QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 78 Waktu bersama


__ADS_3

Gadis itu berjalan keluar dari ruang kelasnya, ia tersenyum menandakan bahwa mood gadis itu sedang bagus, karena hari ini dosen memuji perencanaan bisnisnya, setelah presentasi di kelas tadi.


Ia terus berjalan, menelusuri koridor gedung fakultasnya, dan memasuki lift hendak untuk ke lantai dasar.


Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari Melsha, temannya. Seharusnya sekarang kelasnya juga selesai, berhubung karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Ia dan Melsha memang mengambil jurusan yang sama, sedangkan ketiga temannya yang lain mengambil jurusan yang berbeda.


Zee memilih untuk mengikuti jejak sang ayah sebagai seorang dokter, Ginta memilih untuk masuk ke jurusan arsitek dan Eve gadis itu memilih untuk masuk ke jurusan manajemen, dan yah satu lagi sahabat mereka yang bernama Audet, kalian masih ingatkan!?


Audet, Dimas dan Orion memilih untuk kembali ke Inggris dan melanjutkan pendidikan mereka disana. Sebenarnya Audet berat jika harus berpisah dengan yang lainnya, namun memang itu yang harus ia lakukan. Maminya sangat merindukannya dan memintanya untuk kembali.


Di sana Audet juga melaksanakan acara pertunangan bersama dengan Orion, kekasih masa kecilnya itu. Sedangkan untuk Dimas, ia diminta untuk mengelola perusahaan menggantikan sang ayah yang sudah berpulang karena kecelakaan yang menimpanya 2 tahun yang lalu.


Baiklah sekarang kita kembali ke Esya, sekarang Esya masih celingak-celinguk mencari Melsha, ia berjalan menelusuri koridor lantai satu hendak untuk mengambil barangnya di loker. Lalu kembali mencari sahabatnya itu.


"Sya" panggil seseorang dari arah belakang, Esya membalikkan badannya dan tertegun ketika tahu siapa yang memanggilnya, ia berusaha menahan rona merah yang akan muncul ketika ia hanya berdua dengan lelaki ini.


"E-evan" Esya terbata mengucapkan nama lelaki itu, ia berniat untuk menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya. Entah sejak pernyataan Evan di taman, keesokan harinya ia sudah tidak memiliki keberanian untuk menatap mata itu lama.


Padahal Jika sedang bersama dengan yang lain, Esya terlihat santai saja dan yang terpenting semburan merah di pipinya juga jarang muncul, berbeda lagi jika hanya berdua dengan lelaki ini, Esya tidak memiliki keberanian. Entah kemana perginya keberanian Esya sehingga tergantikan dengan kegugupannya.


Evan tersenyum manis pada Esya, tangannya kenali mengacak-acak rambut gadis di hadapannya seperti yang ia lakukan di kafetaria tadi. Esya mengerucutkan bibirnya lagi, berpikir mengapa lelaki di hadapannya ini begitu suka membuat rambutnya berantakan.


"Jangan memasang wajah seperti itu, kau hanya membuatku semakin tidak tahan dengan bibir pink mu itu" goda Evan, Esya refleks membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. hal itu justru membuat Evan terkekeh geli, ia tidak mungkin akan melakukan itu jika Esya sendiri belum siap.


"Mau pergi bersama?" Ajak Evan


"Mau kemana?" tanya Esya, sekali lagi Evan kembali tersenyum.


'sial, mengapa ia sangat tampan?'  batin Esya.


"Ikut aja, nanti kita beli ice Cream deh" jawabnya, mendengar itu mata Esya langsung berbinar bahagia, dengan semangat Esya menggenggam tangan Evan erat lalu berjalan kearah parkiran.

__ADS_1


'aku sayang kamu Sya, senyummu adalah sumber bahagiaku' batin Evan berkata, lalu kembali menampilkan senyumnya lagi, Meksi kali ini begitu tipis hingga tidak akan banyak yang menyadari hal itu. Setibanya mereka di parkiran Esya memasuki mobil milik Evan begitupula dengan sang pemilik mobil.


"M-mobilku gimana ntar,Van?"


"Tenang aja Sya, aku sudah menyuruh seseorang untuk mengantar mobilmu ke mansion"


"T-tapi...."


