
Rasanya, kini waktu sangat dan bahkan semakin cepat berputar . Hari demi hari berganti minggu,lalu bulan dan terakhir berganti dengan tahun. Namun satu yang masih belum berganti sampai kini yaitu sebuah Harapan yang begitu nyata tersalurkan bahkan terpancar jelas dari setiap sorot mata keluarga itu.
Sebuah harapan yang menjadikan mereka kuat dan tidak menyerah untuk menemukan Dia, dia yang merupakan cahaya bagi keluarga Heskiel yang akan memimpin dan mengubah Dunia Mafia yang kejam itu, dia yang merupakan tameng pelindung bagi keluarga Moneque yang akan menjadi penyemangat demi menuntut keadilan bagi semua orang, Dia yang seperti bunga mawar yang memberikan keindahan bagi sekitarnya namun memiliki duri yang selalu siap untuk menjaga keindahan setiap kelopak bunganya, dan yang terakhir Dia adalah malaikat kecil yang begitu istimewah, malaikat yang hadir di tengah-tengah keluarga itu yang merupakan wadah sekaligus alasan mengapa senyuman itu selalu terukir di wajah mereka serta jangan lupakan bahwa ia akan mewarisi kecerdikan, kecepatan, kecantikan dan bahkan ketangkasan serta kestrategi yang dimiliki oleh 4 keluarga besar itu, yah setidaknya itu menurut mereka, yah Dia adalah Queenesya Moneque Heskiel Caroline Vondrienty Princess mereka.
Di setiap tahunnya, seluru anggota keluarga ini akan selalu mengadakan sebuah pesta kecil khusus untuk princess mereka, tentu saja di setiap tanggal dan bulan yang sama pula. Untuk itulah, tidak banyak tahu perihal dengan apa yang srbrnarnya terjadi dalam keluarga tersebut. Karena, keluarga besar itu tidak pernah mau mengungkit masalah princess yang hilang, bisa saja ada oknum tertentu yang memanfaatkan hal trrsebut seperti kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena kecerobohan mereka, sampai ada salah satu oknum yang membawa seoranga gadis perempuan dan mengatakan bahwa dia adalah Queenesya, princess mereka yang hilang beberapa tahun lalu. Saat itu Hampir saja mereka terkelabuhi jika Dion tidak segera menyadarkan para wanita itu dengan mengingatkan tentang fakta utama queenesya yang memiliki gelang itu lagipula lensa mata gadis kecil itu bukan seperti warna lensa mata opanya.
Sebuah mobil lamborgini memasuki pekarangan mansion itu, lalu disusul oleh beberapa mobil yang lainnya. Tidak begitu lama seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil, disusul oleh seorang pria yang tampan pula. Mereka mulai melangkahkan kaki memasuki mansion yang besar itu.
"Sudah lama yah?" ucap wanita itu sambil pandangannya menelusuri seluru isi mansion seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
"Iya kamu benar sayang, kira-kira sekarang sudah sebesar apayah kedua putra kita itu"
Ucap sang pria yang tidak lain adalah Ayah Lukas sambil memeluk pinggang Bunda melan dengan possesive.
__ADS_1
"Kira-kura dimana kedua putra kita sekarang?" Ucap bunda Melan yang memang sudah sedari tadi mencari keberadaan putranya, ia sangat merindukan mereka terutama pada princessnya.
"Kami ada disini bunda, ayo Dion" Ucap salah satu dari kedua orang itu siapa lagi jika bukan Gion yang dengan seenaknya menarik tangan kembarannya itu.
"Hn"
Begitulah Dion, singakat dan padat tentunya yang sering membuat Gion selaku kembaran darinya kesal sendiri, jika Gion ibaratkan Api maka Dion adalah Es, jika Gion adalah Air maka Dion tetap saja Es, dan jika Gion adalah Es di kulkas maka Dion adalah Es di Kutup Utara,
"Bagaimana perkembangannya Ayah?" Tanya Dion pada sang ayah, yang memang fokus utama dirinya saat ini adalah segera menemukan Queenesya, Adik perempuan yang satu-satunya ia miliki. Seperti Ketika Ayah Lukas membawa Bunda Melan untuk berobat di Amerika, Dion tidak pernah berhenti mencari adiknya dan sesekali mengabarkan pada sang Ayah mengenai perkembangan yang ia temukan.
"Bersabarlah sebentar lagi, bukankah tahun ini princess akan berumur 15 tahun" Ucap Ayah Lukas pada putra pertamanya itu
"Kau benar sayang, aku tidak sabar ingin melepas rindu dengan princess" ucap bunda Melan yang baru ingat hal itu, perasaannya sangat senang karena sekarang hampir tiba waktu dimana penantiannya akan berakhir. Dia bertekat Sembuh dari Depresi yang melandanya beberapa tahun lalu demi putrinya tercinta, ia tidak mau jika suatu saat nanti akan bertemu dengan putrinya dalam keadaan yang seperti itu, ia tidak ingin membuat putrinya bersedih hati.
__ADS_1
"Dio, tahu tidak apa yang aku pikirkan?" Ucap Gion yang tiba-tiba bertanya seperti itu pada Dion yang hanya menaikkan sayu alisnya saja
"Aku berpikir jika di tahun ajaran baru ini, mungkinkah kita akan menemukan dia?" Ucapnya lagi pada kembaran yang hanya beda beberapa menit saja.
Dion diam dan menyaring perkataan kembarannya itu, lalu dengan senyum singkat ia berjalan meninggalkan kedua orang tua mereka itu. Gion mulai heran melihat tingkah
Dion yang memnag tidak biasa, apa ucapannya tadi memiliki mantra tersembunyi yang membuat Dion jadi tersenyum seperti itu.
"Kita akan kemana?" Tanya Gion yang mencairkan suasana kurang jelas itu.
"Kamar Ken" jawab Dion dengan ekspresi datar dan dinginnya lagi.
'Yah dewa Yunani, Apa yang telah kau perbuat dengan saudaraku ini' batin Gion, Rasanya sekarang Gion sangat ingin melompat dari pohon tomat milik tetangganya itu. Fix ia memang tidak mengerti dengan perilaku kembarannya hari ini yang sangat terlihat aneh menurutnya, tidak biasanya Dion seperti ini. Karena, biasanya Dion hanya memasang wajah datar, dingin dan tidak tersenyum meskipun Gion dan Kenned sudah melakukan sesuatu untuk membuat Dion berbicara bahkan untuk membuatnya tertawa sedikit saja sudah sangat sulit, dan sekarang entah angin darimana Dion tersenyum kecil karena mendengr ucapannya tadi, benar-benar kembaran yang sulit ditebak
__ADS_1