
Perlahan namun pasti kedua kelopak mata itu mulai terbuka, menelusuri seisi ruangan itu, sembari ia menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu.
Didapatinya ketiga remaja yang terlihat tidak asing baginya, seorang berada di sisinya sedang tertidur sembari memeluk dirinya, pantas saja Esya sedari tadi merasa sedikit aneh . Lalu dua orang lagi tertidur di atas sofa yang tidak jauh dari tempat dimana ia berbaring.
Esya masih saja terus menatap remaja yang tertidur begitu pulas di sampingnya, Esya tidak tahu harus bagaimana sekarang, membangunkan cowok itu juga dirinya tidak berani.
"Sudah sadar Sy-......Gion!!! Dasar kau kepala batu bangun gak" teriak Zee refleks sambil menarik paksa tubuh Gion, namun sebelum itu Zee meletakkan nampan yang berisi semangkuk bubur dan teh hangat itu meja kecil yang ada di samping Esya
"Engh..." Ricau Gion dalam tidurnya
Dengan kesalnya Zee mulai menjewer telinga Gion, mengabaikan teriakan dari cowok itu, serta tatapan bertanya dari Esya yang masih setia menatap kedua manusia di depannya itu.
Ditariknya telinga Gion dengan begitu kerasnya hingga cowok itu terbangun, namun Zee belum ingin melepaskan jewerannya. Membawa Gion menjauhi Esya lalu menatapnya seraya meminta penjelasan.
"Heh bakpau, aku tidur di samping Esya karena sudah tidak ada tempat lagi"
Benar saja setelah Zee mulai mengamati ruangan ini yang hanya memiliki dua sofa itupun sudah diisi oleh Dion dan Kenned. Tidak mungkin Zee membiarkan Gion yang merupakan salah sstu tamu tidur di lantai yang dingin.
"Lagi pula, itu sah saja karena Esya adalah adikku"
"Darimana kau begitu yakin?" Sambil Zee mengangkat sebelah alisnya
"Karena ikatan batin itu tidak pernah salah"
Menurut Gion, itu adalah hal yang wajar- wajar saja, negara juga tidak melarang jika seorang kakak memeluk dan tidur bersama sang adik.
__ADS_1
Lagipula, kemarin hanya tinggal di sebelah Esya yang kosong. Kedua sofa sudah ditempati oleh kedua saudaranya itu. Padahal kemarin Gion hanya meninggalkan mereka sebentar, untuk sekedar ke toilet saja.
Namun ketika Gion kembali keduanya sudah tertidur lelap. Gion tidak ingin mengganggu tidur kedua saudaranya itu, terutama Dion sebagai kembarannya. Ia sadar selama ini hanya Dion yang begitu banyak menghsbiskan waktu untuk mencari adik mereka.
Mulai dari pelacakan sinyal dari gelang milik Esya, menghabiskan begitu banyak waktu didepan gadgetnya hanya untuk menunggu informasi dari orang kepercayaan mereka. bahkan sampai sekarang pun, Gion merasa gagal sebagai seorang kakak, Gion tidak bisa seperti Dion yang bisa tahu kapan waktunya ia harus serius dan kapan pula waktunya ia bermain-main.
Mengabaikan ucapan Gion, Zee mulai berjalan menuju ke sisi kanan dimana tubuh Esya terbaring. Memberi Esya senyuman, lalu menyapu pelan puncak kepala Esya dengan lembut.
"Aku kenapa?"
Mengabaikan pertanyaan Esya, masih dengan senyum yang hangat Zee mengambil nampan itu lalu memberikannya pada Esya yang masih menatap dirinya dengan begitu banyak pertanyasn.
"Makanlah" ucapnya yang masih setia berada di samping Esya
👯Queenesya👯
Gion menatap kedua gadis itu secara bergantian, sebelum ia mengalihkan pandangannya pada kedua saudara segendernya itu, dengan membawa spidol yang entah sejak kapan telah berada di genggamannya. Menatap kembali kedua gadis yang sudah memfokuskan pandangannya pada pergerakan dirinya
"Sssttth...."
Gion memberi isyarat pada kedua gadis itu, yang menandakan agar mereka diam, setelah berargumen beberapa menit dengan pikirannya tadi,Gion segera memutuskan untuk melaksanakan ritual jailnya itu pada kedua ssudaranya.
Dengan lihainya, Gion mulai melakukan ritual pertamanya itu pada permukaan wajah Ken yang entah bagaimana bentuk gambar yang telah ia ciptakan itu, karena hanya Gion dan Tuhan yang Tahu.
Setelah wajah Ken, sekarang ia beralih pada wajah kembarannya itu, di tatapnya wajah yang masih begitu nyenyak, namun sebelum ujung spidol itu mengenai wajah Dion, ia mulai menarik kembali niatnya itu. Jujur, Gion tidak berani untuk menjaili Dion. Bukan karena takut, hanya saja karena wajah identik mereka Gion merasa seperti menjaili dirinya sendiri.
__ADS_1
Tidak begitu lamapun, Ken akhirnya terbangun dari tidurnya di susul pula oleh Dion. Ken menatap heran kedua gadis yang sedang bengong melihat dirinya, lalu setelahnya pandangannya tertuju pada Gion yang mulai bangkit dan berjalan keluar ruangan tanpa berpamitan.
Didepan pintu kamar Gion berjumpa dengan kedua gadis lainnya, Ginta dan Eve yang menatap dirinya penuh selidik.
"Ada apa?" Tanya Ginta
"Sssttth.. diam aku sedang melarikan diri dari seorang badut berhidung merah"
"Eeeh..." Gumam mereka berdua
Seperti mengerti, kedua gadis itu mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya kedalam ruangan dimana Esya dan Zee berada.
Lantas pandangan mereka kembali tertuju pada sosok Ken yang masih saja bengong, ingin tertawa namun tidak memiliki keberanian, pasalnya mereka baru mengenal Ken dan lagi Ken adalah kakak kelasnya di sekolah.
"Ada apa?" Tanya Ken penasaran
Lalu dengan cekatan Eve mengambil sebuah cermin yang selalu ia bawa tasnya, lalu memberikan cermin itu pada Ken yang dengan sigap diterima olehnya.
Memandang wajahnya dengan bengong, tidak percaya akan apa yang ia lihat, bagaimana bisa wajah tampannya berubah menjadi seperti badut jelek berhidung merah, yang di takuti oleh saudaranya.
"GION!!!" Teriak Ken yang penuh penekanan
Setelah sadar akan apa yang terjadi, pantas saja mereka semua bengong melihat dirinya sedari tadi dan pantas pula Gion dengan cepat meninggalkan ruangan tanpa pamit lebih dulu.
Dengan penuh kekesalan, Ken mulai berjalan dengan langkah lebar, keluar mencari sesosok makhluk yang tidak memiliki jiwa seni, dan mengabaikan tatapan yang ada di sekitarnya. Tanpa ia sadari dirinya belum membersihkan permukaan wajahnya yang di benuho oleh tinta spidol.
__ADS_1