QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 71 Liontin


__ADS_3

Selamat menikmati bacaan kalian


Jangan lupa tinggalkan Vote + Coment-nya



🌺🌺🌺


Setelah mengenalkan Esya pada dunia lima hari yang lalu, banyak media yang masih membahas mengenai diri gadis itu, hampir seminggu Esya menjadi trending di sosial media.


Orang-orang yang dulu berkaitan dengan kejadian penculikan Esya yang membuat gadis itu harus mengalami koma hampir setahun, sudah menyesal namun hukuman tidak bisa mereka hindari lagi.


Berbicara mengenai kejadian itu, Aurel dan keluarganya sudah dibebaskan dan untuk kelangsungan Hidup sudah ada bantuan dari ayah Yohan atas permohonan dari Putrinya, meskipun begitu mereka harus meninggalkan Benua Amerika.


Mereka menerima hal itu, meskipun larangan mendekati atau berbicara dengan putri mereka masih tetap akan berlaku. Esya mengingat mereka, meskipun hanya sepintas saja.


Yang ada di dalam memori Esya hanyalah canda tawa ketika bermain bersama Aurel saat kanak-kanak dulu sebelum memasuki taman kanak-kanak.


Sekarang adalah hari Jumat, sekolah akan selesai lebih awal karena besok adalah akhir pekan. Esya menyimpan semua peralatannya kedalam tas ranselnya, sejenak ia menunggu kedatangan kakaknya . Karena sudah kewajiban baginya untuk pergi dan pulang bersama-sama.


Bel tanda pulang sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu, didalam ruang kelas hanya tinggal beberapa pelajar saja termasuk Evan dkk.a


Zee,Ginta, Eve sudah pulang lebih dulu tadi karena memiliki urusan mendadak, sekarang hanya tinggal Audet dan Melsha. Audet juga menunggu kedatangan kakaknya Dimas sedangkan Melsha sudah berencana sejak kemarin akan singgah di mansion Vondrienty.


Suara ketukan pintu membuat ketiga gadis itu menoleh, begitu pula dengan ketiga lelaki yang ada disana, di depan pintu sudah ada Dion dss.a, dan Dimas.


"Princess, ayo pulang"


"Iya kak. Ayo,Sha" ajak Esya


"Lexa, yuk balik" ajak Dimas juga


"Iya kak Dims, Lexa kesana"


Esya,Melsha dan Audet mengikuti arah langkah kedua lelaki yang ada di hadapan mereka. Mengabaikan pelototan mata dari ketiga remaja yang masih berada di dalam ruang kelas.


"Kak Dio. kak Gio dan kak Ken dimana?"


"Oh,mereka sudah menunggu di mobil princess" ucap Dio memeluk pinggang Esya.


"Kak Dio, lepasin. Malu tau"


"Gak usah malu sayang, gak ada salahnya kalau seorang kakak mau meluk adiknya. sudah, hiraukan saja mereka"


Esya senyum, Dimas melongok mendengar kalimat terpanjang dari seorang Dion, yang terkenal dingin dan irit ngomong.

__ADS_1


"Ini beneran kau Dion!? Aku baru pertama kali mendengar kau berbicara sepanjang itu"


"Memang biasanya kak Dion gimana kak Dimas?" tanya Melsha


"Dia itu orang yang paling irit ngomong seantero sekolah, dingin tidak tersentuh dan masih banyak lagi"


"Itu sudah biasa kok kak Dimas, di mansion juga kak Dion banyak bicara, gak dingin juga. Kak Dion itu orangnya hangat sama seperti kak Gio dan kak Ken, iyakan kak?"


"Hn, ayo princess sekarang kita pulang Gio dan Ken sudah lama nungguin kita tuh"


"Ayo,Sha"


Melsha mengikuti arah langkah Esya kedalam mobil.


"Kami duluan yah, kak Dimas, Audet"


Setelah berpamitan mobil itupun sudah mulai melaju meninggalkan lingkungan sekolah. 


"Aku tidak percaya, mereka mengabaikan kehadiranku"


"Setidaknya, mereka berpamitan dulu"


"Hn, aku seperti tidak dianggap" ucap Evan tidak sadar.


Rio dan Angga menatap kearah Evan yang sedang bersandar di dinding putih itu. Sejak tadi setelah kepergian ketiga gadis itu, mereka memutuskan untuk ke parkiran  hendak untuk pulang juga.


"Kau terlalu lamban dalam bertindak, kawan" ucap Angga, menepuk pundak Evan lalu berjalan menuju mobilnya meninggalkan Evan dengan pikirannya.


"Hei, Stev. Apa kau masih tetap mau berada disana!" teriak Rio dari pintu mobil.


"Tunggu aku Rio" Evan tersadar lalu berjalan menuju ke tempat dimana Rio sudah bersandar.


