
Skip Time...
Gadis itu berlari mengelilingi halaman mansion bercat putih itu, mencoba mencari tempat yang dirasanya aman untuk menyembunyikan diri dari ketiga laki-laki yang kemungkinan akan menghukumnya nanti, jika sampai ia tertangkap lagi.
Beberapa menit yang lalu ia tidak sengaja menemukan spidol hitam di atas nakash meja di ruang tengah, dengan usilnya ia membuat sebuah karya seni di wajah ketiga kakak laki-lakinya yang sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing. Sedangkan dari jauh, sudah ada dua wanita yang memperhatikan gerak-gerik nya sejak tadi.
"Princess, ngapain disitu?" tanya Aunty Sasha,pada keponakan tercintanya itu.
"Ssstt... Aunty jangan bersuara dulu. ntar ketahuan sama mereka" kata gadis itu, sambil mengatupkan jari telunjuknya di bibir.
"Ah, Bunda tahu. Princess pasti abis usil lagi yah, sama kakak?" tebak Bunda Melan, Esya hanya memasang wajah cekikikan pertanda jika tebakan sang Bunda memang benar.
"Hehe....Bunda tahu aja" senyum lebar muncul di wajah manis Esya,membuat sang Bunda geleng-geleng dengan tingkah usil putrinya itu.
Terkadang Melan bertanya-tanya dari mana sifat usil putrinya itu berasal, apakah sudah tertular keusilan kedua kakaknya atau mungkin karena faktor lain?, yang membuat putrinya jadi seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Setidaknya melihat anak-anaknya tersenyum adalah salah satu kebahagiaan kecil dalam hidupnya.
Masih dari jarak yang sedikit jauh, Melan dan Sasha melihat ketiga laki-laki dengan penampilan yang berantakan, dan ekhm.... Sedikit karya seni di wajah ketiganya, sedang berjalan tanpa suara menuju ke arah Esya yang sedang membelakangi mereka.
"Bun,Aunty kalian kenapa? Kok masang ekspresi gitu? Aku gak ketinggalan sesuatukan? Atau aunty sama bunda bisa liat makhluk mistis dan jangan bilang kalau makhluk itu ada di belakang aku?!" tanya Esya, karena tidak mendapat jawaban Esya berinisiatif sendiri untuk memutar badannya dan....
"Aaaaa.... Makhluk mitologi darimana ini mengapa bisa masuk ke mansion, huwwahh.... Oma Opa Kakak..."
Dion memasang wajah masam, Gion dengan tatapan yang melotot dan Kenned dengan kerutan di dahinya, mereka mendekat dan semakin mendekat kearah Esya yang masih belum sadar dengan kehadiran ketiganya.
"Princess!!!" teriak ketiganya, membuat Esya tersadar, ia meneguk salivanya berat menatap ketiga kakaknya yang sudah berdecak pinggang.
"Eh, kakak. Gimana tugas kuliahnya?" tanya Esya polos
__ADS_1
" Jangan coba mengalihkan pembicaraan princess"
"untuk kali ini, aku tidak akan terlena oleh rayuan maut mu itu, princess."
"Siapa yang sudah menularkan bumbu-bumbu keusilan pada mu?"
Esya takut, tidak berani menatap wajah Dion,kakak pertamanya. Kali ini,ia tahu jika kakaknya itu sudah serius, karena tidak menggunakan embel-embel seperti biasannya. Semenit kemudian, mata Esya sedikit melirik ke arah Gion dan Kenned, meminta pertolongan.
Namun, sayang sekali. Hanya sikap acuh yang ia terima dari keduanya. Kesal akan hal itu Esya mengangkat tangannya lalu menunjuk kearah keduanya. Sebaiknya 8a mencari aman sekarang,salahkan saja Gio dan Ken yang tidak mau menolong Esya, meski tahu jika mereka juga terkena aksi jailnya.
Mengerti akan hal itu, Dion mengangguk paham. Wajar saja jika Esya nya sudah menjadi gadis yang usil karena kelakuan keduanya. Padahal, dulu adiknya itu tidak seperti itu, Ia adalah pribadi gadis yang kian berubah setiap waktu.
