
Gion dengan buru-buru turun dari mobil, mereka baru saja tiba di mansion. Ia celingdak-celinduk mencoba memastikan bahwa daerah sekitarnya sedang berada di suasana yang aman, satpam berjaga di pos, tukang kebun sedang merawat kebun bunga mereka yang ada di halaman mansion, Mobil berkurang empat.
"Aman" ucapnya pelan
"Apa yang kau lakukan disitu, cepat masuk. Kau menghalangi jalan kami Gio"
.
"Iya, sabar ah."
Dion dan Ken berjalan mendahului Gion. Ken memilih untuk duduk di sofa dan Dion pergi mengambil kotak obat, setelah kembali ia langsung mencari Gion dan memaksa kembarannya itu untuk mengobati lukanya.
"Ken, dimana Gio?" tanyanya
"Gak tahu, lagi sembunyi mungkin"
"Ck, anak itu. Tunggu saja kalau aku temukan dia"
"Coba cek di kamarnya, mungkin saja dia disana"
Ketika Dion ingin pergi menuju kamar Gio, ia tidak sengaja berpapasan dengan Bunda Melan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Bunda Melan, memandangi putra pertamanya itu, lalu melihat kotak obat di genggaman Dion.
"Siapa yang sakit, sayang?"tanya bunda Melan lembut
"I-itu Gio, Bun"
"Adikmu kenapa?"
"Gak apa, Bun. Cuma luka lebam aja"
"Lebam kenapa?"
"I-itu tadi Gio berantem sama orang. tapi bunda ini gak seperti yang bunda pikirin, Gio berantem soalnya mereka menghalangi jalan buat Gio ngejar mobil Alvian"
"Alvian! Maksud kamu Alvi cucunya Uncle Gilbert?"
"Eeh, bunda kenal?"
"Mamanya dulu adalah teman bunda pas masih kuliah"
"Oh gitu,yah Bun. Eh, iya Dio ke kamar Gio dulu yah Bun, mau ngasih kotak obat"
"Iya, sayang. Bilangin sama adik kamu nanti ngadep sama bunda"
"Iya, bunda nanti Dion sampaikan"
Sebelum pergi Dion mencium pipi bunda Melan lebih dulu. Bunda Melan, tersenyum lembut. Putra pertamanya ini memiliki dua sifat yang berbeda, di luar mansion ia akan cendrung menjadi dingin seperti ayahnya dulu namun jika di dalam mansion justru sifatnya lah yang mendominasi pada anaknya.
__ADS_1
Dion berjalan di koridor mansion, perhatiannya mengarah pada pintu kamar adik perempuannya. Dion senyum, lalu berniat untuk mengecek apakah adiknya itu sedang ada di mansion atau masih diluar bersama dengan teman-temannya. Ketika pintunya di buka, ia melihat Esya sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
Ia menutup pintu itu dengan pelan agar tidak mengganggu tidur adiknya. Setelahnya ia pergi lagi menuju ke kamar Gio yang berada tepat di samping kiri kamar Esya. Tanpa mengetuk pintunya, Dion langsung membuka pintu dan masuk ke kamar kembarannya.
"Ini kotak obat. Mau aku bantu atau kau mau melakukannya sendiri?"
"Biar aku saja"
"Baiklah, bunda tadi berpesan agar kau pergi menemui dia nanti"
"Apa kau mengatakan yang tidak-tidak pada bunda?"
"Tenang saja, aku mana mungkin mau mengatakan hal yang bukan-bukan pada bunda tentang saudaraku sendiri"
"Wah, kau memang saudara yang sehati dan seperasaan"kata Gion melebih-lebihkan.
"Tentu saja, lagi pula itu sudah tugas ku sebagai seorang kakak"
"Apa kau kakakku?"
Pletekk....
Selepas Gion mengatakan itu, Dion langsung menjitak dahi Gio dengan agak keras membuat sang korban sedikit menahan rasa sakitnya.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Baik-baik, kau menang kali ini. Tapi tumben hari ini kau banyak bicara"
"Apa tidak boleh? Lagi pula ini juga di mansion bukan di luar".
