
Setibanya di mansion ketiga remaja laki-laki itu langsung saja memasuki mansion, tak lupa memberikan ucapan tanda mereka sudah tiba dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu dalam diri mereka.
Kedua wanita cantik itu senantiasa menyambut kedatangan putra-putra mereka dengan senyuman yang menawan.
Bunda Melan menatap kedua anak kabarnya itu dengan penuh selidik
"Dimana Esya?"
"Eh, itu..." Ucap Gion ragu
"Esya lagi ada urusan Bun, katanya sebentar lagi dia akan segera kembali"
"Ah baiklah, sekarang kalian pergilah berganti pakaian dan segera makan"
"Baik bunda" ucap kedua kembaran itu.
Gion rasanya benar-benar ingin menguliti Evan sekarang, bagaimana bisa lelaki yang tidak tahu dari mana datangnya itu pergi membawa Esya tanpa izin dari mereka. Setidaknya Jika ingin pergi, seharusnya mereka memberi tahu salah satu diantara mereka bukan?
"Sebenarnya kemana lelaki itu membawa Esya pergi?" Tanya Dion yang mulai penasaran karena awalnya ia pikir jika Evan akan langsung membawa Esya kembali ke mansion, nyatanya opininya itu salah besar.
"Mana aku tahu, rasanya sekarang aku ingin mencabik-cabik tubuhnya dan memberikan dagingnya pada ikan piranha milik tetangga mereka" ucap Ken dengan kesalnya
"Memangnya kau Werewolf apa?"
"Aku bukan Werewolf tapi manusia serigala"
"Sama aja Ken" ucap kedua kembaran itu bersamaan
Ken terdiam sebentar, lelaki itu menghentikan langkahnya untuk sekedar memikirkan dimana letak kesalahan yang sudah ia lakukan. Beberapa detik setelah kesadarannya ia menjitak dahinya sendiri guna merutukki kebodohan yang baru saja ia lakukan.
"Astaga!!! Manusia serigala itukan Werewolf, kenapa aku jadi seperti orang ambigu" ucap Ken sebelum menyusul kedua saudara beda orangtua itu namun masih satu nenek.
__ADS_1
Setelah berhasil menyusul keduanya, tanpa berganti pakaian dulu mereka kini berkumpul didalam kamar khusus yang sering mereka gunakan untuk tempat bersantai. Kamar dengan dinding berwarna abu-abu itu sudah menjadi tempat Favorit mereka sejak dulu, didalam kamar itu terdapat banyak koleksi
Super Hero serta Ninja dari serial anime Naruto.
"Kau tadi mau bicara apa Dio?" tanya Ken
Mengingat perkataan Dion di parkiran tadi.
"Bagaimana rencana selanjutnya?" ucap Dion langsung pada intinya, dan langsung di mengerti oleh keduanya.
Selama sebulan ini mereka hampir melupakan apa tujuan mereka membawa Esya ke mansion ini, kehadiran Esya membuat mereka seakan sudah melupakan kejadian yang terjadi 15 tahun lalu.
"Aku sampai lupa dengan hal itu, karena semakin lama aku bersama dengan Esya semakin rasa yakin ini mulai membesar"
ucap Gion menyalurkan perasaannya.
"Tinggal satu hal lagi yang perlu kita selidiki bukan?"
Selama ini, ketiga lelaki itu selalu berada dekat dengan Esya untuk mengambil beberapa sampel yang mereka perlukan untuk melakukan tes kecocokan antara ayah Yohan dan bunda Melan dengan Esya sendiri.
Ketika Esya terluka karena ulah Aurel dkk.a mereka selalu mengambil kesempatan untuk menyimpan beberapa hal penting seperti helai rambut Esya, kuku serta darah Esya tanpa sepengetahuan gadis itu. Lalu memberikan sampel tersebut kepada paman Glend yang tidak lain adalah ayah Zee untuk diteliti lebih lanjut lagi.
🌺Queenesya🌺
Disisi lain, seorang gadis sedang menatap tajam seorang lelaki yang sedang berada di hadapannya kini. Lelaki yang tadi siang dengan seenaknya membawa dirinya pergi dan mengatakan bahwa teman-temannya sudah lebih dulu kembali karena memiliki urusan tersendiri.
