QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 68 Kepulangan


__ADS_3

Waktu pun berlalu dengan cepat, sudah sekitar lima bulan Esya tersadar dari tidur panjangnya, serta genap sudah sebelas bulan ia tinggal di Kota Singapura. Kondisinya sudah sehat luar dalam karena rutin melakukan terapi, setiap akhir pekan.


Selama lima bulan ini Esya selalu mengikuti Homeschooling atas desakan ketiga kakaknya dan perintah langsung dari para orang tua. Karena sudah terlambat juga untuknya memasuki tahun ajaran, disebabkan oleh kondisinya kemarin.


Beruntung Esya bisa mengejar seluruh pelajaran, yang telah jauh tertinggal olehnya karena ayah Yohan menyewa seorang pengajar untuk membantunya dalam belajar.


Sudah sekitar lima bulan pula Esya dekat dengan Clara dan Becca, bahkan sekarang ini mereka sudah seperti layaknya saudara. Ara dan Becca setiap pulang sekolah pasti akan selalu mampir ke mansion Esya.


Semua ini karena permintaan dari ketiga kakak Esya, mereka takut jika setelah mereka kembali Esya akan merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak ngobrol. tidak mungkin Esya harus setiap hari ngobrol dengan sekumpulan orang tua yang umur dan kesukaannya pun sangat berbeda dari anak remaja.


Seperti sekarang ini, Esya sudah ikut berkumpul di meja makan bersama yang lain. Ada Ara dan Becca juga, tadi siang Esya meminta agar mereka berdua bisa menginap di sini berhubung besok adalah akhir pekan serta ada sesuatu hal yang harus mereka bicarakan selepas makan malam.


Sekitar 25 menit berlalu, mereka terdiam di kamar Esya. Makan malam sudah selesai sejak 35 menit yang lalu, Ara dan Becca menunggu Esya untuk memulai pembicaraan. Esya menarik napasnya pelan sebelum ia berbicara.


"Kak"


"Iya Sya... Ada apa? Tumben sekali kau meminta kami untuk menginap disini"


"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Becca


"Aku akan pergi besok"


"Kemana?"


"Kembali ke LA, bersama Ayah dan Bunda" jawab Esya


Ara dan Becca terdiam cukup lama, ada rasa tidak rela ketika mendengar hal itu dari gadis yang lebih muda setahun dari mereka. Bagaimanapun juga mereka sudah sangat menyayangi Esya seperti adik kandung mereka sendiri.


"Bagaimana dengan Dion dan Gion!? Apa mereka setuju dengan keputusanmu?"


"Yah, justru mereka berdua lah yang meminta agar aku segera pulang kak"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Sya. Tapi jika kau sudah tiba disana jangan lupa untuk mengabari kami yah"


"Dan jangan pernah lupakan kami Sya"


"Tentu saja kak, aku tidak mungkin melupakan kalian berdua. Karena aku sudah menganggap kalian seperti kakak aku sendiri"


Esya memeluk keduanya, dengan perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya. Sebenarnya ia juga tidak rela jika harus meninggalkan Ara dan Becca, namun dilain sisi ia juga sangat rindu dengan ketiga kakaknya serta Aunty dan Unclenya. Tanpa mereka sadari dibalik pintu kamar Esya terdapat ayah Yohan dan bunda Melan yang sudah sejak tadi mendengar percakapan mereka.


"Apa keputusan kita ini sudah benar, sayang!?" tanya bunda Melan, Ayah Yohan tersenyum tipis lalu memeluk pinggang sang istri.


"Sepertinya, lagipula ini adalah permintaan mereka bukan?"


"Hn, aku heran dengan mereka. Padahal ketika di rumah sakit, mereka sendiri yang mengatakan agar merahasiakan kesembuhan Esya dari teman-temannya"


"Biarkan saja mereka, sayang. Tugas kita sebagai orang tua hanya memantau mereka"


Ayah Yohan dan Bunda Melan lalu pergi meninggalkan pintu kamar sang putri. Mereka memilih untuk kembali ke ruang pribadi mereka untuk lebih dulu beristirahat. Niat untuk menghampiri sang putri, mereka urungkan karena melihat ketiga gadis tadi saling berpelukan.


