
Di sore hari yang indah ini, sebuah mobil Ferrari baru saja memasuki pekarangan mansion salah satu keluarga terkemuka itu. Setelah pengemudi itu merasa pas dengan posisi parkirnya ia segera turun tak lupa untuk membukakan pintu seorang gadis pujaannya, meskipun gadis itu sudah menolak tawarannya dengan keras.
Esya,gadis manis itupun turun dari bangku penumpang, ia langsung beranjak pergi memasuki pintu utama mansion. Tak lupa Esya berterima kasih pada Evan, lelaki yang baru saja mengantarnya pulang.
"Kok temannya gak di ajak masuk Non?" Ucap wanita paruh baya itu yang sedang membawa setumpuk barang bekas.
"Ah,iya bi... Van ayo masuk"
Dengan penuh percaya diri Evan mengikuti langkah kaki Esya memasuki mansion tersebut. Di dalam ruang keluarga terlihat beberapa wanita yang sepertinya sedang sibuk membongkar dan menyusun setumpuk album yang ia yakini berisi banyak kenangan.
"Ah, aku sangat merindukannya" ucap Oma Hellen sembari menatap satu album foto seorang bayi mungil yang menggemaskan.
"Lihatlah dulu ia begitu mungil, mungkin jika princess ada disini dia sudah sebesar Esya, cantik dan menawan" ucap Oma Amel dengan memeluk erat tubuh sang besan.
Evan mematung, menghentikan langkahnya ragu seperti Esya sekarang. Menatap para wanita cantik itu dengan rasa penasaran yang besar, berjalan mendekati Oma Hellen dan menatap wanita itu seduh.
"Ada apa Oma?"
"Ah tidak, Oma hanya merindukan dia."
Esya mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Oma Hellen barusan, berbeda jauh dengan Evan yang sedikit berdiri tidak jauh dari mereka menatap album foto tadi memikirkan sesuatu kemungkinan memang benar adanya.
"Psstt...Sya" bisik Evan
"Hn"
"Lensa mata bayi itu mirip seperti milikmu loh"
"Sstt...diam itu tidak mungkin"
"Ta-pi..."
"Dasar kau Evan..... Kemana kau membawa lari Esya hari ini" teriak Gion yang baru saja menuruni tangga diikuti oleh Dion dan Ken.
Tadinya Gion berencana ingin menuju ke ke ruang makan untuk sekedar mengambil secangkir minuman dingin demi untuk memuaskan dahaga mereka. Namun, ketika kakinya baru saja menginjak lantai dasar itu, Gion tak sengaja menemukan sosok Esya dan juga Evan juga memasuki mansion keluarganya.
"Astaga" ucap Ken mulai Heboh
"Sekarang bagusnya apa yang bisa kami lakukan terhadapmu?" Ucap Ken lagi mewakili Keuda saudaranya itu dengan senyum yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata
Evan tergigi nyeri menatap ketiga lelaki di hadapannya itu dengan sedikit rasa takut. Bagaimana tidak, jika ia berada di dunia fantasi sudah dipastikan ketiga lelaki itu akan berubah seperti makhluk mistis sejenis Werewolf, vampir, atau demon sekaligus.
"Ada apa ini sebenarnya?"
__ADS_1
" Ah tidak Bun, tadi di sekolah ada orang yang menculik seorang gadis"
"Hah!!! Astaga, siapa gadis itu? Mengapa di sekolah bisa ada penculikan?" Kaget Bunda Melan mendengar penuturan dari sang anak.
"Kau benar kak, seharusnya kita memperketat pemantauan Di sana" ucap aunty Sasha, yang tidak lain adalah bunda Ken
"Itu..."
"Ayo Gion kita lanjutkan pembicaraan kita di atas"
"Evan, ikut kami sekarang..."
"Esya juga kau ikut dengan kami"
Kedua remaja itu mengikuti langkah ketiga lelaki yang lebih tua setahun dari mereka.
Evan dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan dan Esya dengan ekspresi yang biasa saja.
Benar bukan? Esya tidaklah salah di dalam sini. Semua ini ulah Evan yang dengan enak hati tanpa persetujuannya tadi membawa ia pergi dari parkiran sekolah.
Yang parahnya ia tidak meminta izin pada ketiga lelaki yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Setibanya mereka di ruangan khusus Dimana mereka berkumpul selepas pulang sekolah tadi, mata ketiga lelaki itu mulai menatap keduanya dengan penuh selidik terlebih pada Evan, lelaki yang Siang tadi baru mereka izinkan untuk dekat dengan Esya.
"Tadi aku pikir kalian sudah kembali jadi aku menawarkan Esya untuk pulang bersama"
Esya gadis itu hanya menggelengkan kepala pertanda bahwa ucapan Evan adalah sebuah kepalsuan ketika mata tajam milik Gion bertemu dengan mata sendu miliknya, jujur saja Esya memiliki sedikit rasa takut dengan mata tajam itu, tidak berani untuk menatapnya lama. Maka dari itu setelah menggelengkan kepala Esya refleks menundukkan kepalanya.
