
Sore hari yang cerah Setelah semua persiapan mereka telah selesai, Esya dan yang lainnya pun menaiki mobil dan sesegera mungkin meninggalkan villa tersebut, udara segar di pegunungan membuat Esya tersenyum, jarang-jarang ia bisa menghabiskan waktu santai seperti saat ini karena tugas kampusnya yang menumpuk belakangan ini.
Esya senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang sangat ia sayangi, meskipun ia harus mengalami insiden yang kurang mengasikkan malam kemarin. Evan yang mengemudi juga tersenyum melihat Esya yang terlihat bahagia dari kaca spion yang ada di dalam mobil.
Zee, Eve dan Esya berada di satu mobil yang sama sedangkan Ginta dan Melsha harus dengan terpaksa mengikuti arahan dari kekasihnya itu. Melsha ikut mengikuti angga dengan sedikit keterpaksaan, ah tidak. lebih tepatnya Angga memaksanya ikut bersama, bayangkan saja ketika ingin berangkat tadi Angga dengan refleksnya menggendong Melsha seperti karung beras saja, dan langsung mengunci mobi ketika Angga telah menurunkan Melsha di bangku depan.
"Sya..."
"Hmm..."
"Esya..."
"Hn"
"Jawab dong, Sya kalau di panggil jangan hmm, Hn aja" kesal Evan
"Iya, Evan. Ada apa sih?" tanya Esya sedikit kesal juga.
"Maju dikit, Sya. Aku mau ngomong nih"
"Mau ngomong yah ngomong aja Van"
"Gak bisa, Sya. Ini private soalnya"
"Ya udahlah, apa?"
Esya sedikit memajukan tubuhnya karena posisi duduknya yang berada di antara Zee dan Eve yang sedang tertidur pulas di bangku tengah.
"Maju dikit lagi" perintah Evan, Esya hanya menuruti dengan malasnya.
"Apaan sih,Van?" tanya Esya untuk ke dua kalinya
__ADS_1
Sebelah alis Esya terangkat menandakan bahwa gadis manis itu kini sedang dilanda rasa bingung, lelaki yang sementara menunggu lampu merah itu berganti lampu hijau sejak tadi tidak mengatakan apapun. padahal jika Esya perhitungkan ini sudah lebih dari 15 menit sejak Evan berbicara padanya tadi. ketika Esya menutup matanya dan berniat untuk menarik napasnya dalam, belum terhitung 3 detik ia memejamkan mata tiba-tiba bibirnya seperti menyentuh sebuah benda kenyal.
Ingin rasanya Esya mengumpat pada lelaki di depannya ini, semenjak ia membiarkan lelaki itu melakukannya, Evan tidak henti-hentinya mencuri keuntungan darinya. padahal selama dua hari ini ia sudah sangat senang karena tidak berdekatan dengan Evan, dan ia tidak harus membiarkan bibirnya membengkak lagi.
"hmmpt..." gumam Esya, lantas menggigit bibir Evan, masa bodoh jika lelaki itu akan kesakitan Esya sudah tidak mau perduli.
"Arght... Sya, kenapa kau menggigitku"kesal Evan, menahan sakit.
"Kenapa? apa tidak boleh?mengapa aku harus selalu menuruti keinginanmu?" tanya Esya
"Hei, tapi bukannya kita sudah sering melakukannya?" tanya Evan
"Memang, tapi apa aku selalu setuju. lagi pula setiap kau melakukannya, bibirku akan selalu membengkak dan kak Gio akan selalu mengintrogasi aku setiap kali dia melihatnya, kau tau aku sudah kehabisan alasan" jelas Esya, hingga membuat pipinya memerah.
'Apa aku terlalu berlebihan?' batin Evan demikian
Wajahnya mulai terlihat sendu, tatapannya tidak lepas dari wajah Esya. Ia menyentuh permukaan kulit wajah Esya dengan kedua tangannya lalu tersenyum tipis. dahi mereka bertemu, kini jarak diantara mereka sangatlah dekat, Evan memejamkan matanya sama seperti Esya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak pernah menyakiti aku. meskipun kita bersikap selayaknya teman, aku akan selalu ingat siapa lelaki yang aku cintai dan aku sayangi" ucap Esya, memberi penjelasan.
