
Disinilah mereka sekarang, didalam mobil yang di setir oleh Evan. Sejak 25 menit yang lalu Evan terus saja membawa kendaraan Esya entah kemana, membuat sang empunya justru mengerucutkan bibirnya kesal.
Evan berjanji akan mengantarnya kembali ke mansion, tapi sampai saat ini mereka masih saja berada di jalanan dengan dirinya yang menjadi penumpang, duduk manis di samping sang pengemudi yang sudah terlihat semakin menyebalkan.
"Bisakah kau tidak menggodaku?"
"Apa maksudmu, siapa juga yang mau menggoda mu. Dasar menyebalkan"
"Oh, ayolah. Lalu mengapa sejak tadi kau selalu memajukan bibir mu itu, Hmn...." goda Evan
Bukannya berhenti bertingkah, Esya justru semakin menjadi-jadi, ia semakin kesal dengan lelaki di sampingnya ini. Berbeda dengan Evan, ia justru semakin gemas dengan tingkah gadis ini.
"Kau menyebalkan tahu"
"Menyebalkan?!" Alis Evan terangkat berpura-pura tidak mengerti
"Kau berjanji, akan mengantar aku pulang tapi ini sudah setengah jam dan kau justru membawa mobil ini berkeliling, kau tahu kakakku pasti akan sangat geram nantinya. Dia ak-"
Cup
Mata Esya terbelalak ketika benda kenyal itu bertemu, dia bahkan tidak sadar bahwa mobil itu sudah berhenti entah dimana. Evan melumat bibir Esya dengan lembut, menikmati citarasa yang dari benda kenyal itu.
Lama Evan melakukan itu, akhirnya ia menyudahi kegiatannya karena melihat gadisnya itu sudah hampir kehabisan napas . Evan tersenyum tepat kearah Esya yang sedang menyentuh bibirnya.
Ini memang bukan kali pertama untuknya namun, ini adalah yang kedua kalinya Evan melakukan itu, ia masih sedikit kaget dengan aksi tiba-tiba lelaki berperawakan tinggi itu.
"Mulai sekarang, dan seterusnya kau hanya milikku Queenesya"
"Kau menyebalkan, Huh" kesalnya
"Kau tahu, bibirmu itu sudah seperti candu bagiku. Sepertinya setiap saat aku harus merasakannya"
Blush....
Rona merah di wajah Esya kian semakin bermunculan, mengapa Evan semakin menyebalkan sejak pertemuan Evan dan Briand tadi. Lelaki itu bahkan sudah bisa menggodanya seperti yang baru saja terjadi.
"Bisa kau berhenti menggodaku?"
"Hm, memangnya apa yang sudah aku lakukan?"
"Apa maksud ucapan mu yang tadi?"
"Maksudku, yah seperti ini"
Cup
'oh,astaga' batin Esya mengutuk Evan yang kembali melumat bibirnya. Jika ia melakukan ini terus, bibirnya pasti bisa bengkak dan kakaknya akan menginterogasi dirinya lagi.
"Hmmpt... Lep-has" gumam Esya
"Apa kamu sudah mengerti, Sya?, Ingat You are my mine"
__ADS_1
"Dapatkan dulu, izin dari kak Gion barulah I'm your Mine"
Evan lupa dengan lelaki yang satu itu, pagi tadi Evan tidak sengaja bertemu dengan Ken dan lelaki itu mengatakan "kau harus lebih berusaha, mendapat restu dari Gion. Aku dan Dion sudah memberikan kepercayaan padamu. Kau harus bisa selalu menjaga Quuenesya kami dengan baik"
"Baiklah, tapi aku sudah boleh melakukan inikan?"
Cup
Lagi dan lagi Evan mencium bibir Esya namun kali ini hanya sebuah ciuman biasa tidak ada pergerakan disana, Evan hanya mencium Esya sekilas saja lalu menjalankan kendaraan itu kembali.
"Hei, kau tidak boleh melakukan itu sebelum mendapat izin dari kak Gion"
"Jadi maksudmu, jika aku berhasil maka aku bebas untuk melumat bibir pink mu itu?"
"Ta-pi t-tidak s-sesering itu juga" bata Esya berbicara.
"Artinya kau sudah memberi aku lampu hijaukan?"
"Ah, sudahlah. Aku malas berbicara denganmu, kau membuatku kesal"
"Kesal tapi, sayangkan?"