Dan bodohnya, Esya dengan polosnya mempercayai hal itu. Lihatlah sekarang akibat kebodohannya ini, sekarang ia justru terjebak diluar rumah bersama dengan Evan, hanya berdua saja. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh lelaki Inggris di hadapannya kini.
Sejak tadi Evan hanya tersenyum kemenangan karena rencana yang telah ia susun dengan susah payah bersama Angga siang tadi, akhirnya berguna juga. Akhirnya setelah sekian lama Evan bisa berdua saja dengan gadis ini tanpa harus ada yang menggangu mereka.
"Katakan, Mengapa kau membawa aku ketempat ini?" Tanya Esya yang entah sudah berapa kali ia tanyakan namun tidak pernah mendapat jawaban dari Evan.
__ADS_1
"Oh, ayolah Sya...tak bisakah kau mengatakan hal lain selain pertanyaan bodoh itu" ucap Evan sedikit kesal karena pertanyaan yang diberikan Esya sejak tadi
"Oh, ayolah Van... Tak bisakah kau menjawab pertanyaan ku itu" ucap Esya tak kala kesalnya dengan Evan, bagaimana bisa lelaki itu seenaknya membawa dirinya pergi tanpa berpamitan dengan temannya tadi.
Sekali lagi senyuman Evan mulai merekah, menghiasi wajah tampannya seiringan dengan tingkah Esya yang entah mengapa sangat menggemaskan dimatanya. Lihatlah sekarang bahkan kedua rona merah di wajah gadis itu sudah bermunculan karena saking kesalnya
"Aku mau pulang" ucap gadis itu lagi
"Hm..." Gumam Evan
Evan masih senantiasa memandang wajah manis Esya, rasanya lelaki itu seperti enggan untuk mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia benar-benar berterima kasih kepada sang pencipta dan seorang ibu yang telah mengandung dan melahirkan Esya ke dunia ini.
Dirinya benar-benar tidak salah untuk menempatkan hatinya yang pertama untuk gadis ini, ia berbeda, ia unik, ia tidak seperti kebanyakan gadis diluar sana yang siap melakukan apapun demi mendapatkan cinta darinya, yang jelas Esya adalah gadis yang cocok untuk menempati posisi calon nyonya Shakespeare berikutnya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang baby" ucap Evan mencoba untuk sedikit menggoda gadis itu. Namun sepertinya hal itu tidak berhasil, lihat saja sekarang Esya justru menaikkan satu alisnya tanda mulai keheranan.
Esya dan Evan sekarang mulai berjalan keluar dari mansion besar itu. Yah, sejak tadi Esya berada di kediaman Evan yaitu mansion Shakespeare. Evan memilih membawa Esya ke mansion karena tak ada satupun dari mereka yang tahu dimana letak mansion miliknya.
Setelah Evan menuju ke garasi dan mengambil salah satu koleksi motor sport miliknya yang berwarna hitam, Evan langsung saja mempersilahkan Esya untuk naik, ada rasa ragu dalam diri gadis itu pasalnya ukuran motor yang besar terlebih lagi dirinya masih menggunakan rok yang panjangnya berada di atas mata kaki.
"Apa kau serius?" tanya Esya pada lelaki dihadapannya ini
Mendengar pertanyaan Esya barusan membuat Evan langsung mencari ada masalah apa, setelah seper sekian detik dirinya mulai merutukki kebodohannya, bagaimana bisa dirinya mengantar Esya dengan menggunakan moge ini.
Evan tidak akan rela jika miliknya sampai dipandang oleh orang lain terlebih jika itu adalah para lelaki berotak mesum di luar sana, terlebih rok yang Esya gunakan panjangnya ada di atas mata kaki.
Dengan cepat Evan memutar arah kendaraannya kembali ke garasi lalu mengambil mobil Ferrari miliknya, lalu kembali menuju ke arah dimana Esya sedang menunggunya.
"Ayo Sya, aku antar kamu pulang'' ucap Evan, Sayang sekali hari ini ia tidak bisa berdua dengan Esya di atas motor seperti kebanyakan film di tv.
Esya pun membuka pintu kendaraan itu lalu duduk di samping sang pengemudi, setelah dirasa siap Evan kini sudah mulai menjalankan kendaraannya keluar dari mansion, ia akan mengantar Esya sekaligus bertemu dengan kawan lama ayahnya dan juga lelaki menyebalkan yang selalu mengganggu rencananya untuk dekat dengan Esya.
__ADS_1