"Sekarang kemana kita?"


"Kita ke mansion ku saja, gimana? Sekali-kali kita kumpul di sana gak di mansion kalian terus"


"Aku ikut saja, Rio kau yang menyetir yah"


"Hn, ayo cepat" ucap Rio, menyambar kunci mobil dari tangan Evan


Setelah dirasa semuanya sudah siap, Angga lebih dulu menjalankan mobilnya, dan Rio mengikutinya dari belakang.


Selama setahun, mereka memang terkadang kumpul di mansion keluarga Angga, tapi tidak sampai masuk kedalam kamar lelaki itu. Selebihnya mereka akan kumpul di mansion keluarga Evan.


15 menit perjalanan dari sekolah untuk ditempuh oleh mereka, setelah memarkirkan mobilnya merekapun memasuki mansion, sepi. Begitulah keadaan mansion sekarang, orang tua Angga sudah kembali pada rutinitas hariannya dua hari yang lalu di Belanda.

__ADS_1


🌺Queenesya🌺


Pukul 19.45, Evan sedang membaringkan dirinya di atas kasur. Matanya tidak pernah beralih kearah lain, selain pada  potongan liontin miliknya. Sampai sekarang Esya belum pernah menyadarinya, padahal setiap hari Evan selalu menggunakan liontin itu.


Ia menghembuskan napasnya pelan, ketika mengingat kembali ucapan Angga siang tadi. Ia akui jika benar, ucapan Angga itu adalah fakta nyata dalam hidupnya, Evan memang terlambat. Tapi bukan karena sengaja, ia hampir sama sekali tidak memiliki waktu pribadi bersama gadis itu.


Selama di sekolah Esya tidak pernah lepas dari ketiga kakaknya, jam istirahat mereka gunakan untuk tetap bersama dengan Esya,  dan akan berpisah ketika jam pelajaran dimulai. 


"Wah, laci mejamu ternyata di penuhi oleh foto Melsha. Mengapa kau tidak memasang di dinding"


"Itu terlalu, kekanakan. Aku ingin menyimpan itu didalam album Photo, tapi sampai sekarang aku belum memiliki waktu yang tepat untuk melakukannya"


"Begitu, yah."


Angga melihat kearah Evan. Dalam hati kecilnya ia sedikit iba dengan sahabatnya itu, tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada seorang gadis. 


Sedikit lucu memang, melihat Evan yang seperti itu.  Terlebih jika ia sudah berhadapan langsung dengan Dion, nyalinya akan langsung menciut. Berbeda jika ia berhadapan dengan Gion yang memang meskipun sedikit menyebalkan tetapi sifatnya bertolak belakang dengan Dion.


"Huh, seharusnya kau mengatakan perasaanmu  pada Esya. Jangan terus kau pendam sendiri"


"Hn, benar kata Angga"  


"Aku tau itu, tapi sampai sekarang mendekati Esya saja sulit. Ada banyak orang di sekitarnya"


"Tapi setidaknya, kau ungkapkan saja. Aku tidak tahan melihat kondisimu yang hanya bisa menatapnya dari jauh...."


"Ini belum separah aku dulu, ketika mencoba dekat dengan Melsha. Banyak pengawal yang selalu ada di sekitarnya"


"Hn, aku juga dengar Esya berulang kali bertanya pada keluarganya tentang siapa yang memberikan liontin itu padanya...."


"Aku tau itu pemberianmu, Stev. Sayang sekali Esya sudah tidak mempertanyakan masalah dari mana datangnya  liontin itu...."


"Ungkapkan perasaanmu, Stev.  Apapun jawaban Esya nanti, setidaknya itu bisa menjadi awal kedekatan kalian lagi."


Evan Diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan kedua sahabatnya ini. 'Apapun yang akan terjadi nanti semoga itu bisa menjadi awal kedekatan kami lagi, seperti saat pertama kali perkenalan kita' batin Evan.


Karena besok weekend, jadi Evan dan Rio memutuskan untuk menginap di mansion. Keluarga Angga. Berhubung mansion mereka juga kembali sepi setelah kepulangan kedua orang tua Evan ke Inggris kemarin malam. 


"Hn, apa kalian ada Ide?"


"Tidak ada.Kau harus memikirkannya sendiri."


"Benar Stev, sekalian sebagai latihan untukmu. Kau kan belum pernah memiliki hubungan yang istimewa dengan teman perempuanmu"


Rio dan Angga tertawa melihat wajah masam Evan, terlebih Rio yang tahu persis bagaimana pribadi Evan. Yang terpenting sekarang giliran Rio-lah yang akan mengganggu Evan, sebagai pembalasan yang lalu karena Evan terus saja mengganggu dan menertawakan dirinya ketika Audet pertama kali datang ke LA.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2