembali ke Inggris bersama dengan Audet malam kemarin, pasti sekarang mereka yang terpojok disini bukan hanya dirinya seorang ada Rio yang pasti akan menjadi sasaran empuk juga.
"Yasudah, kalau gitu. Aku pulang saja" Evan membalikkan badannya dan berjalan ke pintu depan
"Sana pulang aja. Kalau perlu gak usah datang lagi" teriak Gio dari belakang.
Evan mengerang, kesal. Ia yakin sampai kapanpun dirinya dengan calon saudara iparnya itu tidak akan pernah bisa sejalan. Mereka bagaikan dua sisi magnet yang saling tolak-menolak bukan tarik-menarik. Dari tempat Gio, lelaki itu tersenyum tipis dan merasa puas. Baginya, Evan adalah target yang sangat pas untuk ia jadikan sebagai korban kebosanannya
__ADS_1
Tbc