
Siang hari yang cerah, Esya keluar bersama dengan Audet. Mereka akan bertemu dengan Zee dan yang lainnya, dua hari ini Esya terkurung habis-habisan karena ulah Gion yang tidak mengizinkannya untuk keluar dari mansion. Ia tidak tahu mengapa sikap kekanakan kakaknya itu terkadang muncul secara tiba-tiba.
Meskipun Esya tidak bisa memungkiri jika ia sangat senang jika mendapat perlakuan manis seperti itu dari Gio walaupun terkadang Esya dibuat kesal karena sikap kakaknya yang terlalu mengawasinya setiap saat. Dan akhirnya ia memiliki kesempatan juga untuk bebas keluar bersama dengan Audet setelah ia merengek habis-habisan pagi hari tadi.
"Kau serius, Sya... Melakukan hal itu pagi tadi?"
"Mau gimana lagi, kalau aku gak ngelakuin pasti sekarang aku masih terkurung di kamar"
"Haha, kau kan bisa melapor pada opa atau oma mu"
"Sudahlah,aku juga gak kepikiran sampai kesana"
Bahkan sekarang Esya tidaklah yakin kakaknya itu akan membiarkan dia keluar sekarang, bisa saja sekarang ini kakaknya Gion sedang mengintainya dari jauh. Sepertinya ini adalah balas dendam kakaknya karena tidak ikut bersama dengan mereka kemarin.
Mereka tiba di coffee Cafe, tempat favoritnya mereka sejak dulu. Mereka masuk dan menyapa beberapa pelayan yang Tak sengaja berpapasan dengan mereka. Sekarang cafe ini sudah terlihat lebih luas ketimbang dua tahun lalu. Esya dan Audet menghampiri Zee dan yang lainnya di salah satu meja yang dekat dengan Jendela.
"Hai,kalian. Udah pada nunggu lama yah?"
"Aaah, Clau. Kapan kamu tiba?"
"Tiga hari yang lalu, maaf belum sempat ngabarin"
"Tidak apa, mengetahui kedatangan mu saja sudah membuat kami senang"
"Benar, akhirnya setelah sekian lama kita bisa berkumpul lagi, iyakan Sya?"
"Hnm"
"Bagaimana kalau kita kepuncak lagi?"
"Aku setuju, tapi kali ini hanya kita berenam saja"
"Aku juga setuju, bagaimana denganmu Clau, Sya"
"Aku ikut saja, lagipula aku juga sudah lama gak ngabisin waktu bareng kalian"
"Sya, kamu gimana?"
"Sya..."
"Esya..."
__ADS_1
"Eh, iya ada apa Zee?"
Mereka semua melihat kearah Esya, sejak tadi Esya tidak fokus pada pembicaraan teman-temannya karena sejak tadi perhatiannya hanya tertuju pada ponselnya. Mereka menunggu Esya untuk berbicara, tidak.biasanya Esya akan diam dan mengabaikan pembicaraan seperti ini.
"Memangnya, apa yang sedang kalian bahas?" tanya Esya, dengan tampang polosnya.
"Astaga, Sya. Sudah sangat jelas sejak tadi kau pasti tidak mendengarkan kami, yah?"
"Maaf, aku terlalu fokus membalas pesan"
"Dari siapa? Kau tidak seperti biasanya"
"Ini dari kak Becca"
"Becca?! Maksudmu, Rebecca kakak kelas kita dulu?"
"I-iya, kak Becca dan kak Clara akan datang berlibur Minggu ini, aku gak sabar pengen ketemu mereka"
Semuanya terdiam terutama, Zee, Ginta, dan Eve. Mereka memang memberitahu Esya bahwa Rebecca dan Clara yang menemani dia di Singapura dulu adalah mantan kakak kelas mereka di sekolah sebelum kejadian itu terjadi. Namun mereka tidak pernah mau menceritakan tentang insiden pembullyan yang di lakukan oleh mereka pada Esya.
Karena mereka semua tahu, bahwa ingatan Esya tidak akan bisa pulih kembali. Yang mereka cerita tentang pembullyan itu hanyalah Aurel dan dkk.a namun tidak pernah menyebut nama keduanya. Mereka takut jika hal itu akan memperburuk keadaan Esya. Audet dan Melsha tidak terlalu mengenal keduanya karena memang mereka datang setelah kejadian buruk itu terjadi.
