QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 92 Tamu baru


__ADS_3

Evan mengendarai mobilnya memasuki halaman mansionnya, ia harus segera bergegas untuk melacak seseorang sesuai dengan informasi yang telah ia dapatkan tadi. Ia sudah menghubungi Angga dan menyuruhnya datang.


Ia turun dari mobilnya, setelah ia selesai memarkirkan kendaraannya dangan baik. Memasuki mansion tanpa membalas salam dari beberapa pelayan disana, fokus utamanya sekarang tiba di ruang pribadinya dan segera menjalankan rencananya.


Lama ia menunggu, pintunya terbuka menampilkan Angga dan Melsha yang baru saja datang. Angga sengaja membawa Melsha karena kekasihnya itu entah mengapa merengek meminta ikut bersamanya.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Aku punya informasi, siang tadi aku mendengar percakapan tentang mahasiswa pindahan yang Misterius"


"Aku juga mendengarnya dari Leon dan Briand tadi, orang itu sering menguntit Esya belakangan ini"


"Orang misterius, yah?" tanya Angga


"Hnm, aku penasaran bagaimana orangnya"


Melsha mengambil ponselnya dan mencoba untuk mengabari yang lain. Lantas ia langsung teringat bahwa ia memiliki janji dengan gan teman-temannya sore ini, sepertinya nanti adalah waktu yang tepat untuknya mengatakan hal itu.


"Ah, iya dua hari yang lalu Esya mendapat kotak misterius, ia sampai kaget dan tidak membiarkan kak Gion pergi"


"apa?! Dan tak ada satupun dari kalian yang memberitahu aku soal ini?"


"Kami pikir kau sibuk mencari tahu orang itu makanya tidak memberitahu"


"Jangan bilang kau juga tahu, Ga?"


"Aku juga baru tahu pagi tadi, jangan menyudutkan aku seolah-olah aku tahu lebih awal disini"


"Aku tidak bermaksud begitu"


"Sudah, hentikan. Jangan berantem, sekarang apa langkah berikutnya?"


"Aku masih belum memiliki rencana, bagaimana denganmu?"


"Kau pikir aku punya,hmn...."


Kesunyian Melanda ruangan itu, Evan berjalan kesana dan kemari sambil memangku dahinya, Angga menghabiskan waktunya untuk mengamati gerakan Evan yang mulai membuat kepalanya pusing, Melsha bermain dengan ponselnya sambil berbaring di sofa ruangan tersebut.


"Hmn...ini mulai membosankan. Bunny aku ingin pulang lebih dulu."


"Apa kau mau aku antar?"


"Tidak usah, lagipula aku tidak langsung ke rumah. Aku ingin mengunjungi Esya lebih dulu"


"Ah, baiklah. Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku, aku sayang kamu Bunny"


"Tentu, aku pasti akan memberi kabar, aku pergi dulu"


Melsha keluar dari ruangan Evan, menuruni anak tangga sambil tersenyum membalas sapaan dari beberapa pelayan mansion yang berlalu-lalang.

__ADS_1


Ia menuju ke arah mobilnya dan dengan segera menjalankan kendaraannya itu keluar dari teritorial mansion.


 Melsha memutar sebuah lagu untuk menemani dirinya sembari menyetir kendaraannya. Lantas karena saking fokusnya ia, tanpa sadar ia tidak menyadari bahwa sudah ada beberapa mobil yang melewatinya.


Karena terkaget, dahinya terkena stir mobil, ia mengumpat karena kesalnya.  Melsha menghentikan kendaraannya di pinggir jalan, ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi  Angga namun panggilannya tidak terjawab, sepertinya Angga dan Evan masih sibuk dengan urusan mereka, entah apa yang mereka lakukan sekarang ini.


Tok...tok...tok...


Seseorang mengetuk kaca jendela mobil Melsha, membuat gadis berketurunan China itu menoleh kearahnya. Melsha menekan tombol di samping kanannya untuk membuka jendela.


"Astaga, kau Melsha kan kekasihnya Angga? Apa yang terjadi padamu?"


"Tolong, antar aku ke mansion Esya. Ini alamatnya" ucap Melsha memberikan secarik kertas yang ada di dalam laci mobil


"Baik, kau bergeser lah,biar aku yang menyetir mobilmu"


Melsha bergeser ke sebelah, Leon mengambil ahli kursi kemudi, ia kemudian menjalankan kendaraan tersebut menuju ke alamat yang telah di berikan oleh Melsha tadi.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Tidak ada, aku hanya kurang konsentrasi tadi dan hampir menabrak pohon" bohongnya.