Mendengar hal itu, Evan refleks memeluk tubuh Esya dengan erat meskipun sekarang mereka sedang berada di posisi yang tidak tepat untuk berpelukan.
"Apa yang sedang kalian lakukan? cepatlah, lampu merah sudah selesai dari tadi kalian membuat jalanan dilanda macet saja" ucap Zee kesal karena tidurnya terganggu.
"Benar, jika ingin bermesraan cari saja tempat lain. aku sudah bosan disini dan ingin melakukan rutinitas soreku" tambah Eve
"Ah, dasar menyebalkan. kalian mengganggu saja" ucap Evan lalu menjalankan mobilnya kembali.
Zee, Eve dan Esya melanjutkan tidur mereka karena keheningan yang terjadi di dalam mobil tersebut. Evan kembali fokus untuk menyetir, ia kembali tersenyum mengingat ucapan Esya tadi. Benar, Esya adalah miliknya setidaknya dalam hal hubungan di masa remaja mereka.
Lama waktu yang mereka tempuh untuk sampai di perkotaan, Evan mengemudikan mobilnya memasuki halaman mansion Vondrienty, ia sudah mengantar Zee dan Eve barusan. Esya masih tertidur nyenyak di bangku bagian tengah, di depan sudah terdapat Dion, Gion, dan Ken yang menunggu kedatangan mereka. Setelah evan keluar dan menggendong esya, dirinya langsung saja di hampiri oleh Gion dengan mimik wajah yang kurang mengenakan.
__ADS_1
"Kau tidak berbuat macam-macam-macam pada adikku, kan?!" tanya Gion dengan tatapan mengintimidasi.
"Tidak, esya tertidur sepanjang perjalanan. lagi pula bagaimana aku berbuat macam-macam jika Esya berada di bangku tengah" jawab Evan
"Bagus, kali ini aku percaya padamu. sekarang berikan Esya padaku"
Dengan terpaksa, Evan memberikan Esya pada Gion, setelah berada pada gendongan Gion, lelaki itu langsung membawa Esya menuju kamar. Evan masih tinggal di ruang tamu bersama dengan Dion dan Ken, mereka berniat ingin membahas tentang kejadian di puncak malam kemarin dan beberapa hal yang sepertinya baik untuk mereka lakukan sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu.
"Sekarang,bagaimana?" tanya Evan
"Masih belum ada hal bisa di konfirmasi dari kejadian kemarin" jawab Ken
"Benar, kami juga belum bertemu dengan opa untuk membahas hal ini" tambah Dion
"Sepertinya orang itu sudah mengetahui pergerakan kita, kita harus lebih waspada"
ucap Evan.
"Ya, terutama identitas orang itu sangat sulit untuk di selidiki, dia orang yang berbahaya" ucap Ken.
Sedetik kemudian, setelah Ken berbicara merekapun dilanda kesunyian. Derap langkah kaki terdengar semakin dekat kearah mereka. Tampak Gio mengamati kedua saudaranya dan seorang lelaki menyebalkan yang sedang berpikir.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Gio pada dirinya sendiri. Setelah sedikit berpikir Gion memilih untuk duduk di samping Ken.
"Apa yang sudah kalian bahas?" tanya Gio mencoba memecah keheningan.
"Ah, hari sudah mulai larut. Tolong kabari aku jika kalian sudah menemukan informasi" ucap Evan, berdiri lalu berpamitan pada mereka. Alis Gio terangkat sedikit heran.
'Sudahlah, mungkin nanti saja aku tanya pada mereka ' batinnya berucap.
Setelah Evan pergi, ketiga lelaki itu masih tetap diam pada tempatnya. Mereka kembali berpikir tentang sosok misterius di puncak malam kemarin. Mansion hari ini terlihat sangat sepi karena orang tua mereka yang masih menghadiri perjamuan malam di salah satu hotel bintang lima di LA.
__ADS_1
TBC