"Benar, aku dengar Cafe yang Mereka kelola sudah berkembang pesat"
"Aaah, aku jadi tidak sabar"
"Aku jadi penasaran dengan mereka" ucap Audet
"Nanti akan aku kenalkan mereka pada kalian berdua"
Senyum Esya semakin lebar, ia sangat tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Becca dan Clara. Mereka berdua yang telah menemani Esya selama masih menjalani pengobatan di Singapure dulu. Esya juga sudah menganggap Becca dan Clara sebagai kakaknya sendiri dan tentunya Esya menyayangi mereka berdua sama seperti ketiga kakaknya.
"Baik, sekarang mari kita kembali ke pokok pembicaraan kita yang tadi. Jadi Sya, apa kau setuju jika kita pergi ke puncak lagi?" tanya Zee
"A-aku setuju saja. Tapi bagaimana dengan ketiga kakakku? Mereka pasti tidak akan mengizinkan"
"Tenang saja untuk urusan Dion dan Gion serahkan saja padaku dan Zee. Lalu Eve mengurus Ken saja, bagaimana?"
"Kak Ken, yah?"
"Ada apa, Sya?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Aku hanya teringat kejadian lucu beberapa hari yang lalu"
"Apa ada sesuatu yang terjadi setelah aku pulang?"
"Hn, tapi tidak terlalu penting. Eve bagaimana kedekatan mu dengan Leon?, ku pikir kalian semakin dekat"
Blush....
Pipi Eve sedikit bersemu merah, belakangan ini Eve memang sering bertemu dengan Leon. Mereka mulai dekat ketika Melsha mengajaknya untuk menemani dirinya bertemu dengan Leon untuk membicarakan beberapa hal menyangkut Bima. Sejak setelah pertemuan mereka itu, Leon sering mengajak Eve untuk menghabiskan waktu senggang bersama ataupun meminta tolong padanya untuk menemani dirinya memantau Bima.
"T-tidak. Kami tidak sedekat yang kamu bayangkan, Sya"
"Benarkah? Tapi gelagat mu sepertinya mengatakan hal yang sebaliknya"
"Tidak, aku sangat serius tau"
"Kalau begitu apa masih ada kesempatan untuk kakak sepupuku itu?" ucap Esya dengan nada yang rendah
"Apa,Sya? Kau bilang apa barusan?" tanya Melsha
"T-tidak ada, sudahlah. Mengapa kita tidak memesan makanan sekarang? Apa kalian sama sekali tidak lapar?"
Esya berusaha mengubah arah pembicaraan mereka, hampir saja ia memancing rasa ingin tahu para sahabatnya ini. Ingatannya kembali pada kejadian yang terjadi di akhir pekan kemarin. Setelah ia menjauh dari kakaknya, dan berlari menuju kamarnya untuk menghindari Ken, kakak sepupunya itu.
Jika dia tertangkap maka ia harus menceritakan segala hal yang ia ketahui tentang Eve belakangan ini. Terutama mengingat Eve dan Ken memang pernah dekat dan sepertinya sudah hampir menuju ke tahap yang serius, sebelum segala kesibukan mulai memenuhi jadwal kosong Ken sebulan yang lalu.
"Benar, pesanlah sepuas kalian. Kali ini biar aku yang bayar"
"Kau seriuskan. Aku makannya banyak loh"
"Tak masalah, jangan mengira jika dompet ku akan langsung tangkas jika hanya membeli makanan"
"Baiklah. Aku tidak akan malu-malu lagi" kata Zee, dengan sedikit berakting.
"Kau kan memang tidak pernah memiliki rasa malu" ucap Melsha dengan sengaja menyindir ucapan Zee.
Tawa mereka pecah, tanpa menyadari bahwa sejak tadi mereka sudah di pantau oleh beberapa orang dari jarak yang berbeda. Tentu saja salah satu di antara orang itu adalah Gion, ia tidak mungkin dengan mudah memberi izin pada adik kecilnya itu untuk keluar tanpa pengawasan darinya dan entahlah dengan seorangnya lagi.
Tbc
I'll wait for the next part of my story, thank you 🙏🙏🙏
__ADS_1