"Tidak-tidak, jangan salah paham, aku hanya iseng bertanya. Apa princess ada di mansion?"
"Ya, dia sedang tidur di kamarnya"
Setelah Dion berbicara, Gio langsung mengobati luka lebamnya. Pintu kamar Gio terbuka sendiri membuat perhatian kedua lelaki itu mengarah pada pintu. Di sana ada Esya yang sedang menatap keduanya, lebih tepatnya tatapan Esya mengarah pada kotak obat di atas kasur Gio.
"Kakak, Kenapa?"
"Gak papa, Princess. Jangan khawatir"
"Gak papa, gimana kak? Ini lebam loh, bitu-biru lagi"
"Kok princess udah bangun aja sih, kakak ganggu yah?"
"Enggak,kok kak. Esya emang udah bangun dari tadi"
Mata Esya mulai berkaca-kaca, gadis itu kini menangis. Ternyata firasatnya di kafe tadi menandakan hal ini, pantas saja sejak tadi pikirannya terus mengarah pada kakak laki-laki nya ini, ia juga tidur siang dengan tidak tenang sejak tadi.
__ADS_1
.
"Hiks... Ini pasti gara-gara aku lagi kan kak? Hiks.... Aku memang selalu ngerepotin kakak kan? Hiks...."
"Cukup, princess. Jangan seperti ini, kamu sama sekali gak pernah merepotkan kami berdua"
"Iya, lagi pula itu sudah tugas kami. Bukankah tugas utama seorang kakak adalah menjaga adiknya agar tetap aman?"
"T-tapi.... Hiks....luka kakak pasti sakit banget kan?"
"Tidak sayang, luka kecil seperti ini tidak akan pernah terasa sakit"
"Apa kamu tahu, rasa sakit yang sebenarnya itu seperti apa princess?"
Esya diam dan masih terseduh-seduh, ia menunggu kakaknya untuk melanjutkan ucapannya sambil membantu Gion untuk mengobati lukanya. Tahu apa yang di tunggu oleh adiknya, Dion dan Gio tersenyum lebar lalu menatap mata adiknya itu, dalam.
"Rasa sakit yang sebenarnya itu ketika kamu pergi ninggalin kami, ataupun kamu terluka sedikit saja"
"Jadi kamu harus selalu berada dalam lingkungan yang aman dan gak berbahaya"
"Hiks..."
"Hiks..."
"Hiks..."
Esya memeluk kedua kakaknya itu dengan erat lalu mencium pipi mereka, satu per satu. Ken yang baru saja datang membawa makanan ringan dan empat gelas jus jeruk, menghentikan langkahnya seketika berada di ambang pintu.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanyanya lalu meletakkan nampan yang ia bawa tadi di atas meja.
"Makasih juga buat kak Ken yang selalu ada buat Esya dan selalu ngejaga Esya" ucap Esya yang sudah berdiri dan memeluk tubuh Ken
"E-eh, ini ada apa sih?"
"Gak ada apa-apa kok kak, aku cuma mau meluk kakak" jawabnya lalu tersenyum manis.
Senyum merekah di wajah Ken, ia memang tidak tahu apa yang sudah ia lewatkan sejak tadi. Namun melihat saudara-saudaranya yang terlihat bahagia, ia juga akan merasakan hal yang sama. Ken membalas pelukan Esya dan mencium kening gadis manis yang ada di pelukannya sekarang ini.
"Makasih juga karena sudah mau jadi adiknya kakak"
"Ehm, udah bisa lepaskan. Ayo kita minum Jusnya" ajak Gio
Dion kembali senyum tipis, hal seperti inilah yang menjadi salah satu kebahagiaan kecil dalam hidupnya, memiliki dua saudara laki-laki dan satu adik perempuan yang menggemaskan dimatanya. Sungguh merupakan anugerah terindah, tidak hanya Dion yang merasakannya Gion,Ken dan Esya juga merasakan hal yang sama seperti Dion.
Tbc
__ADS_1