
Didalam sebuah ruangan, ditempat dimana bahkan cahaya matahari saja sepertinya sudah tidak bisa menembus Rungan itu. Gelap, dan begitu panas sampai rasanya sekujur tubuh gadis itu sudah akan bermandikan keringat. Entah sejak kapan Esya berada di ruangan ini karena setahu Esya ruangan yang ia tempati tadi masih memiliki lampu penerang.
Esya, gadis itu hanya bisa mencoba bertahan dan berharap seseorang akan datang menyelamatkannya. Dirinya mulai merasa menyesal dikala mengingat bahwa ia pergi tanpa memberitahu mereka lebih dulu.
Rasa takut Esya semakin besar dikala tanpa sengaja ia mendengar derap langkah kaki yang perlahan semakin dekat kearahnya. Dengan cepat Esya mencoba untuk menutup matanya, ia sedikit meragu jika berani menatap mereka dan melihat siapa orang dibalik penculikan dirinya.
Tangan kekar itu menyentuh kulit mulus Esya di bagian dagunya, rasa sakit Esya tahan karena kuku panjang milik pria itu yang seperti sudah ingin menembus pori-porinya.
"Bawa dia sekarang" ucap pria itu
"Baik tuan"
Kedua pria lainnya langsung mengikuti apa yang di perintahkan oleh Sehan, ketua dari black shadow dan paman dari Aurel sendiri. Kedua pria itupun, membawa Esya keluar dari ruangan itu. Namun sebelumnya mereka terlebih dulu menutup mata Esya dengan kain hitam yang telah mereka siapkan sejak.tadi.
"Ck, akhirnya kunci untuk kehancuran kelurga Vondrienty ada padaku, seorang putri cantik yang begitu mereka rindukan"
Ucap Sehan dengan volume suara yang agak besar ditemani senyum sumringahnya
Esya yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sehan mulai memikirkan segala macam kemungkinan yang ada. Dirinya mulai bingung bercampur dengan rasa takut yang sudah menusuk dirinya sejak tadi.
Seorang putri!?, Tidak mungkin dirinya adalah Dia yang sudah lama mereka rindukan. Karena Esya sendiri sudah mendengar langsung dari keluarga Aurel kalau orang tuanya sudah lama wafat, Esya dirinya selama ini sudah hidup dalam kesendirian sebelum ia bertemu dengan keluarga Dion.
Setelah sudah beberapa menit melangkah Esya mendengar suara decitan pintu serta suara kendaraan. Esya langsung didorong masuk kedalam sebuah mobil dengan keadaan mata yang masih tertutup kain.
Perlahan tapi pasti, kendaraan yang tadi ia masuki mulai dinyalakan. Mobil itupun Mulai dijalankan. Esya tidak tahu kemana mereka akan membawanya pergi dan sekarang yang hanya bisa dilakukan oleh Esya adalah memasrahkan diri sendiri.
Apapun yang terjadi nantinya, Esya berharap masih bisa melihat matahari terbit untuk terakhir kalinya.
Trrtt....Trrtt...
Getar Ponsel milik salah satu orang itu berbunyi dengan cepat pria itu mengambil nya dan membaca nama yang tertera di layar ponselnya •Aurelies• nama keponakan tersayangnya.
"Hallo,princess"
"..."
"Iya, sabar yah sayang uncle bentar lagi sampai"
"..."
"Iya-iya sabar yah sayang"
Trrtt... trrt...
__ADS_1
Pria yang tidak lain adalah Sehan melirik Esya sekilas lalu tersenyum sumringah. Entah apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya yang jelas akan membuat suatu keluarga turut merasakan kesedihan yang mendalam tentunya.
Tak beberapa lama setelah hampir 2 jam lebih perjalanan, mereka akhirnya tiba di salah satu perbukitan yang lumayan terjal. Tanah yang licin karena bebatuan serta deretan pepohonan disisi kiri dan kanan menambah kesan lain dari sana.
Mobil yang mereka kendarai tadi berhenti didepan sebuah gubuk tua. Didepan gubuk itu sudah ada Aurel dkk.a yang sudah sejak tadi menanti kedatangan mereka. Terlebih oleh Aurel sendiri yang merupakan dalang dari rencana ini tentunya.
Disisi kiri ada Clara dan disisi lainnya ada
Rebecca. Mereka berdua hanya mengikuti rencana yang sudah lama di buat oleh Aurel meskipun pada awalnya mereka agak sedikit ragu.
Mengingat seberapa sayangnya Dion dkk.a pada Esya. Bukan sayang seperti layaknya remaja masa kini, yang mereka berdua lihat Dion dkk.a khususnya ketiga lelaki itu menyayangi Esya seperti sosok seorang kakak pada adiknya sendiri.
Mereka berdua menyadari hal itu. Mereka Akui jika sifat mereka kadang kala suka membuat banyak orang kesal, hanya saja apa daya mereka yang harus mengikuti Aurel karena kekuasaan keluarga Petter yang masih berada di atas mereka.
"Apa kau benar mau melakukannya?" tanya Becca
"Menurutmu!?"
Aurel berjalan menghampiri pamannya yang baru saja turun dari kendaraan. Disusul dengan kedua pria lainnya yang sedang menyekap Esya dengan keadaan mata yang masih tertutup dan tangan yang terikat.