Sekitar pukul 14.25 di Los Angeles ketiga remaja itu masih dengan sabar menunggu kedatangan sosok yang sangat mereka rindukan, sudah hampir sejam lebih mereka berada di sini bersama dengan beberapa pengawal berpakaian serba hitam.


Seharusnya mereka yang di nanti sudah seharusnya tiba sekarang, karena mereka sudah mulai melakukan perjalanan ketika pukul 05.25 pagi di Singapura tadi. Jarak antara Singapura dan Los Angeles sendiri memakan waktu selama 15 jam. Waktu di Singapura jauh lebih cepat di Bandung dengan LA. Jadi jika Esya berangkat di hari Minggu pagi maka ia akan tiba di LA pada hari Sabtu di Siang hari.


Setelah lama menunggu, akhirnya sosok yang mereka rindukan akhirnya telah berada tidak jauh di depan mata mereka, bersama dengan orang tua mereka. Dion, Gion serta Ken berlari menghampiri Esya dan langsung refleks memeluknya. Alhasil perlakuan itu membuat Esya kaget, pelukan ketiganya membuatnya sedikit susah untuk bernapas.


"E-hm, bisa kalian lepaskan princess sayang!?" ucap Bunda Melan


"Kasihan, princess. Wajahnya jadi merah karena kekurangan oksigen" ucap Ayah Yohan yang langsung membuat ketiganya sadar dan refleks melepas pelukan mereka.


"Astaga!? Maafkan kami princess"


"Maafkan kakak yah sayang. Ini semua terjadi karena Kakak sangat merindukanmu"

__ADS_1


"Benar, princess. Lima bulan berpisah sudah seperti bertahun-tahun saja" Bunda Melan, Ayah Yohan dan Esya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga remaja itu.


"Ayo, sekarang kita pulang. Princess pasti lelah"


"Aku tidak lelah kak. Aku sudah banyak tidur selama di perjalanan tadi"


"Oh, begitu yah. Lalu princess mau melakukan apa?"


"Tentu saja, Menghabiskan waktu bersama kalian" jawab Esya sambil tersenyum begitu manis, menampilkan kedua lesung pipi diwajahnya.


Setibanya di Parkiran mereka langsung menaiki kendaraan itu, ayah Yohan duduk di kursi pengemudi, disampingnya ada istri tercinta, di bagian tengah ada Dion, Esya dan Gion, lalu di bagian belakang ada Kenned.


Tidak butuh waktu lama, merekapun sudah tiba di gerbang mansion. Penjaga mansion yang mengerti, langsung saja membukakan pintu pagar agar kendaraan milik tuan mudanya itu bisa segera masuk. Ketika mobil telah berhenti, Dion tersenyum tipis melihat wajah polos sang adik yang sudah larut dalam tidurnya, begitu pula dengan Gion dan Ken.


"Ckckck, padahal tadi princess bilang tidak kelelahan" ucap Ken, menggelengkan kepalanya. Dion dan Gion hanya menanggapi dengan suara tawa yang kecil, karena takut akan mengganggu tidur gadis kecil mereka.sungguh adik mereka ini memang sangat menggemaskan di mata mereka.


"Dio bawa adikmu ke kamar, Gio dan Ken akan membawa kopernya" perintah ayah Yohan


"Baik yah/uncle"


Dion membopong tubuh mungil Esya lalu berjalan memasuki mansion dibelakangnya ada Gio dan Ken, mereka menuju kearah kamar yang sudah sejak lama mereka Desai ulang dan renovasi. Kamar itu tepat berada di tengah-tengah antara kamar Dion dan Gion,didepan kamar Esya adalah kamar milik Kenned.


Setelah tiba di dalam kamar, Gion dan Ken meletakkan koper milik Esya sedangkan Dion meletakkan Esya di Kasur Queen size, dengan perlahan agar tidur gadis itu tidak terganggu.


"Selamat tidur, Princess"


"Mimpi indah yah, sayang"


"Tidur yang nyenyak yah, princess-nya kakak"


Setelah selesai mengucapkan itu, secara bergiliran mereka memberikan kecupan pada dahi, pipi kiri dan pipi kanan Esya sebagai tanda rasa sayang mereka. Setelah itu, ketiganya pun lalu berjalan keluar kamar tak lupa mereka menutup pintu kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2