QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 23 Terusir


__ADS_3

Seperti embun yang tidak pernah bisa bertahan lama di depan jendela kamar dan seperti pelangi yang tak pernah lagi menampakkan dirinya dikala hujan berhenti. Seperti pula kehidupan gadis itu, tidak selamanya akan selalu berada di tempat yang sama pula.


Tadi siang setelah kejadian di belakang sekolah itu terjadi, Esya langsung saja pergi menuju ketempat biasa dimana ia bekerja, hanya saja ketika sampai di sana ia baru sadar jika hari ini bukan giliran dia untuk melakukan pekerjaan.


Jadwal kerjanya telah berpindah kehari Sabtu dan Minggu dimana ia memiliki waktu luang untuk bekerja. Setelah itu, ia memilih untuk pergi ke taman terdekat dari rumah yang ia telah naungi selama ini.


Menenangkan diri dan mencari udarah segar sembari melanjutkan rutinitas kosongnya dengan membaca buku novel favoritnya itu, ingatannya kembali pada kejadian pagi tadi tepat di belakang sekolah, seorang remaja yang ia ketahui bernama Dion memeluk dirinya erat sembari menangis setelah ia membuka gelang yang telah bertengger lama di pergelangan tangannya.


Memikirkan rasa hangat yang timbul saat berada di pelukan cowok itu menambah heran dirinya, akan satu hal yang selama ini menganggu pemikirannya.


Mengapa gelang miliknya tidak pernah bisa dilepaskan oleh orang lain selain Dion salah satu kakak kelas yang baru ia kenal tadi pagi.


Setelah menghabiskan banyak waktu di taman dengan berdiam diri dan membaca bacaannya, Esya cewek imut itu kembali ke mansion dimana ia di tampung selama ini.


Dan disinilah ia sekarang, didepan ketiga manusia yang menurutnya tidak memiliki perasaan layaknya keluarga berbulu serigala. Menundukkan kepala dan pasrah hanya itulah yang selalu bisa ia lakukan setiap hari tanpa keberanian untuk melawan.


Bukannya ia takut, hanya saja jika ia melawan bisa saja ia akan di tendang keluar dari mansion ini dan menjadi gelandangan baru di kota tua. Ia tidak mau jika itu sampai terjadi, terlebih lagi dirinya tidak memiliki sanak saudara yang bisa ia hubungi, karena Ponsel saja ia tidak punya.


"Apa yang sudah kau lakukan?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Esya sudah mengerti apa yang sedang terjadi. Aurel pasti sudah mengarang cerita baru lagi pada kedua orang tuanya agar dirinya terkena masalah lagi.


Apa yang bisa Esya lakukan sekarang, menjelaskan hal itu juga tidak akan mereka percaya, tidak ada gunanya jugakan untuk dirinya, jadi lebih baik jika dirinya diam saja agar masalah ini cepat berakhir dan ia bisa kembali kedalam kamarnya yang begitu nyaman. Meskipun hanya dengan fasilitas seadanya saja.


"Kau tak ingin berbicara?"


Beep...beep...


Dering telpon itu membuat aktivitas yang sedang berlangsung itu terhenti, pria paruh baya itu baru saja menerima telpon dari seseorang yang sepertinya begitu penting.


"Ada apa?"


"Barusan aku menerima telpon dari salah satu staf di kantor"

__ADS_1


"Lalu apa katanya?"


"Sebagian besar saham yang di tanam oleh Vondriety company (VC) telah mereka cabut kembali"


Wanita paruh baya itu, menunduk lesuh mendengar perkataan suaminya itu. Bagaimana bisa hal itu terjadi, setahu mereka hubungan antara kelurga vondriety dan Petter selama ini baik-baik saja, tidak pernah ada masalah. Sedangkan,Pria itu hanya berjalan bolak-balik sambil memegang dahinya, seraya berpikir mencari cara agar perusahaan mereka tidak berada di tahap darurat.


Esya hanya diam mencerna pembicaraan sepasang suami istri di hadapannya itu, ia cukup mengerti apa yang sedang terjadi disini. Saham yang ditanam oleh VC sangatlah penting terutama tidak sembarang orang bisa melakukan kerjasama dengan mereka.