"T-tidak, kok"
"Benarkah?"
"Cukup, berhenti menggodaku Evan!!!"
"Bisa kau jelaskan, dibagikan mana aku menggodaku?"
"Kau tidak menyadarinya sejak tadi?"
"Hn,Maka dari itu kau harus mengatakannya padaku agar aku bisa tahu, bukan?"
"Kau tadi berkata jika berhasil maka kau bebas melumat bibir pink ku, saat aku kesal itu artinya aku sayang padamu, apa hal itu bukan termasuk menggoda?"
"Bukan, ucapan mu itu justru lebih seperti lampu hijau bagiku"
Tangan kanan Evan sedang mengemudi dan tangan kirinya meraih dagu Esya membawa wajah manis itu mendekat kearahnya. Mata Esya melotot merasa sedang dalam mode waspada.
"Kau mau apa, Van?"
"Kau tahu tidak, bibirmu ini sangat manis, melebihi gula ataupun madu"
Cup
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya dalam sehari ini kedua benda kenyal itu bertemu, Evan melumat bibir Esya selembut mungkin, agar gadisnya itu merasa nyaman. Evan menghentikan laju kendaraan itu, lalu melanjutkan kegiatannya lagi.
"Bibirmu dan semua yang ada padamu hanya milikku saja, tak akan aku biarkan seseorang merebutnya dariku"
"Merebut? Memangnya siapa yang akan merebut aku darimu?"
__ADS_1
"Sya, berjanjilah. Apapun yang terjadi nanti kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, ku mohon mulai sekarang jangan pernah berbicara dengan Briand, dia orang yang licik"
"Hei, kamu tahu aku bagaimanakah? Aku tidak mungkin akan meninggalkanmu, kita sudah pernah saling berjanji bukan? Mengenai masalah Briand, aku tidak tahu kau ada masalah apa dengannya hanya saja aku akan mencoba untuk menjaga jarak darinya"
"Terima kasih, aku memang tidak salah memilihmu sebagai calon nyonya Shakespeare di masa depan"
Blush...
Rona merah itu muncul lagi di wajah manis Esya membuat gadis itu semakin terlihat cantik. Evan tersenyum bahagia melihat gadisnya itu merona, Esya memang adalah sumber kebahagiaan bagi Evan pribadi, bukan karena kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya.
"Sekarang apa aku sudah boleh di antar pulang?"
"Belum, sebelum kamu memberikan aku sebuah kecupan"
"Apa!? Aku tidak seberani dirimu, Evan"
"Kalau begitu, yasudah. kita akan tetap berada disini"
"Bisakah aku lakukan lain kali?"
"Kau punya dua pilihan, beri aku kecupan atau bertunangan dengan ku"
"Aku pilih bertunangan" kata Esya setidaknya ia tidak akan melakukan itu kedepannya.
"Baiklah, aku akan bicara dengan orang tua ku nanti biar mereka yang mengaturnya"
Batin Evan berteriak kegirangan, sudah sejak lama ia berencana untuk melakukan ini, Dengan adanya status sebagai tunangan maka Gion mau tidak mau harus merestui mereka, jika tidak maka ia akan terkena Omelan dari anggota keluarga Vondrienty lainnya.
"Bisa kita pulang sekarang?"
"Tentu saja, princess"
Mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke mansion Vondrienty, hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai tujuan karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya merekapun tiba di mansion, Evan menekan tombol untuk membunyikan klakson mobilnya agar petugas bisa membuka pintu gerbangnya. Setelah itu Evan memarkirkan mobil di garasi. Esya turun dari mobil begitu pula dengan Evan, mobil Evan sudah ada di depan teras mansion.
Cup
"Itu ciuman tanda perpisahan, aku pulang dulu yah Princess" ucap Evan lebih dulu sebelum Esya berbicara.
"Hati-hati dijalan, Van" kata Esya tak lupa dengan senyuman manisnya meskipun ia masih kesal dengan kelakuan lelaki itu sejak tadi.
Evan masuk kedalam mobilnya dan mulai menyalakan kendaraannya, lalu melajukan kendaraannya menjauhi mansion Vondrienty, ia ingin segera sampai di mansion dan membicarakan tentang yang tadi dengan kedua orang tuanya.
Tbc
Maaf lama baru update
Jadwal author Padat soalnya
Salam🙏🏻
__ADS_1