"Tenang saja, semua pasti aman kok. Kamu tidak perlu khawatir"


'aku tidak mengkhawatirkan mobilku. Aku mengkhawatirkan kamu Evan' batinnya berkata.


Ponsel miliknya baru saja mati karena Esya lupa mengisi dayanya pagi tadi, dan ia baru sadar jika belum mengatakan pada kakaknya  jika ia  ingin keluar bersama dengan Evan. Parahnya lagi, hari ini Evan tidak membawa ponselnya.


Esya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi nanti jika Evan mengantarnya pulang. Pasti akan terjadi perang mulut diantara Gion dan Evan lagi. Kedua lelaki itu tidak pernah bisa akur sedari dulu,Esya saja hampir dibuat pusing oleh keduanya.


Mobil itu terus melaju, menelusuri kota Hollywood. Hari memang sudah semakin sore, Esya tebak jika sahabatnya sudah  mencari keberadaannya sekarang. Esya juga tidak tahu, kemana Evan akan membawanya, lelaki itu sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.


"Silahkan keluar, Princess" ucapnya sambil membungkuk hormat seperti pengawal kerajaan.


"Kita udah sampai Van?" tanya Esya, ia lalu memandang ke sekitar untuk memastikan dimana mereka berada sekarang.



(Griffith Park)


Mata Esya berbinar, melihat pemandangan sekitar yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang menyegarkan mata, lingkungan sekitar juga sangat asri dan sejuk, Esya sangat menyukainya.


"Apa kamu suka?" tanya Evan


"Tentu saja, Van. Ini sangat indah" senyum lebar Esya tercetak jelas di wajah gadis itu, sehingga menampilkan kedua lesung pipi miliknya.

__ADS_1


Cup


Evan syok mendapat ciuman dari Esya, ini kali pertama Esya menciumnya Meski hanya di pipi saja. Hatinya bergetar, ia menyentuh pipi dimana Esya mendaratkan benda kenyal tadi, lalu beralih menatap ke arah Esya yang sedang menunduk menahan malu.


"M-maaf,Van. Aku tidak sengaja" ucap Esya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Evan.


"Tak apa,Sya. Aku menyukainya, terima kasih"


Blush...


Pipi Esya semakin memerah mendengar ucapan Evan. Ia semakin tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah lelaki itu. Bagaimana bisa, ia melakukan hal itu tanpa sadar, Esya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuannya tadi.


Melihat Esya yang tak kunjung mengangkat kepalanya, membuat Evan gemas sendiri. Ia menyentuh dagu gadis itu lalu mengangkatnya, membuat ia akhirnya bisa menatap dalam mata Esya yang indah.


"Bolehkah?" tanya Evan, Esya yang mendengar itu mengerti. Ia kembali menutup matanya sebagai tanda jika ia sudah mengiyakan perkataan Evan.


Cup


Untuk pertama kalinya hal itu terjadi didalam hidup mereka. Esya masih menutup matanya, sedangkan Evan melumat pelan, dan merasakan bagaimana rasa benda kenyal itu. Setelah itu, Evan menghentikan kegiatannya dan melepas ciuman mereka.


Mata Esya  terbuka dengan perlahan, lensa mata berbeda warna itu saling mengisyaratkan suatu hal yang hanya mereka berdua dan sang 0encipta yang tahu.


Evan tersenyum masih dengan menatap wajah manis gadis di hadapannya ini, begitu pula dengan Esya meskipun dalam keadaan yang gugup ia juga tersenyum manis, semburan merah kembali memenuhi pipi gadis itu.


"Kamu yang pertama,Sya. Terima kasih"


"Kamu juga yang pertama,Van"


Esya mengalihkan pandangannya dari Evan, ia masih sangat malu dengan apa yang terjadi barusan. Sedangkan Evan kembali membayangkan apa yang baru mereka alami, gadis pertama yang mengambil hatinya serta first kiss nya adalah Esya.


Begitu pula dengan sebaliknya, ia adalah yang pertama untuk Esya dan kini ia semakin yakin jika mereka suatu saat nanti akan di takdir kan untuk bersamaan. Yang penting ia sudah membuat luluh ketiga monster itu.

__ADS_1


__ADS_2