"Ma-maaf" Esya menghilangkan tangannya lalu menjewer kedua perusahaan itu, tak lupa ia memasang wajah memelasnya dengan puppy eyes, andalannya.
"Huft..." gumamnya
Jika sudah seperti ini apa yang bisa ia lakukan, mau marah pun ia tidak bisa, jika sudah berurusan dengan sikap adiknya yang begitu manis ini. Oh, astaga salahkan ayah dan bundanya yang entah menggunakan teknik apa sehingga menghasilkan adik perempuan untuknya dan Gion yang begitu menggemaskan.
'oh,tidak' batin Esya berkata. Sepertinya sekarang ia harus segera berada dalam mode siaga satu.
"Aku rasa, kita harus menggeledah ruang pribadinya, aku jadi penasaran apa yang ada di dalam, sehingga princess tidak memperbolehkan kita untuk memasukinya"
'oh,tidak. Jangan sampai melihat isi ruangan itu' batinnya berkata lagi, Esya melangkah mundur hendak untuk menjauh dari ketiganya.
Memasang aba-aba dalam pikirannya lalu, kembali berlari memasuki mansion. Ia berniat untuk tetap berada di dalam kamarnya guna untuk menjaga pintu ruangan itu. Ia tidak boleh membiarkan ketiga kakaknya melihat Boneka lilin, yang menyerupai mereka, sebelum peluncuran propertinya dirilis.
Karena, ketiga boneka lilin itu akan menjadi karya seni pertamanya untuk ia publikasikan pada orang-orang. Yah, meski telah memiliki usaha dari kedua Omanya, saya memiliki niat sendiri untuk menciptakan usaha yang ia geluti mulai dari Nol.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan princess kita?"
"Jangan bertanya padaku, karena aku juga tidak tahu."
"Hei, bukankah kalian bertiga memiliki jadwal kuliah hari ini?" tanya Melan pada mereka.
"Oh,astaga. Aku lupa kalau harus mengumpulkan tugas hari ini. Jam berapa sekarang?" tanya Gion
"11.45"
"Astaga, aku terlambat. Sial...." Gion pergi dari sana dengan tergesa-gesa, meninggalkan kedua saudaranya itu.
Kedua wanita yang hanya menyimak pembicaraan anak-anak mereka sejak tadi hanya menggelengkan kepala. Terlihat lucu Dimata mereka padahal, umur mereka sekarang sudah bukan seorang anak yang baru memasuki fase remaja.
"Ekhm.... Sekarang apa kalian masih saja ingin berada disini?" tanya Sasha, bunda Ken
"Oh, ayolah Bun, kenapa aku merasa kalau pagi ini terlihat sedikit aneh? Apa kau juga merasakannya Dio?!" tanya Kenned padanya.
"Ck, yang aneh itu bukan pagi hari tapi dirimu" jawab Dion lalu melangkah pergi meninggalkan Ken di halaman belakang.
"Hei.... Apa maksud ucapan mu itu, Manusia Es?" Ucapnya sedikit agak keras.
"Ssstt... Jangan berisik Ken, atau kau akan membangunkan bayi tetangga" kata Sasha pada putra semata wayangnya itu.
Ken mengkerut kan dahinya, memasang wajah masamnya mendengar ucapan bundanya, terlihat sedikit menjengkelkan untuknya. Sempat terlintas dalam pikirannya, mengapa ayahnya dulu mau meminang bundanya, yang sekarang sudah menjadi sedikit menyebalkan. Berbeda dengan 2 tahun yang lalu, sifat bunda dan aunty nya sudah seperti anak remaja, seusia Esya.
Atau mungkin saja, mereka berdua sudah tertular sifat Esya. Seperti dirinya dan Gion yang sudah menularkan keusilan mereka pada gadis manis itu. Entahlah memikirkan hal itu, membuat kepalanya menjadi pusing sendiri. Sepertinya ia harus melakukan Yoga untuk merilekskan pikirannya kembali.
__ADS_1
Tbc
.