QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 19 Kehangatan


__ADS_3

Siang ini, diruang kelas X.C seorang gadis sedang asik membaca sebuah novel di bangku pojok bagian belakang dengan sangat tenang dan damai itulah yang dia rasakan saat ini.


Kejadian di belakang sekolah pagi tadi membuat dirinya begitu kepikiran, seorang cowok yang baru ia kenal tadi yang merupakan salah satu kakak kelasnya yang  bernama Dion menangis dalam pelukannya setelah memegang gelang miliknya tadi, gadis itu adalah Esya.


Sejak kembali dari belakang sekolah peristiwa itu terus saja berputar dalam pikirannya, tapi satu yang ia tahu adalah hatinya begitu hangat dan nyaman ketika cowok itu memeluk dirinya dan berkata agar ia memanggil dirinya dengan sebutan kakak. rasanya seperti ia telah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.


Ketika kembali ke kelas ia langsung melanjutkan rutinitasnya bergulat kedalam dunia fantasi yang ada di dalam buku novel yang berjudul 'The Real Princess', sembari menunggu guru yang akan mengajar mereka.


Setelah kelas selesai, ia masih melanjutkan  rutinitas yang tadi tertunda karena pelajaran, hari ini adalah hari kedua dimana dirinya resmi menjadi anggota dari QHS.


Dirinya belum mengenal semua teman kelasnya ini, karena memang sifatnya yang cendrung cuek dan tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya membuat dirinya tidak memiliki nyali untuk menyapa mereka.


Sejak dulu, dirinya memang tidak memiliki seseorang yang bisa ia katakan sebagai teman. Semuanya hanya akan datang padanya ketika mereka bingung akan mengerjakan soal, lalu setelah itu dirinya akan kembali dilupakan. Mungkin itulah yang membuat dirinya terbiasa dengan kesunyian, menjadikan Kesendirian sebagai  teman yang selalu menemani langkahnya.


Tanpa ia sadari ketiga pasang mata itu terus saja menatap dirinya dengan intens, dengan banyak rasa penasaran yang mulai menghampiri pikiran mereka, sampai akhirnya mereka mulai memutuskan untuk mendekati gadis itu.


"Ekhem"


"Ekhem,ekhem"


"Hei"


Mata Esya yang semula fokus pada bacaannya perlahan mulai mengalihkan pandangannya pada mereka, mengangkat satu alisnya seperti seseorang yang sedang bertanya 'ada apa?'.


"Boleh kenalan?" Tanya salah satu gadis itu mewakili yang lainnya


"Hn"

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, membuat ketiga gadis itu mengartikan hal tersebut sebagai pertanda iya.


" Aginta Watts panggil aku ginta"


" Beverly Hilton panggil saja aku eve"


"Sharon Stone panggil aku Zee"


Esya menatap ketiganya dengan intens seperti mencari keseriusan didalam mata mereka, setelah beberapa detik ia mengamati dengan sedirinya sedikit senyum itu mulai terukir di bibirnya, memperlihatkan kedua lesung miliknya.


"Aku Esya,Queenesya"


Masih dengan senyum yang merekah di wajahnya, membuat ketiga orang itu melongoh takjub akan senyum manis gadis didepan mereka itu.


"Sungguh, kau memiliki kedua lesung di pipimu" ucap Zee


"Bersyukurlah kau memilikinya dari pada aku tidak memiliki keduanya selain gigi gingsul" Ucap Ginta


Dari pengamatan mata Esya ia bisa menyimpulkan bahwa ketiga gadis yang ada di depan matanya itu merupakan Tipikal gadis yang banyak omong terlebih pada gadis yang bernama eve dan ginta, sedangkan gadis yang bernama panggilan Zee itu ia masih sedikit ragu akan hipotesisnya barusan.


"Baiklah mulai hari ini kita resmi menjadi sahabat"  teriak Ginta yang mulai mengalihkan pandangan seisi kelas


'Sahabat' pikir Esya berulang kali, baru kali ini ada yang mengatakan hal itu padanya, akankah kata itu tidak bersifat sementara seperti teman yang hanya datang ketika butuh saja.


"Kau berisik" ucap Zee dengan senyum yang terukir


"Esya, apa kamu memiliki nama belakang keluarga atau semacamnya?"

__ADS_1


Tanya Eve pada Esya setelah memikirkan pertanyaannya dengan matang.


"Ada hanya saja, aku tidak tau apa arti dari Hurup Itu"


"Hurup!!!" Ucap Ginta yang sekarang mulai dilanda oleh rasa penasaran


"Yah, nama belakangku disingkat menjadi  empat Hurup, M.H.C.V" ucap Esya dengan senyum tipis yang ia tampilkan.


"Bagaimana bisa!!!,lalu keluargamu?" Sekarang Zee yang mulai bertanya ia tau di balik senyum itu terdapat banyak rasa sakit, ia bisa mengetahui itu hanya dengan menatap sorot mata Esya.


"Aku tidak tau, tapi keluarga angkatku mengatakan jika aku sudah yatim piatu" ucap Esya sembari menundukkan kepala merutuki nasibnya


Setelah mengatakan itu, tubuhnya mulai menghangat ketika secara spontan ketiga gadis yang beberapa menit lalu baru ia kenal sekarang sedang memeluknya dengan erat, seperti layaknya seorang saudara.


"Le-pas,A-ku su-sah Na-pas" Ucap Esya dengan terbata-bata,hendak ingin menyadarkan ketiga gadis itu.


"Ah,maaf" ucap ketiga gadis itu serentak melepaskan pelukan mereka.


Entah apa yang ketiga gadis itu rasakan sehingga dengan tidak disangkah dalam hati mereka perlahan timbul rasa ingin melindungi Esya, gadis yang menurut mereka sangat rapuh seperti daun Puteri malu yang dalam sekali sentuh akan kembali Menutup dirinya.


"Mulai sekarang, kamu tidak akan merasa sendiri lagi"


"Karena sekarang ada kami yang akan selalu menemanimu"


"Karena itulah gunanya ikatan  persahabat"


Esya masih belum percaya, dengan apa yang telah terjadi hari ini. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa merasakan hal seperti ini, merasakan hatinya yang menghangat dan bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki ikatan persahabat yang sudah lama ia impikan.

__ADS_1


__ADS_2