QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 18 Menemukanmu


__ADS_3

Pagi hari di parkiran khusus yang ada di sekolah, seluruh penghuni lebih tepatnya siswi perempuan sedang berbondong-bondong hendak ingin menyambut ketiga pangeran sekolah yang begitu menawan di mata mereka yaitu, Dion,Gion,dan Kenned.


Hari ini baru akan dimulai proses belajar mereka karena kemarin di khususkan untuk melihat ruangan kelas mereka sekaligus untuk mulai mendaftar di Lintas karya dimana mereka bisa meningkatkan kemampuan yang ada pada diri merrka.


Berhubungan dengan pendaftaran lintas minat tersebut sekarang telah di alihkan lagi pada pengurus OSIS bagian keterampilan, dikarenakan rencana awal mereka yang tiba-tiba berubah.


Kemarin malam Dion sudah menceritakan semuanya kepada kedua saudaranya itu mengenai informasi gadis itu, yang semakin meningkatkan keyakinan mereka bahwa gadis itu adalah adik mereka yang telah lama mereka cari.


Sekarang tinggal beberapa langkah lagi maka semuanya akan mereka ketahui, yang jelas prioritas mereka sekarang adalah mencoba untuk lebih dekat dengan gadis imut yang bernama Esya itu.


Dengan kedekatan mereka nantinya akan jauh lebih muda untuk mereka mencari tau kebenarannya, mungkin untuk sekarang hanya tinggal mencari tau mengenai lensa mata,mengenai gelang gadis itu lalu yang terakhir adalah tes DNA untuk hasil yang jauh lebih akurat lagi.


Sekarang mereka bertiga telah turun dari mobil, mengabaikan teriakan tidak jelas dari kaum hawa yang begitu alay, terus berjalan tanpa expresi yang membuat kadar ketampanan mereka semakin meningkat saja.


"Sayang"


"Baby"


"My prince"


Teriak ketiga gadis alay bin lebay binti gila yang bisa memecahkan gendang telinga siapapun. Dengan suara mereka yang seperti toa dan penampilan mereka yang terlihat menjijikan dengan seragam pas di badan,rok di atas batas yang melenceng jauh dari peraturan sekolah


"Nenek lampir"


"Badut Ancol"


"Onde-onde"


Ucap mereka bersamaan yang memang mengambil julukan nama itu dari negara Indonesia ketika beberapa tahun yang lalu mereka menyempatkan diri untuk liburan di negara yang sering di sebut sebagai negara dengan seribu pulau.


Ketiga gadis itu adalah Rebecca,Aurel dan Clara Adelin Lis. Aurel sudah kenal dengan mereka sejak dirinya masih berada di bangku Junior hight school, makanya ia langsung akrab dengan kedua kakak kelasnya itu.


Bahkan, sekarang ia langsung bergabung kedalam kelompok kurang jelas itu. Ini benar-benar bahaya untuk ketentraman ketiga pangeran sekolah itu terutama kesejahteraan Dion yang mulai terancam karena kehadiran gadis itu.


Yah, Dion kenal bentul siapa Aurel putri tunggal keluarga Petter, anak yang begitu dimanja, bahkan jika sampai permintaannya tidak di kabulkan maka ia tidak akan pernah berpikir panjang untuk melukai dirinya sendiri,memiliki tempramen yang buruk,sikap arogan yang jauh lebih parah dari kelakukan Rebecca.


Ketiga gadis itupun mulai berjalan dengan melenggak-lenggok tubuhnya menghampiri ketiga pangeran yang bahkan sudah merasa jijik dengan penampilan para gadis gila di hadapannya itu.


Rebecca mulai bergeliat manja pada lengan Gion ala Uzumaki Karin pada Sasuke yang langsung ditepis kasar oleh Gion sehingga tubuh gadis itupun tersungkur kelantai, begitupun yang terjadi  dengan Clara.


Sedangkan Aurel pergi  menarik erat tangan kekar Dion yang ia genggam sedari tadi kearah lorong dimana loker miliki para siswa berada.

__ADS_1


"Lepas dasar gila"


"Ayolah sayang apa kau tidak merindukan aku" ucap Aurel dengan nada yang sedikit menjijikan sambil mulai membuka satu kancing kemejanya


'Fix cewek ini benar-benar tidak waras' Batin Dion seraya menatap tajam gadis yang ada di depannya ini


"Apa mau mu?" tanya Dion


"Sederhana kamu tinggal jadiin aku sebagai kekasihmu"


"Ogah" sambil Dion mulai mendorong keras tubuh gadis itu hingga tersungkur ke lantai


"Kalau kamu nolak aku bakalan nyakitin diri aku dan bilang kalau kamu yang udah mau coba nyentuh aku" ancam Aurel


"Bodoh amat, silahkan saja biar gua langsung nyuruh ayah dan uncle gua buat nyabut seluruh saham di Petter crown "


Karena sudah tidak tahan dengan tingkah gadis itu sehingga dengan berat hati Dion harus membuat suaranya boros untuk sekarang ini, lalu memilih untuk  meninggalkan Aurel yang sedang mematung mendengar ancaman dari Dion, dirinya benar-benar lupa jika Dion adalah salah satu keturunan dari empat keluarga besar yang di segani oleh dunia.