"Apa benar Aurel serius ingin mencelakai Esya?" tanya Becca lagi
"Tidak tau. Aku lebih kuatir dengan apa yang akan menimpah kita nantinya" jawab Clara dengan penuh kekuatiran
"Kau benar, kalau saja bisnis ayah tidak berada di bawa kendali tuan Petter aku tidak akan mau mengenal dia"
Rumornya Aurel memiliki sedikit kelainan dimana sewaktu-waktu jika permintaannya tidak di kabulkan ia tidak akan segan-segan mencelakai dirinya sendiri. Seperti memberikan goresan kecil pada kulitnya lalu mencicipi darahnya sendiri seperti seorang vampir ataupun semacamnya itu.
Sekiranya begitulah yang Becca dan Clara ketahui. Mereka juga beberapa kali menyaksikan sendiri tindakan Aurel di ruftop sekolah. Ketika setelah hari dimana Aurel berbicara dengan Dion dan mendapati Dion memeluk Esya dibelakang sekolah.
Padahal usia mereka lebih tua setahun dari Aurel namun disini justru bukan merekalah yang mengatur. Semuanya ad Adi tangan Aurel dan harus seperti kehendak gadis itu juga.
Tidak beberapa lama, sekarang Esya dibawa masuk kedalam gubuk kecil itu. Matanya masih tertutup rapat, Esya tidak tahu sekarang ia berada dimana, udaranya dingin dan menembus kulitnya.
'hiks...Tolong Esya kak, Esya takut disini' batin Esya berharap semoga isakkannya bisa terdengar oleh mereka, meskipun menurut Esya itu adalah hal yang tidak mungkin.
🌺 Queenesya🌺
Kedua lelaki itu mulai semakin gelisah perasaan mereka sudah begitu tidak karuan. Dion yang sejak tadi berjalan ke sana dan kesini di depan ke empat wanita paruh baya yang sudah semakin kuatir dengan kondisi Esya saat ini juga.
Kemarin malam Gion tidak sengaja membocorkan perihal tentang penculikan Esya di telpon ketika aunty Sasha menelpon dirinya. Dan disinilah mereka sekarang, di mansion keluarga Vondrienty.
Sejak mengetahui jika Esya menghilang lebih tepatnya diculik orang perasaan mereka jadi semakin kuatir. Bahkan kemarin malam bunda Melan sampai tidak sadarkan diri ketika mengetahui hal tersebut. Ayah Yohan, Opa Robert dan juga Opa Hans sedang berada di markas militer mencoba untuk mencari tentang lokasi keberadaan Esya dan siapa yang ada di belakang kejadian ini.
__ADS_1
Kedua remaja laki-laki itu saling menatap seperti ingin memberitahu hal sama satu sama lain. Kenned sedang sibuk bersama dengan sang ayah di ruangan khusus untuk membicarakan langkah apa yang akan mereka ambil berikutnya.
Jika saja Oma Hellen masih segesit dulu sudah dipastikan jika dirinyalah yang akan langsung turun tangan menerobos kedalam markas Black shadow dan menghancurkan semuanya. Namun, sayang sekarang kecepatannya sudah mulai menurun termakan usianya.
"Apa kau mendengar suara Esya?"
"Yah, aku seperti mendengar suaranya barusan"
Dion dan Gion semakin percaya bahwa Esya adalah benar adik mereka. Karena Tidak mungkin bisa kebetulan seperti ini mendengar ucapan yang sama persis.
Trrttt...trrttt...
Getar ponsel pertanda adanya pesan masuk membuat Gion langsung dengan gesit membuka isi pesan itu. Awalnya ia mengira bahwa pesan itu berasal dari orang kepercayaan mereka ternya hal itu berbeda dengan kenyataan yang ada di depannya sekarang.
Message
Unknow:
Ingin melihat pertunjukan menarik!?
Datanglah besok ke bukit Hollywood
Pesan singkat itu berasal dari nomor yang sama sekali tidak diketahui oleh Gion. Dengan cepat Gion memberikan ponsel tersebut kepada Dion kembarannya yang lebih jago dalam bidang teknologi dari dirinya.
"Bagaimana? Apa lokasi Esya sudah diketahui?" tanya Bunda Melan dengan dipenuhi rasa kekuatiran yang dalam layaknya sebagai anak dan ibu kandung sendiri.
"Bunda tenang yah, Dio akan coba melacak asal lokasi dari pesan ini" ucap Dion sembari mencoba menenangkan kondisi sang bunda.
Untung saja hasil tes lab belum keluar sekarang, jika sampai keluar pasti kondisi para wanita itu akan semakin parah, terlebih kondisi bunda Melan sebagai orang tua kandung Esya
"Ayo Gio, ikut aku. Kita harus segera bergerak cepat."
"Ya, kau benar. Bagaimana dengan Ken?"
"Sepertinya sebentar lagi dia akan menyusul kita. Kau dapat menghubunginya bukan?"
"Kenapa bukan kau saja?"
"Kau lupa? Aku sudah membanting ponselku tempo hari"
"A-ha iya aku sampai lupa akan hal itu"
Gion baru mengingat tentang nasib buruk yang menimpah ponsel kembarannya itu. Pantas saja sejak kemarin selalu dirinya yang menjadi perantara sarana komunikasi. Padahal sebelumnya untuk menyentuh ponselnya saja Gion kadang malas, dalam sehari saja Gion lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan video gamenya dari pada ponselnya sendiri.
__ADS_1
Dion juga sama seperti Gion tidak terlalu mementingkan Ponsel, ia hanya menggunakan ponselnya seperluhnya saja. Jika dirasa tidak ada hal yang penting maka kedua saudara kembar itu
Sama sekali tidak akan menyentuh ponselnya.