QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 88 Pertemuan keluarga


__ADS_3

Siang hari, di mansion Vondrienty sedang dikelilingi oleh hawa kurang mengenakkan. sejak kedatangan dua pasang orang tua yang begitu sangat di hormati. Tahun yang silih berganti, membuat wajah mereka semakin menua, kini bahkan keriput pada wajah sudah mulai terlihat jelas.


Kedua pria paruh baya itu sudah sejak 15 menit yang lalu berjalan kesana kemari, sedangkan yang lainnya duduk di sofa, raut wajah takut dan cermat terpancar jelas pada wajah keempat wanita itu, sedangkan ke dua pria dan ketiga remaja laki-laki itu menunggu kedua pria paruh baya itu angkat bicara.


"Jadi bagaimana bisa kalian lalai dalam menjaga cucu perempuanku?"


'oh, ayolah Opa, kami juga cucumu tahu' batin Gion


"Maafkan kami Opa, saat itu kami terlalu terbawa suasana. Awalnya, kami datang kesana karena tidak menemukan Esya di mansion, Evan membawa pergi princess tanpa memberi tau kami lebih dulu"


"Huh, kalian ini benar-benar.... Untung saja princess gak apa-apa"


Bunda Melan memeluk suaminya dengan erat, raut khawatir yang tidak bisa di sembunyikan oleh wajah ayu yang masih terlihat awet muda itu. Lucas, sebagai seorang suami dan ayah dari tiga orang anak tentu saja turut merasakannya.


"Tenanglah, sayang. Aku pasti akan melindungi putri kita, aku tidak akan biarkan apapun terjadi pada princess lagi"


"Kau berjanjian, aku tidak bisa jika harus kehilangan putriku lagi"


"Tentu, akan aku jaga putri kita dengan baik"


"Bunda tidak perlu khawatir, princess memiliki banyak pelindung di sekelilingnya. Ada kami juga, kami tidak akan membuat princess hilang dari pandangan kami, tidak untuk yang kedua kalinya"


"Benar, bunda percayakan saja semuanya pada kami. Kami pasti akan jadi pelindung princess"


Bunda Melan yang terharu memeluk kedua putranya, ayah lukas juga ikut memeluk ketiga, hal itu membuat Ken yang duduk tepat di samping Sasha, bundanya langsung memeluk tubuh bundanya.


"Ada apa?, tumben sekali sampai memeluk bunda" tanya Sasha


"Oh, ayolah bunda tak bisakah bunda membalas pelukanku dulu sebelum bertanya"


"Ah, baiklah. Sekarang ada apa?"


"Tidak ada, aku.hanya larut dalam suasana"


"Huh,kau ini. Tidak bisakah kau bersikap manis sedikit?"


"Ck, bunda pikir aku anak cewek"


"Dulu pas masih mengandung,dokter mengatakan jika bayinya berjenis kelamin perempuan. Eh, tau-tau pas lahiran yang keluar mala kamu"


"Jadi bunda gak mau punya anak cowok?"

__ADS_1


"Yah, bukannya gak mau cuma kalau punya anak cewek bisa di dandanin"


"Huh, bunda pikir aku percaya?, Enggak,yah."


Sasha tersenyum, menahan tawanya. Kenned, putra tunggalnya itu jarang-jarang akan bersikap manis seperti ini. Terkadang sikapnya akan jauh lebih dominan seperti ayahnya Andreas dari pada seperti dirinya.


Dari arah anak tangga, Esya menghampiri keluarganya. Ia baru saja selesai mengirim tugas kampusnya, Esya mengambil duduk diantara kedua Omanya, dan memberi kecupan pada kedua wanita paruh baya itu.


"Ini, ada apa yah? Apa aku ketinggalan sesuatu yang menarik?"


"Enggak, kok sayang. Kakak-kakak kamu itu sedang pengen dimanja aja"


"Eh, apa Iyah Oma? Tapi Masa sih, kalau kak Gio aku bisa makhlumin aja, tapi kalau kak Dio kok bikin ragu?" tanyanya sambil menopang dagu.


Esya hapal betul, bagaimana kepribadian ketiga kakaknya. Jika Gio ia masih bisa memaklumi namun jika berbicara soal Dio sepertinya itu bukanlah sifatnya, Dio begitu dewasa mau dalam tindakan maupun berpikir, berbeda dengan Gio.


