
Sinar matahari sudah muncul sejak tadi, embun pagi sungguh sangat menyegarkan untuk kita nikmati, gadis itu baru saja selesai memarkirkan kendaraannya di tempat yang jarang di lalui oleh mahasiswa maupun mahasiswi kampus Vondrienty University, tempat gadis itu sekarang mengemban ilmu.
Baru sekitar 7 menit gadis itu tiba di lingkungan kampus, kelasnya baru akan dimulai pukul 11.30 tetapi ia memilih untuk datang sejam lebih cepat. Bukan karena apa, hari ini ia memiliki janji untuk berkumpul bersama sahabatnya sebelum proses perkuliahan dimulai.
Gadis itu dengan santai berjalan di koridor gedung kampus, gendang menuju ke kafetaria karena teman-temannya sudah menunggu disana. Ia mengabaikan tatapan dan omongan di sekitarnya. Mungkin karena tampilannya yang berbeda, sehingga mereka tidak mengetahui siapa ia sebenarnya.
Setahun lalu ketika ia lulus dari sekolah, dengan permohonannya pada orang tua serta Oma dan Opanya, ia ingin agar ketika masuk kuliah ia bisa menemukan teman yang sebenarnya, bukan teman yang hanya ingin memanfaatkan kekayaan keluarganya . Keempat sahabatnya juga juga melakukan hal yang sama.
Mereka tidak ingin terlihat mencolok di universitas, cukup dalam bisnis mereka melakukan itu tidak untuk dunia pendidikan mereka. Esya celingak-celinguk mencari keberadaan sahabatnya, setelah menemukan mereka, Esya melambaikan tangannya pada Zee yang membalasnya dengan senyuman.
"Kau, lama Sya"
"Hehe, maaf aku habis ada urusan dengan ketiga lelaki Posesive itu"
"Kau pasti habis mengusili mereka lagi"
"Huh, salah siapa mereka yang mengajariku " katanya, masih cekikikan
"Huft... Sudahlah"
Esya mengambil tempat di depan Melsha, sejak tadi hanya gadis ini yang sama sekali tidak mengangkat suara, wajahnya terlihat murung membuat Esya sedikit khawatir padanya.
"Apa yang terjadi Sha? Ku lihat kau sedikit tidak bersemangat" katanya pada gadis bermata sipit itu.
"Huh, bagaimana tidak, Angga belum mengabarinya hampir seminggu ini" kata Ginta, lalu menyeduh jus jeruknya.
"Ck, urus saja urusanmu sendiri. Memangnya kau selalu dapat kabar dari kak Dion, setiap waktu?" kesal Melsha padanya.
Malas untuk menanggapi, Ginta memilih untuk diam. Ia sendiri juga bingung mengapa sampai ia bisa menjalin hubungan dengan Dion, kakak Esya yang super dingin itu. Kejadian itu terjadi ketika pesta ulang tahun Esya 3 bulan yang lalu, dimana Dion tiba-tiba mengatakan 'mulai sekarang kau milikku'. Satu kalimat yang membuatnya terikat.
__ADS_1
"Tenang saja,Gint. Kak Dio baik-baik saja kok, gak lari kemana-mana" kata Esya menepuk pundak sahabatnya itu.
"Siapa yang peduli!?" Katanya lalu memalingkan wajahnya.
"Ck, kau lebih beruntung dari pada aku tahu. Bahkan Mereka sama sekali belum memberi izin padanya"
"Astaga, sampai selama ini. Kakak mu itu benar-benar..." kata Zee menggantung karena tiba tiba ada yang memotong ucapannya.
"Maaf apa aku bisa gabung, kursi lain sudah terisi penuh" ucapnya seraya tersenyum
Seorang mahasiswa berdiri tepat di samping Esya dan sedikit agak membungkukkan badannya untuk sejajar dengan Esya. Ia menatap wajah gadis itu, mencoba mencari kekurangan dari objek yang sedang ia amati.
"Hnm" gumam Esya, Mahasiswa itu pun mengambil tempat duduk tepat di samping Esya. gadis itu sedikit risih berdekatan dengan orang asing, tak hanya Esya bahkan Zee,Ginta,Eve dan Melsha juga sama. Keempat gadis itu sejak tadi
Sudah memberikan tatapan mengintimidasi pada lelaki itu.
"Siapa kau?" tanya Zee padanya
"Apa kau teman Evan?" tanya Esya, membuat Briand sedikit menahan kekesalan, bagaimana tidak Evan sangat terkenal di jurusan mereka, setiap kali ia berada di gedung informatika selalu saja nama lelaki itu yang di sebut. Dan sekarang bahkan anak fakultas lain juga mengenalnya.