Ketika Dion sudah berada di koridor sekolah matanya mencoba mencari kedua sosok saudaranya itu namun yang ia temukan hanyalah sosok gadis yang begitu familiar dengannya.


Gadis itu memiliki gelang tangan yang jugs sangat familiar dimatanya, seperti gelang tangan pemberian opanya pada Baby Queenesya dulu. Benar tidak salah lagi.


Dion dengan perlahan melangkah mendekati gadis itu, takut jika kegiatan gadis itu terganggu karena kehadirannya, di tatapnya lekat wajah gadis itu dari samping, hingga dirinya terkejut melihat ukiran yang tercetak di pipi gadis itu ketika ia mendapati dengan tidak sengaja gadis itu tersenyum begitu manis.


Entah mengapa sekarang perasaannya mulai menghangat sama seperti ketika pertama kali ia menatap lekat senyum adiknya dulu, rasanya dirinya sudah menemukan sesuatu yang begitu lama telah hilang darinya.


"Hai, boleh gabung" ucap Dion dengan begitu lembut


"Silahkan"


"Kenalkan aku Dion" sambil mengulurkan tangannya


"Esya" membalas uluran tangan cowok yang ada di sampingnya itu.


Ada rasa yang begitu hangat di hati Dion ketika untuk pertama kalinya dia memegang tangan Esya, rasa yang tidak akan ia temukan pada orang lain.


"Gelang mu bagus"


"Ah, iya terima kasih kak hanya gelang ini yang aku miliki sekerang"


"Memangnya keluargamu kemana?"

__ADS_1


"Aku tidak tau tetapi keluarga angkatnya mengatakan jika aku sudah yatim piatu"


Esya mulai menundukkan kepala mengingat takdir yang tidak pernah berpihak pada dirinya, bahkan untuk mengharapkan sedikit kebahagiaan saja sepertinya sudah sangat tidak mungkin


"Bisa aku lihat gelangnya"


"Maaf gelang ini sudah terikat denganku kakak gak bakalan bisa ngebuka gelang ini"


"Coba"


Dengan ragu Esya mulai memberikan tangannya pada Dion yang sedang mengamati ukiran nama yang tertera di gelang itu dengan perlahan Dion mulai memegang gelang itu, mencoba untuk memastikan sesuatu hingga dengan tiba-tiba gelang itu terlepas dari tangan gadis itu


"Ba-gai-man-a bisa?" ucap Esya tidak percaya bahkan keluarga angkatnya tidak pernah bisa melepaskan gelang itu.


"Sudah aku duga" ucap Dion dengan harunya, bahkan tidak terasa air matanya mulai berjatuhan tidak karuan dengan apa yang baru saja terjadi.


Ingatannya kembali pada saat pertama kali Opanya memberikan gelang itu k


Pada baby Q disana Opanya pernah mengatakan jika gelang itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki darah keturunan yang sama dengan dirinya, setidaknya begitulah pemahamannya dulu terhadap perkataan opanya.


Dengan refleks Dion langsung memeluk erat tubuh mungil gadis itu tanpa persetujuan dari Esya sendiri yang masih tidak mengerti akan apa yang baru saja terjadi padanya.


"Ini benar-benar kau" ucap Dion yang masih memeluk tubuh Esya


"Rasa ini begitu nyaman" ucap Esya pelan namun masih bisa di dengar oleh Dion yang sekarang sedang tersenyum hagat karena pelukan balasan yang ia terima dari Esya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi" tanya Esya ketika pelukan mereka telah berakhir.


"Tidak ada, mulai sekarang panggil aku Kakak tidak ada penolakan princess" Ucap Dion sambil mengudap puncak kepala Esya dengan begitu gemasnya sebelum ia pergi berlalu dari sana.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang menatap kejadian tadi dengan penuh rasa benci pada gadis yang sedang menjadi objek pengamatannya itu sedari tadi.


"Beraninya kau menggoda Dion, tunggu saja pembalasanku dasar anak yatim"


Ucap gadis itu dengan rasa benci sebelum ia pergi dari sana.


Tadinya ia mengikuti Dion untuk meminta maaf atas apa yang dia lakukan tadi tapi ketika ia sampai di belakang sekolah, dirinya justru mendapati pemandangan yang begitu menggores hatinya dimana Dion memeluk tubuh Esya dengan begitu eratnya.


Sedari dulu, Esya selalu menjadi bahan pujian dimana pun ia berada padahal Esya hanyalah seorang anak yatim yang tidak memiliki keluarga bahkan gadis itu hanya menumpang di mansion keluarganya saja.


Aurel, gadis itu begitu iri pada Esya yang memiliki mata indah dengan lensa berwarna biru, rambut yang bergelombang, bahkan kedua lesung pipi milik Esya yang begitu membuat dirinya iri karena tidak memiliki apa yang ada di diri Esya, belum lagi kepintaran dan kecerdasan Esya di setiap bidang akademik maupun non akademik yang semakin menambah rasa bencinya pada gadis itu

__ADS_1


__ADS_2