
Lelaki itu berjalan kesana dan kemari tepat di depan sebuah ruangan. Ia memangku dagunya dan melipat tangannya, terlihat raut khawatir di wajah lelaki itu.
"sayang"
"Bunny"
"Mine"
"Udah dong, ngambeknya. Kamu tahu aku paling gak bisa kamu diemin seperti ini"
"Melsha, sayang. Bukain pintunya yah"
Angga, lelaki itu entah sudah berapa lama berada di luar kamar sang kekasih. Mencoba untuk menghibur gadisnya agar Melsha menarik kembali ucapannya di kampus tadi.
Ia sangat tidak bisa jika harus menjaga jarak apa lagi jika kekasihnya itu mendiaminya seharian, apa jadinya jika sampai sebulan Melsha melakukan hal seperti itu.
"Melsha, Bunny. Ayo dong udahan ngambeknya beneran deh yang tadi itu bukan aku yang ngomong, seriusan deh"
"Open the door, please!?"
Masih tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, Angga menjatuhkan dirinya kelantai dan memilih untuk bersandar di pintu berwarna cokelat itu, menarik napasnya lalu menundukkan kepalanya.
Suaranya sudah semakin serak karena terus berbicara sedari tadi, mengabaikan maid yang berlalu lalang tepat di depan kamar kekasihnya.
Angga tidak mengerti ini kalau pertamanya Melsha mendiaminya selama ini,terkadang Melsha hanya akan diam selama beberapa jam saja lalu mereka akan kembali seperti biasanya.
"Permisi tuan muda"
Dengan malasnya Angga mengangkat kepalanya hendak ingin melihat siapa yang sudah memanggilnya.
"Ada apa?"
"Apa nona marah lagi pada tuan?"
"Seperti yang paman Sam lihat"
Paman Sam adalah Bodiguard khusus untuk melindungi Melsha, ia baru satu setengah tahun bekerja di mansion ini, tentu saja dengan bantuan Melsha sendiri.
Melsha dan Angga tidak sengaja bertemu dengan Paman Sam di jalanan, dengan wajah yang terlihat begitu gelisah. Hati mereka tergerak untuk menolong Paman Sam. Terlebih ketika mereka tahu bahwa Paman Sam memiliki seorang anak berumur 5 tahun yang sedang di rawat kala itu dan memerlukan bantuan dana untuk pengobatan putri kecilnya.
"Sayang, buka dong pintunya. Kalau gak, aku dobrak nih...."
"Aku hitung sampai tiga,yah...."
__ADS_1
"Satu"
"Dua"
Angga mulai mengambil ancang-ancang, sebelum mengatakan angka terakhir.
"Ti-"
"Tuan muda, apa tuan berniat membuka pintu itu secara paksa?"
Angga berhenti bergerak, ia mengacak rambutnya, wajahnya terlihat kesal sembari menatap ke arah Paman Sam, ia sebentar lagi akan berhasil membuka pintu kamar kekasihnya namun di gagalkan oleh pertanyaan pria itu.
Paman Sam terlihat menahan kekehannya, ingin tertawa melihat tingkah anak muda di hadapannya ini, namun ia urungkan demi kelancaran rencana Nona-nya.
"Mengapa paman menghentikan aku? Paman tahu sendiri kalau aku gak bisa seperti ini terus dengan Melsha" ucap Angga
"Mengapa tuan tidak meminta bantuan pada sahabat nona saja, ku pikir mereka lebih bisa saling memahami"
"Paman benar" katanya lalu, Angga mengambil ponselnya dan mencari sebuah kontak.
•••
Esya berlari menuruni anak tangga mansion, dengan terburu-buru tanpa memperdulikan teriakan para maid yang sudah meneriakinya, meminta nona mudanya untuk tidak berlari.
"Bunda, Esya keluar bentar yah" pamit Esya pada Bunda Melan yang sedang asik membaca majalah keluaran terbaru.
"Mau kemana sayang?" tanya Bunda Melan
"Mau ke rumah Melsha, Bun. Ada urusan bentar aja, setelah itu Esya akan langsung pulang ke rumah gak kemana-mana lagi" jawab Esya lalu mencium kedua pipi bundanya.