"Bukan" jawabnya singkat.
"Aku pikir kau temannya, yasudah lah." Kata Esya, ia memasukkan ponselnya kedalam tasnya dan kembali ngobrol dengan teman-temannya.
"Hmn, apa aku bisa mengetahui namamu?" tanya Briand. Esya menengok kearah Brian, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Esya" jawabnya, langsung pada intinya. Briand mengangguk paham, pantas saja ia jarang melihat gadis ini, gedung Bisnis berada di sebelah Utara dari gedung informatika.
Setelah itu, suasana kembali menjadi hening tidak ada yang membuka suara. Masing-masing sekarang sedang melakukan aktifitas mereka sendiri-sendiri. Zee masih memberi tatapan intimidasi pada Briand, Eve dan Ginta melanjutkan makannya yang tadi tertunda, Melsha kembali diam menatap kearah ponselnya sedangkan Briand menatap ke arah Esya yang sedang sibuk dengan Buku novelnya.
__ADS_1
"Sya!!?" Panggil Evan dari jauh, lelaki itu baru saja tiba bersama dengan Angga. Esya yang merasa dipanggil pun langsung menoleh dan tersenyum padanya, membuat Briand yang di sampingnya berdecak tak suka.
Evan dan Angga berjalan mendekat kearah mereka, setelah dekat tangannya tiba-tiba di genggam oleh gadis yang sekarang ada di hadapannya.
"Evan kau kemana saja? Ponselmu tak bisa aku hubungi sejak pagi tadi tahu" kata Esya.
"Maaf Sya, ponselku kehabisan baterai tadi jadi aku tidak membawanya" jelas Evan, lalu mengubah pandangannya ke arah samping dimana Briand duduk. Pandangan mereka bertemu, dan saling mengadu.
"Ck" umpatnya
"Ada apa,Van?" tanya Esya,alisnya sedikit terangkat mendengar umpatan Evan, lelaki itu tersenyum melepaskan genggaman Esya lalu mengacak puncak kepala Esya dengan gemasnya.
"Isstt... Stop Van. Kau merusak tatanan rambutku tau gak!" Racau Esya, sedikit memanyunkan bibirnya tanda bahwa ia sedang kesal.
"Tau tidak, kau semakin menggemaskan jika seperti itu membuatku tidak ingin berhenti" ucapnya.
Tanpa disadari mereka, Zee dan yang lainnya sudah menatap mereka jengah, selalu saja momen seperti itu yang diperlihatkan keduanya. Padahal memiliki hubungan spesial saja tidak, berbeda dengan mereka berempat yang sudah memiliki kekasih yang kurang peka dan cuek, eits minus Melsha tentunya.
Berbicara mengenai Melsha, gadis itu sudah melakukan aksi ngambeknya lagi sejak melihat kekasihnya datang bersama dengan Evan, dan Angga tentu saja sedang mencoba untuk menghentikan Melsha. Ia tidak akan tahan jika harus didiami oleh gadisnya itu seperti sekarang ini.
"Bisa kalian berdua berhenti, kelakuan kalian sangat menjijikan" ucap Ginta, mewakili ketiganya. Briand menggenggam tangannya erat melihat perlakuan Evan pada Esya.
"Ck, bilang saja kau cemburu. Kalau mau minta minta saja pada Manusia Es itu" kata Evan menantangnya.
"Ck, aku harap kau...." Ucapan Ginta terpotong, Eve sudah lebih dulu berbicara.
"Sudahlah, Gint. Lanjutkan saja makan mu" Kata Eve, lalu Ginta pun diam dan kembali melanjutkan makannya.
Bukan tanpa sengaja, Eve melakukan itu hanya saja sekarang di meja ini ada orang baru, belum lagi kelakuan lelaki itu membuatnya sedikit membuat argumentasi, ia tidak ingin jika perjuangan Evan berakhir di tengah jalan hanya karena kehadiran orang baru.
__ADS_1
Briand masih tidak memutuskan pandangannya pada Evan dan Esya. Begitu pula dengan Evan, keduanya seperti musuh bebuyutan saja yang tidak pernah mau akur sama halnya dengan bisnis orang tua mereka yang bergerak di bidang yang sama dan masih saling bersaing hingga saat ini.
Satu hal yang bisa Evan pahami dan mengerti akan suasana diantara mereka berdua 'ada seseorang yang mencoba mendekat' dan tentu saja Evan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi karena baginya sekarang atau nanti hanya akan ada Evan dan Esya bukan Evan,Esya dan Briand.