"Jam pulang sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu, kenapa baru sekarang antar Esya pulang?"
"It-u tadi di jal-an..."
"Sudahlah Gion masalah ini tidak perlu di ributkan lagi" ucap Dion yang baru membuka suara sekarang, pribadi yang lebih suka ketenangan itu menjadi faktor utama Gion tidak ingin ada keributan di sekitarnya apa lagi jika seperti sekarang ini. Ia tidak akan bisa berpikir jika di sekelilingnya tidak dalam keadaan yang tenang.
"Ah, kau ini. Padahal aku baru saja mau mulai." ucap Ken sedikit kesal pada saudaranya itu. Padahal didalam pikirannya sudah tersimpan banyak kata-kata untuk lelaki di hadapannya sekarang ini.
"Huh" gumam Evan sedikit legah setidaknya masih ada manusia normal di dunia ini
"Ck," gumam Dion dengan gaya tak sukanya.
"Sudahlah. Sya, sebaiknya sekarang kau kembali ke kamar untuk istirahat dan kau Evan tetap disini aku masih ingin menyampaikan suatu hal"
"Baiklah kak," ucap Esya sembari tersenyum lembut sebelum dirinya berjalan menjauhi ruangan itu.
__ADS_1
🌺 Queenesya🌺
Setelah beberapa menit Esya kembali ke kamarnya. Di dalam ruangan itu kini dipenuhi dengan keheningan, tidak ada satupun yang ingin membuka percakapan. Karena sekarang semuanya sedang menanti Dion, manusia Es itu untuk mulai berbicara.
Dengan siap dan dirasa sudah pas, Dion menarik napasnya terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan yang penting ini guna menetralkan pernapasannya agar apa yang dia sampaikan nanti bisa lebih mudah dipahami oleh Evan, lelaki Inggris itu.
"Baiklah. Kau pasti sudah melihat album foto yang di genggam Oma tadi bukan?"
"Ah,iya. Mata bayi di album itu sangat mirip dengan milik Esya, terlebih pada warna lensanya" ucap Evan mengingat - ingat album foto tadi
"Itu adalah foto Queenesya, adik kandung kami yang hilang lima belas tahun lalu"
Evan yang mendengar penuturan dari Dion sekarang mulai sedikit mengerti, ternyata argumen yang ia pikirkan tadi memanglah benar, Esya memiliki sangkut pautnya dengan album foto itu.
"Baiklah, sekarang aku sudah paham. Tadinya aku memang sudah mengira jika Esya adalah benar putri dari uncle Yohan dan Aunty Melan, karena kemiripan yang dimiliki ketiganya. Namun, Esya membantah jika yang ada di album foto itu adalah dirinya." ucap Evan dengan panjang lebar.
"Esya belum tahu kebenaran ini"
"Mengapa kalian tidak ingin memberitahu Esya?"
"Belum waktunya. Tunggu saja setelah tiga hari ke depan, setelah hasil tes laboratoriumnya keluar. Kita tidak hanya akan memberi tahu pada Esya tetapi juga pada seluruh dunia" ucap Dion sangat yakin.
Belum lama ini, tepat sekitar beberapa jam yang lalu. Dion mendapat telpon dari
U
ncle Glend yang tidak lain adalah ayah dari Zee musuh masa kecil Gion sendiri. Beliau mengatakan jika hasil tesnya akan keluar 3-4 hari kedepannya.
"Jadi apa yang bisa aku lakukan sekarang?"
"Jaga Esya. Jangan sampai ada yang melukai dia lagi"
Mendengar ucapan Dion, Evan langsung tersenyum lebar. Jika diberi tugas seperti itu jelas dirinya akan mau, karena dengan begitu waktunya bersama dengan Esya akan semakin banyak lagi.
Dan jelas berbeda dengan Gion dan Ken kedua lelaki itu justru memasang wajah datar sedikit tak setuju. Gio akui jika Dion sang kakak sudah lebih dulu mengenal Evan dari pada dirinya tetapi Gion masih sedikit ragu dengan lelaki itu apakah ia benar bisa di percaya ataukah tidak?
"Kalau begitu aku pulang dulu" ucap Evan mulai berpamitan dengan ketiganya sebelum berjalan keluar dari ruangan itu.
"Baiklah" ucap ketiga lelaki itu yang juga mulai berjalan keluar ruangan mengikuti langkah Evan hendak untuk mengantar Evan sampai ke teras mansion mereka.
"Titip salam buat uncle dan aunty yah sob." Ucap Evan sambil memukul pelan bahu Dion sebagai tanda perpisahan
"Hn" gumam Dion
__ADS_1
Evan lalu berjalan kembali, menuju ke arah dimana mobilnya tadi terparkir. Membuka pintu mobil, menyalakan lalu bergegas mengendarai mobil Ferrari kesayangannya itu keluar dari halaman mansion itu.