"Mari kita bicarakan hal tadi di ruang kerja" ucap Opa Hans, lalu lebih dulu berjalan.


"Dio, Gio dan Ken. Kalian juga harus ikut"


Tambah Opa Robert.


"Oma, ada apasih? Kok sampai di bicarakan di ruangan, biasanya kan kalau ada suatu hal juga langsung di bahas bersama-sama"


"Enggak kok, sayang. Cuma masalah kecil aja, ada masalah di perusahaan"


"Aneh,"


"Kuliah kamu gimana sayang? Di kampus gak ada yang ganggu kan?"


"Ah,eh. Baik Oma, gak ada yang berani gangguin Esya juga. Kan ada kakak-kakak juga yang selalu stay di samping Esya"


Esya tahu memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya, namun ia mencoba untuk berpikir positif saja, berpikir bahwa mereka tidak memberi tahu karena itu semua juga demi kebaikannya sendiri.


"Princess mau ikut belanja gak, bareng bunda dan aunty?"


"Males,Bun. Pakaian Esya juga udah numpuk di lemari, bunda bareng aunty aja, Esya mau nyantai aja di kamar seharian, aku titip ice cream aja bun."


"Oh, yaudah sayang. Kamu istirahat aja"


Mari kita pergi ke sisi lain dari mansion ini. Ketegangan mulai melanda ruangan itu lagi, mereka sudah duduk di kursi masing-masing menunggu kedua pria tua itu berbicara.

__ADS_1


"Jadi,apa kalian sudah mengetahui siapa orang itu?"


"Belum,Opa. Identitas orang itu sangat sulit untuk di temukan"


"Kami juga berpendapat, bisa saja orang itu adalah salah satu saingan bisnis kita, mungkin ia memiliki dendam pada Opa atau pada Ayah"


"Saingan bisnis? Itu tidak mungkin, sejak ayah mengurus perusahaan ayah tidak pernah memiliki masalah dengan klien kecuali masalah dengan keluarga Petter dulu."


"Opa gimana?"


"Sepertinya ada, tapi Opa harus memastikan dulu, sebelum mengambil kesimpulan"


"Untuk sekarang, perketat penjagaan di sekeliling Esya, jangan sampai lengah sedikitpun"


"Baik, Opa"


Mereka kembali diam, Opa Robert dan Opa Hans memikirkan kembali kira-kira siapa orang yang memiliki potensi untuk menggangu keluarga mereka, pengalaman di masa lalu mereka, memang banyak. Apa lagi saat itu, sumber daya manusia begitu sangat minim untuk di temukan, banyak orang yang bersaing untuk mendapatkannya, termasuk keluarga mereka.


"Aku akan meminta beberapa anggota terkuat di markas untuk berada di sekeliling Esya"


"Yah, penjagaan memang harus lebih di perketat lagi jangan sampai kecolongan"


" Kami juga akan membantu dalam pemantauan dan penjagaan opa"


"Bagus, sekarang bubar. Princess bisa curiga jika kita terlalu lama  berada di ruangan ini"


Setelah mendapat perintah dari Opa Hans satu persatu dari merekapun meninggalkan ruangan, hingga hanya mereka berdua lah yang tersisa di dalam ruangan.


"Apa kau memikirkan hal yang sama?"


"Tentu, tapi kejadian itu sudah lama sekali. Mengapa mereka baru bergerak sekarang?"


"Entahlah, kejadian itu membuat keluarganya memiliki kesalahpahaman pada kita"


"Benar, bahkan sampai sekarang kita belum bisa menemukan mereka untuk menjelaskan hal yang sebenarnya"


"Huh, ku harapan semuanya berjalan dengan baik. Kita sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan seperti ini, aku ingin segera kembali dan menikmati senja bersama dengan istriku"


"Aku juga sama, sudah waktunya kita menikmati masa tua kita dengan tenang"


Mereka menghembuskan napas untuk menetralkan pernapasan mereka, berjalan ke luar ruangan dan menghampiri istri mereka masing-masing. Sangat terlihat jelas senyum yang menghiasi wajah mereka ketika melihat cucu perempuan mereka sedang bercanda gurau bersama.

__ADS_1


__ADS_2