"Kau harus lebih berhati-hati lagi jika sedang berkendara. Memangnya, Angga kemana? Mengapa tidak mengantarmu?"


"Aku tahu, terima kasih. Angga sedang mengurus sesuatu, aku tidak ingin mengganggunya"


"Iya, aku tahu."


Kesunyian memenuhi seisi mobil itu, Melsha memilih untuk melihat keluar jendela mobil dan Leon fokus pada jalanan. 20 menit berlalu, Leon dan Melsha sudah sampai di depan gerbang mansion, gerbang itu terbuka dan Leon kembali menjalankan kendaraan dan memarkirnya.


Leon lebih dulu turun dari mobil dan membuka pintu untuk Melsha. Melsha turun, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Iya, terima kasih sudah membantu aku"


"Tidak apa, aku balik dulu"


"Tunggu, bukankah kau meninggalkan kendaraan mu di jalan tadi? Bagaimana kau akan pulang?"


"Tidak masalah, aku bisa menghubungi sopir untuk menjemput ku"


"Kalau begitu masuklah dulu, aku dekat dengan keluarga Esya jadi tidak akan ada masalah jika kau menunggu jemputan mu datang"


"Apa tidak akan merepotkan?"


"Tentu saja tidak, mereka orang yang ramah, kecuali kalau kau memiliki rencana busuk"


Melsha berjalan lebih dulu dari Leon, ia sudah terbiasa datang dan pergi, orang-orang seantero mansion juga sudah sangat mengenal sosok Melsha. Leon mengikuti arah langkah Melsha, sambil mengamati sekitar.

__ADS_1


"Kau duduklah dulu, anggap saja rumah sendiri"


"A-ha, iya."


"Siapa yang datang Sha?"


"Teman, Bun. Tadi gak sengaja aku ada masalah di jalan, untung ada dia Bun."


"Astaga, dahi kamu kenapa?"


"Gak papa,Bun. Tadi gak sengaja kejedot stir mobil"


"Astaga, makanya kalau nyetir hati-hati dong, untung gak papa"


Leon terus memperhatikan keduanya secara bergantian, Bunda Melan yang sejak tadi asik berbincang dengan Melsha menjadi tersadar dan menghampiri Leon yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Kamu Leon?"


"Ha-ha-ha, iya Tante"


"Makasih yah, udah nolongin Caca-nya bunda"


"Itu sudah seharusnya, aunty"


Leon sedikit menampilkan senyumnya, wanita di hadapannya ini sangat berbeda  dengan wanita yang sudah tinggal bersama ayahnya sejak 10 tahun yang lalu. Ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita yang baru ia kenal dan tentu saja Leon sangat tidak menyukai wanita itu, terutama ia memiliki seorang putri yang terus saja menempel  padanya seperti perangko.


Meskipun begitu, tidak bisa di pungkiri wanita yang di nikahi ayahnya bisa termasuk kedalam golongan orang tua tiri yang penyayang. Ia mendapatkan kasih sayang seorang ibu lagi dari wanita itu, Leon hanya tidak terima jika ada wanita lain yang merebut posisi mamanya.


"Bunda....kakak dimana?" Ucap Esya sedikit keras


"Sssst.... Jangan ribut sayang. Ada tamu"


"Eh, tamu?. Siapa yang datang Bun?"


"Teman kuliah kamu, tadi datang nganterin cha-cha"


"Siapa Bun?. hah Leon, Kok bisa?! Elsha-nya mana Bun? Kok gak keliatan"


"H-hallo Sya" sapa Leon


Leon menyapa Esya, di balas dengan senyum saja. Ia lalu berbalik dan ingin mencari keberadaan sahabatnya itu, ia harus mencari tahu bagaimana bisa Leon datang bersamanya, dan dimana Angga berada sekarang. Ia juga sepertinya akan memberikan beberapa umpatan pada lelaki itu nantinya jika rasa penasarannya sudah terbalaskan.


Tbc


Gaje,yah?


Maaf yah, author lagi banyak kesibukan nih readers ada upacara kematian di daerahnya author dari tanggal 06-18 nanti jadi pasti bakalan banyak jadwal deh.


Makasih yang masih nunggu cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2