"Hati-hati sayang, jangan ngebut yah" kata bunda Melan, mengingatkan.
Esya berjalan keluar dari mansion dan sesegera mungkin menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir indah, ia membuka pintu kemudi dan memasukinya.
Untung saja ia sudah menghubungi sahabatnya untuk langsung menuju ke arah mansion Melsha, entah apa yang terjadi antara Angga dan Melsha sehingga masalah mereka semakin menjadi-jadi.
Tadinya Esya ingin menghubungi Melsha agar ia bisa mengingatkan sahabatnya itu untuk datang, mereka memiliki janji untuk makan malam bersama. Namun sebelum ia menelpon Melsha, Ponselnya lebih dulu berdering.
Angga lebih dulu menelponnya dan merajuk padanya soal Melsha yang sama sekali tidak mau membuka pintu kamarnya, bagaimana Esya tidak khawatir pasalnya pagi tadi Melsha masih baik-baik saja, Mereka bahkan masih sempat cengar-cengir ketika mereka terlambat memasuki kelas keuangan.
Tidak terasa waktu berlalu kini Esya sudah memasuki pekarangan mansion Melsha, dapat ia lihat ketiga temannya sudah bertengger di mobil mereka masing-masing. Setelah memarkirkan mobilnya, Esya keluar dari dalam kendaraannya lalu menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Sya,apa yang terjadi pada Melsha?" tanya Eve
__ADS_1
"Entah, sebaiknya kita masuk dulu dan tanyakan pada Angga" jawab Esya, lalu berjalan.
"Baiklah"
Terjadi keheningan sepanjang perjalanan menuju ke arah kamar Melsha. Ketika mereka sudah tiba di depan pintu kamar Melsha, mata mereka terbelalak melihat Kondisi yang sedikit acak-acakan dengan rambut berantakan, wajah lesu dalam posisi tertunduk.
"Apa yang kau lakukan di depan pintu, kau seperti seseorang yang sedang meminta-minta saja" ucap Zee
"Sekarang kesalahan apa lagi yang sudah kau lakukan?" Tanya Ginta
"Bangunlah, kau menghalangi jalan kami" kata Esya
"Kalian sudah datang!? Cepat, bantu aku membujuk Melsha" kata Angga refleks sembari mengguncangkan tubuh Esya dengan menekan pundak gadis itu.
"Bisa kau melepaskan aku? Kau membuatku kesakitan"
"Ah,Maaf" kata Angga sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Bisa kau menyingkir?" Kata Eve padanya
Angga sedikit menyingkir, memberikan jalan pada Eve setelah itu Eve merogoh tas
Sling bag hitamnya hendak mengambil sebuah kunci dari dalamnya, kunci itu adalah kunci cadangan yang tak sengaja ia bawa ketika berkunjung kemarin sore.
"Bagaimana bisa kau memiliki itu?" tanya Angga
"Kemarin aku tidak sengaja memasukkannya kedalam tasku. Akhirnya hal ini berguna juga kan?" Jelas Eve dengan santai.
Cklek....
Setelah Eve selesai membuka kunci pintu itu, Angga langsung mendahuluinya untuk masuk lebih dulu kedalam kamar Melsha, Esya dkk.a menggelengkan kepala karena kelakuannya itu.
"Bunny....jangan ngambek lagi yah ak-.... eh, dia tertidur?" Alisnya terangkat, sedikit kesal padahal ia sudah menghabiskan stok suaranya sejak tadi dan nyatanya kekasihnya ini justru tertidur pulas di hadapannya sekarang.
"Apa hal ini yang membuatmu mengganggu waktu berharga kami?" ucap Ginta.
"Angga!!!" teriak ketiga gadis itu, Ginta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Angga justru memberikan senyum lebarnya sambil menggaruk tengkuk lehernya, hal yang menakjubkan tidur Melsha sama sekali tidak terganggu mendengar teriakan ketiganya.
Tbc
Mohon maaf updatenya lama, skedul author padat banget.
Terima Kasih 🙏🏻
__ADS_1