"Apa yang kau lakukan disitu, cepat pergi sana"


"Ba-ik"


Esya mulai berjalan menjauhi kedua orang tua itu, yang sepertinya mulai prihatin terhadap kondisi perusahaan mereka kedepannya, terutama sekarang ini pesaing bisnis begitu sangat banyak.


👯Queenesya👯


Gadis itu berjalan menghampiri kedua orang tuanya, merasa aneh bahkan memiliki firasat yang tidak baik akan hal ini. Di tatapnya kedua orang tuanya itu secara bergantian.


"Mi,Pi"  panggil gadis itu


Bingung, itulah yang ia rasakan. Tidak biasanya maminya bertanya mengenai kegiatannya di sekolah, apa yang harus ia jawab?, Apakah ia harus mengatakan kejadian yang terjadi selain dimana ia mengancam Esya?, Tentu Tidak, karena ia bisa masuk didalam bahaya jika sampai orang tuanya tau.


"Aku hanya mengancam Esya karena mendekati Dion, itu saja"


"Selain kejadian itu" tatap papinya


"Ti-dak Ad-a"


"Kalau tidak ada mengapa pihak VC sampai mencabut saham yang mereka tanam pada perusahaan Kita" teriaknya tepat di depan wajah putri tunggalnya itu


'Apa!!!' batin Aurel. Ternyata benar ini semua karena ulahnya tadi pagi, Dion benar-benar meminta ayahnya untuk mencabut saham di perusahaan milik keluarganya.


"Sekarang katakan yang sejujurnya"

__ADS_1


"Aurel!!!" Bentak maminya


Aurel yang tersentak kaget akan perilaku maminya itu bisa apa sekarang. Ini pertama kalinya maminya itu membentak dirinya, bahkan papinya pun seperti tidak memiliki niat untuk menolong dirinya.


"Se-ben-ar-nya..." Ucap Aurel menggantungkan ucapannya, dirinya belum yakin akan menceritakan kejadian tadi pagi.


"Apa!!! Cepat katakan"


"Se-ben-ar-nya, i-ni ka-ren-a u-lah Ga-di-s Mis-ki-n itu Mi, Pi. Yah, ini semua karena Esya, tadi pagi aku memergoki dia sedang berusaha menggoda Dion"


"Apa hubungannya?"


"Aduh mami, di kota ini siapa coba yang tidak tau tentang dia,gadis yatim yang begitu brruntung di angkat menjadi anak oleh keluarga Petter"


Sekilas sepasang suami istri itu memikirkan kembali apa yang telah di katakan oleh putrinya itu, ada benarnya juga bisa jadi Esya memiliki rencana untuk menghancurkan keluarga Petter, mengingat perlakuan kurang baik yang selalu mereka berikan.


"Benar-benar anak itu"


Wanita paruh baya itu berjalan kearah belakang dimana terletak ruangan kecil tempat Esya selalu beristirahat. Dari belakangnya anak serta suaminya mengikuti langkahnya, Aurel hanya memasang senyum kemenangan, menghancurkan kehidupan Esya sama saja dengan menggapai mimpinya selama ini.


Membuka pintu kayu itu dengan cepat, berjalan kearah gadis yang sedang terlelap, mencengkram lengan gadis itu dengan kuat lalu Menariknya hingga gadis itu terbangun dari tidurnya.


Tidak sampai disitu sekarang giliran Aurel yang menarik Esya hingga ke depan teras mansion, apa yang bisa ia lakukan jika melawan pun juga bukan merupakan haknya.


Setelah tiba di depan teras mansion langsung saja tanpa hati Aurel mencengkram erat lengan gadis itu lalu tanpa pikir panjang lagi ia menghempaskan tubuh gadis itu layaknya sebuah bantalan.


"Pergi kamu dari sini"


"Karena kau keluarga kami selalu mendapat banyak kesialan"


"Ck, dasar sampah"


Prakkk...

__ADS_1


Pintu itu dibantingnya dengan keras, meninggalkan Esya sendiri di luar, sekarang Esya harus kemana dalam keadaan seperti ini. Esya sama sekali tidak membawa pakaian, uang sepeserpun juga tidak ada di kantungnya, semuanya tertinggal di dalam kamarnya.


'Hujan' pikir Esya, apa yang  harus ia lakukan sekarang dan kemana ia harus melangkah. Ia tidak tau siapa yang akan ia mintai tolong. Apa mungkin selama hidupnya ia tidak akan pernah bisa bahagia.


__ADS_2